Oleh: Mas Abiem
Mantan ketua OSIS SMA Katolik St. Josef Freinademetz SMAFREND)-Tambolaka, Sumba Barat Daya 2024/2025
Sinopsis:
Mas Abiem meninggalkan kota dan rutinitas kehidupannya yang terasa kosong. Di Sumba Barat Daya, ia tidak hanya menemukan sabana yang luas, tetapi juga ruang sunyi yang perlahan membawanya pada dialog jujur dengan dirinya sendiri.
Ia berjumpa dengan Mikael—anak desa yang mengajarinya arti keberanian. Bertemu Talu—guru muda yang memiliki rumah tanpa pintu dan hati yang tidak mengunci siapa pun. Melalui kehidupan desa, ia belajar bahwa makna hidup tidak terletak pada kesempurnaan—melainkan pada keberanian untuk hadir, meski hati sedang gemetar.
Konflik batin muncul ketika Abiem harus kembali ke kota. Apakah cahaya dari Timur akan padam di tengah hiruk pikuk dunia lama? Atau… justru sabana itu akan ia temukan di dalam dirinya sendiri?
Novel ini menuturkan bahwa pulang bukan soal tempat — tapi soal keberanian untuk menerima pertanyaan yang tidak harus segera dijawab. Karena terkadang, perjalanan batin manusia tidak membawa kemenangan — tetapi membawa keutuhan.
“Aku tidak mencari jawaban.
Aku hanya belajar mendengarkan langkah kakiku sendiri.”
Angin dari Laut Selatan
Setiap pagi, angin membawa aroma garam dan bisikan yang samar. Seakan-akan lautan menyampaikan pesan, “Kenali dirimu sebelum dunia mengenalmu.” Kata-kata itu melekat seperti bayang-bayang di benak. Saat langkahku berdebu di jalan tanah, saat tatapanku jatuh pada wajah-wajah yang sederhana, aku menyadari bahwa kesederhanaan bukan kekurangan—ia adalah bentuk kedalaman yang jarang disadari.
Anak-anak berlarian di bawah matahari yang menyengat, tertawa tanpa beban. Seorang petani tua menyapa tanpa menanyakan nama. Ia hanya berkata, “Silakan duduk. Di sini, semua orang punya tempat.”
Dan entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti doa.
Iya..Sumba mengajariku mendengar suara yang tak terdengar—suara dari dalam dada. Di malam hari, jangkrik bernyanyi dan angin melintasi rerumputan, mengantar keheningan. Aku lebih banyak diam. Bukan karena tak tahu harus berkata apa, tapi rasa-rasanya kata-kata tak lagi cukup.
Aku sering duduk di tepi tebing, memandang laut biru yang luas. Di sana, aku mendengar pertanyaan yang tak pernah berani kuungkapkan:
Siapa aku sebenarnya? Apakah hanya sebuah nama? Sebuah perjalanan? Atau jiwa yang masih mencari arah?
Kadang, aku merasa seperti daun yang hanyut di sungai musim hujan: ringan, rapuh, dan mudah terbawa arus. Namun setiap matahari tenggelam dan langit berubah menjadi jingga, aku merasa dituntun. Mungkin benar… bahkan matahari pun tahu kapan harus tenggelam agar bintang-bintang bisa bersinar.
Pertemuan
Suatu sore, aku bertemu dengan seorang guru muda lokal bernama Talu. Ia mengajar di sekolah kecil di balik bukit.
“Aku tidak mengajar matematika atau bahasa,” katanya sambil tersenyum. “Aku hanya mencoba mengajar anak-anak agar percaya bahwa mereka berharga.”
Kami duduk di bawah pohon lontar. Ia bercerita tentang murid-muridnya, tentang mimpi kecil mereka, tentang harapan yang seringkali dianggap tak mungkin oleh orang kota. Talu berkata pela: “Kadang kita tidak harus besar untuk menjadi berarti. Cukup tulus dan setia pada panggilan hati.”
Kalimat itu menikam, namun hangat. Aku melihat, di mata seorang guru sederhana itu, cermin yang memantulkan wajahku—wajah seseorang yang sedang belajar untuk menerima dirinya sendiri.
Pertemuan dengan Pak Guru Talu menyiratkan kenangan yang mendalam. Dan hari-hari berjalan..Aku merasa tak menemukan apa pun, tapi juga merasa kehilangan lebih sedikit.
Mungkin, memang begitulah proses pulang: tidak selalu berupa jawaban, tapi penerimaan.
Aku berjalan menyusuri sabana saat senja datang perlahan. Langkahku pelan, tapi pasti.
Sebagian diriku yang selama ini sembunyi, muncul perlahan bersama cahaya lampu-lampu rumah warga yang menyala satu per satu. Aku mulai mengerti: mungkin jati diri tidak ditemukan di tempat yang jauh—melainkan dalam keberanian berjalan, meski tak tahu tujuan akhirnya.
Dan entah mengapa, malam itu aku tersenyum. Untuk pertama kalinya, dadaku terasa lapang.
Hari terakhir sebelum aku pergi, angin bertiup lembut. Seakan alam hendak berkata sesuatu untuk terakhir kalinya. Lalu aku mendengarnya—bukan dari luar, tapi dari dalam diriku sendiri:
“Teruslah mencari, Abiem. Bukan karena kau tersesat… tapi karena kau sedang pulang.”
Aku menutup mata. Ada hangat yang tidak bisa dijelaskan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak takut pada perjalanan.
Karena aku tahu — aku sudah mulai pulang, bukan hanya ke Sumba… tetapi kepada diriku sendiri.
Lelaku Sunyi
Pagi di Sumba tak pernah terburu-buru. Matahari muncul seperti seorang ibu yang membangunkan anaknya pelan-pelan, tanpa suara. Begitu berbeda dengan kota tempat aku berasal, di mana hari dimulai dengan tergesa, bunyi klakson, dan pikiran yang bercabang sebelum sarapan.
Aku mulai terbiasa berjalan sendirian menyusuri jalan setapak menuju desa kecil bernama Lendewa. Debu jalan menempel di kaki, tapi anehnya aku merasa bersih. Di balik rumah-rumah kayu yang sederhana, aku melihat kehidupan berjalan tidak tergesa. Tak ada papan nama kafe, tak ada baliho besar, tak ada lampu sorot buatan—hanya langit yang menjadi atap luas, dan senyum manusia yang menjadi penerang.
Suatu pagi, aku menatap sabana yang bergulung seperti lautan beku. Seorang anak laki-laki bertubuh kurus muncul dengan seikat kayu bakar di pundak. Aku mengenalnya—namanya Mikael, murid dari Talu, guru muda yang pernah bercerita padaku tentang keyakinan sederhana: bahwa setiap manusia berharga.
“Kamu tidak sekolah hari ini?” tanyaku.
“Sekolah libur, Pak. Guru kami sakit. Jadi saya bantu Ibu.” Kata-katanya jernih, seperti sungai kecil di musim hujan.
Aku mengangguk, dan entah kenapa sebuah pikiran muncul: dunia ini mungkin tidak adil, tapi tempat-tempat seperti ini mengajarkan untuk tidak menyalahkan siapa pun.
Mikael menatapku sesaat lalu berkata,
“Kata Guru Talu… kalau kita berjalan, jangan cuma pakai kaki. Pakai hati juga, biar tidak capek.”
Aku terdiam. Sungguh, kadang dunia tidak butuh filsuf—ia hanya butuh anak kecil yang berani berbicara dari hatinya.
Senja yang Memberi Petunjuk
Hari keempat belas. Langkahku terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukannya lelah, tapi pikiranku mulai menyiapkan kepergian. Aku tahu, suatu saat aku harus kembali ke kota. Kembali ke rutinitas, deadline, target, dan tatapan orang-orang yang menuntut jawaban atas pertanyaan yang bahkan belum sempat aku ajukan pada diriku sendiri.
Sore itu, aku duduk di tebing yang menghadap laut selatan. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya—seakan hendak mengusir atau menguji aku. Di langit barat, warna jingga menetes perlahan seperti darah yang mengalir di atas perban.
“Kau takut pulang?”
Sebuah suara terdengar. Bukan dari luar. Dari dalam. Tapi terasa seperti orang lain ikut duduk di sampingku.
Aku tidak menjawab.
“Kau takut pulang… karena kau belum yakin punya jawaban yang bisa kau bawa pulang, bukan?”
Dadaku berdesir. Jeritan kecil dari batin yang lama sembunyi mulai muncul, berjalan tanpa aku undang. Lalu aku berkata pelan, “Bagaimana kalau aku belum menemukan jawabannya?”
Suara itu menjawab — pelan tapi tegas:
“Siapa bilang kau harus punya jawaban? Pulang… tidak selalu butuh alasan. Kadang, pulang itu panggilan.”
Langit perlahan berubah ungu. Senja jatuh seluruhnya di pelupuk, tapi tak membuatku gelap. Mungkin—aku mulai terbiasa dengan cahaya yang perlahan pergi.
Rumah Tanpa Pintu
Malam terakhir sebelum aku tinggalkan Sumba, Pak Guru Talu mengundangku makan di rumahnya. Rumah Talu tidak berpintu. Hanya selembar kain lusuh yang menggantung di ambang masuk, bergerak pelan setiap kali angin datang dari arah sabana. Aku tidak langsung bertanya mengapa tak ada pintu. Aku hanya menatapnya lama, seolah pintu itu sedang mengamatiku lebih daripada aku mengamatinya.
“Mari masuk, tidak usah sungkan,” ucap Talu seraya tersenyum. Suaranya tenang, tidak tergesa, seperti air sungai yang tahu ke mana ia akan bermuara.
Aku menatap sekeliling. Rumahnya sederhana: dinding dari papan kayu, lantai masih tanah, dan dapur tanpa sekat. Namun, tak ada kekurangan yang terlihat mencolok. Kesederhanaan itu justru terasa… utuh.
“Apa kau tidak takut, Pak Guru? Rumahmu tidak berpintu. Dunia ini tidak selalu ramah.”
Talu menatapku sebentar, lalu menatap angin yang masuk dari jendela, seperti menimbang jawabannya.
“Takut itu wajar, Mas. Tapi kalau hidup selalu dikunci karena takut… bukankah itu sama saja seperti tidak hidup sama sekali?”
Aku terdiam. Kalimatnya jatuh perlahan, tapi menghantam tepat di dada.
“Rumah ini memang tak berpintu,” lanjutnya, “karena aku ingin belajar menerima. Kalau angin yang masuk dingin, aku belajar hangat. Kalau angin membawa debu, aku belajar bersih. Kalau tamunya baik, aku belajar syukur. Kalau tamunya tidak baik… aku belajar sabar.”
Aku menelan ludah. Seperti baru mendengar sebuah kebenaran yang selama ini terlalu sering kuabaikan.
Talu tersenyum sangat tipis—senyum orang yang sudah lama berdamai dengan hidup.
“Mas Abiem tahu? Hidup ini bukan soal mencari tempat yang aman. Tapi mencari hati yang berani tetap lembut, bahkan saat ia sedang gemetar.”
Aku ingin menjawab, tapi dada terasa sesak. Seakan ada pintu dalam diriku yang lama terkunci dan kini mulai berderit terbuka—pelan… tapi berani.
Kami duduk di lantai, menyantap ubi rebus dan air hangat. Tidak ada bumbu. Tidak ada lauk lain. Tapi entah mengapa, rasanya sangat cukup.
“Pak Guru…” ucapku pelan, “apa kau tidak ingin pergi dari sini? Mencari kehidupan yang lebih baik?”
Talu menatap langit. “Aku sudah hidup,” jawabnya. “Dan aku masih terus belajar. Apa itu tidak cukup?”
Aku terdiam. Aku yang selama ini mengejar ‘sesuatu’… tiba-tiba merasa sangat kosong di hadapan orang yang tidak mengejar apa-apa.
Di malam itu, aku belajar satu hal penting: Bahwa keheningan bisa menjadi guru….Dan guru sejati… tidak menggurui.
Pertarungan Sunyi
Malam turun perlahan, seperti selimut tipis yang menenangkan tapi tak sepenuhnya menghangatkan. Aku duduk sendirian di tebing yang menghadap sabana. Dari jauh terdengar suara jangkrik seperti doa panjang yang tidak pernah diminta, tapi tetap dilantunkan. Di tengah sunyi itu, aku merasa tidak sendirian — meski tak ada satu manusia pun di sekitarku.
Di sinilah aku mulai mendengar suara yang tak datang dari luar. Suara yang selama ini ingin kudiamkan. Suara itu bukan milik siapa pun… tapi milikku sendiri.
“Kau akan pulang ke kota, Abiem. Tapi sudahkah kau pulang ke dalam dirimu?”
Pertanyaan itu terdengar dingin. Aku ingin membantah, tapi diam terasa lebih jujur. Angin malam menusuk, tapi rasanya bukan tubuhku yang menggigil — melainkan hatiku.
“Kenapa aku gelisah?” batinku bertanya.
Lalu suara itu menjawab, “Karena kau ingin pulang dengan jawaban. Padahal… pulang tidak selalu butuh jawaban. Kau hanya perlu berdamai dengan pertanyaan.”
Aku menunduk. Untuk pertama kalinya, aku sadar: musuh terbesarku bukan dunia… tapi diriku sendiri.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang janggal — seperti ada dua sosok dalam diriku. Yang satu ingin pulang dengan kebanggaan, membawa narasi kemenangan di atas luka. Yang satu lagi ingin berhenti mengejar apa pun… dan hanya berjalan tanpa beban.
Malam itu seperti cermin besar, dan aku melihat dua wajahku sendiri: Wajah Abiem yang lama ..yang mencari pengakuan untuk mendapat sorotan dan pujian … dan wajah Abiem yang baru yang mencari ketulusan di keneningan senja Sabana Sumba.
Aku tidak tahu yang mana diriku. Aku hanya tahu… aku takut kehilangan keduanya.
Dalam kegelisahan itu, samar-samar teringat kata-kata Pak Guru Talu:
“Kadang manusia takut hening… karena dalam hening, kita tak bisa bersembunyi dari diri sendiri.”
Aku mulai sadar — justru di tempat yang paling sunyi, manusia akhirnya bertemu dengan suara batinnya. Suara yang selama ini dikalahkan oleh kebisingan, rutinitas, ambisi, dan pencitraan.
Aku menutup mata. Lalu dengan sangat perlahan… aku mengizinkan suara itu berbicara.
“Abiem, berhentilah mencari alasan untuk pulang. Berjalanlah… karena perjalanan itu sendiri adalah rumahmu.”
Aku tidak menangis. Tapi malam terasa sangat hangat — meskipun angin bertiup dingin.
Aku mulai paham… mungkin benar kata Pak Guru Talu: hati yang terbuka tidak butuh pintu. Karena pintu yang dikunci… hanya menyimpan ketakutan. Tapi hati yang berani terbuka… menyimpan kepercayaan.
Dan malam itu… untuk pertama kalinya, aku berani membuka pintu itu. Pelan-pelan. Tanpa menyesal.
Suara itu terus bergema dalam relung kalbuku : “Pulang bukan tentang menemukan jawaban — tapi tentang berhenti lari dari pertanyaan.”
Senja yang Menjawab
Senja terakhir sebelum aku meninggalkan Sumba datang dengan warna yang berbeda. Tidak hanya jingga — ada ungu, merah, dan seberkas emas yang jatuh tepat di gulungan sabana. Seakan langit ingin menyampaikan sesuatu sebelum aku pergi.
Kali ini aku tidak duduk sendiri. Ada suara di sebelahku — bukan suara dari luar, bukan pula suara Talu — melainkan suara yang lahir perlahan dari dalam diriku sendiri.
Aku tahu, inilah waktunya: aku harus berbicara pada diriku… dan berhenti melarikan diri.
Angin berhembus pelan. Suara itu mulai berbicara.
Diri : Kau akan pulang. Tapi, pulang untuk apa?
Abiem : Untuk melanjutkan hidup… untuk kembali bekerja… kembali menjadi seseorang.
Diri : Seseorang? Atau sesuatu yang ingin dipuji?
Abiem : (Sunyi beberapa saat) Aku… tidak tahu lagi bedanya.
Diri : Itulah alasan kau datang ke sini, bukan? Mencari batas antara “hidup” dan “dihidupkan oleh tuntutan”.
Abiem : Lalu… apa yang sudah kudapat? Apa aku sudah menemukan jawabannya?
Diri : Tidak perlu jawaban. Yang kau butuhkan… hanya keberanian untuk menerima dirimu apa adanya.
Abiem : Dan… bagaimana caranya?
Diri : “Belajarlah dari matahari… ia tenggelam setiap sore, tapi tak pernah menganggap dirinya kalah.” Ia memberi tempat pada bintang… agar langit tetap hidup.
Abiem : Jadi aku harus tenggelam?
Diri : Tidak. Kau hanya perlu berhenti takut pada gelap. Karena cahaya yang sejati… justru menyala di dalam gelap.
Abiem : (Jeda panjang. Angin berhenti. Mata menghangat.)…aku mengerti. Hidup bukan soal memenangi perang… tapi berdamai dengan luka.
Diri : Dan untuk berdamai… kau tak perlu sempurna. Kau hanya perlu berani pulang ke diri sendiri. Itu saja.
Abiem : (perlahan menatap senja) Aku… tidak lagi takut.
Diri : Maka kau sudah bertemu dengan dirimu. Itu sudah cukup untuk hari ini.
Senja itu menjadi saksi. Bukan atas kemenangan… tapi atas keberanian untuk tidak lagi mencari kemenangan. Tidak ada sorak, tidak ada tepuk tangan — hanya bisikan sabana yang seakan berkata:
“Selamat datang, Abiem… kau tidak lagi tersesat.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku bukan hanya melihat cahaya.
Aku merasakannya — di dalam dada sendiri.
Yahhh…(gumamku) “Matahari tidak pernah kalah. Ia hanya memberi ruang bagi cahaya lain untuk bersinar.”
Kota yang Tidak Berubah
Pesawat mendarat. Suara klakson dan lampu-lampu kota menyambutku lebih cepat dari langkah kakiku. Bangunan-bangunan tinggi menyembunyikan langit, dan aku tahu: aku sudah kembali pada kehidupan yang dulu aku tinggalkan.
Tapi kali ini aku mendengar dunia dengan telinga yang berbeda.
Dan mungkin… dengan hati yang baru.
Di kota, kecepatan adalah nafas. Orang-orang berjalan sambil melihat jam, sambil mengetuk layar ponsel, sambil mengukur hari dengan target. Bahkan senyum pun terasa seperti strategi.
Hari-hari pertama terasa berat. Bukan karena kota berubah, tetapi karena aku menyadari — justru akulah yang berubah. Kontras itu menusuk pelan. Seperti ingin menguji, apakah cahaya dari Sumba bisa bertahan di ruang yang minim langit.
Aku membuka kembali catatan harian yang kutulis di Lendewa. Di lembar pertama, tertulis kalimat dari Talu:
“Tenangkan dirimu. Ingat, Mas, hidup ini bukan kedahsyatan — tapi kehadiran.”
Aku bernafas panjang. Kali ini, tidak terburu-buru. Aku berjalan tanpa tujuan. Tapi anehnya, tidak merasa tersesat.
Ternyata, pulang bukanlah akhir. Pulang justru adalah awal dari perjalanan yang sebetulnya.
Dan aku sadar… tugas sesungguhnya bukan mencari tempat yang damai,
tetapi membawa damai itu ke tempat yang sedang gaduh.
Menemukan Sumba dalam Diri Sendiri (Epilog)
Malam terakhir di kota. Aku mematikan lampu. Tirai kamar tertutup rapat, tapi tidak terasa gelap. Aku mendengar suara sabana — bukan dari luar, tapi dari dalam ingatan.
Pak Guru Talu pernah berkata: “Sumba… tidak akan kau temukan di peta. Tapi kalau kau berani sunyi, kau bisa menemukannya di dalam dada.”
Aku tersenyum. Kali ini, tanpa takut.
Aku memejamkan mata sebentar — dan sabana itu muncul: angin hangat, warna kuning emas, dan senja yang tidak tergesa. Mikael berlari sambil membawa kayu bakar. Talu duduk di ambang rumah tanpa pintu. Ibu Mikael tersenyum tanpa kata.
Mereka tidak pergi. Mereka tinggal. Bukan di ruang…tapi di ruang hati yang kini tak lagi terkunci.
Dan saat itu aku paham:
Aku tidak sedang meninggalkan Sumba. Aku membawanya pulang.
Beberapa air mata jatuh. Tapi bukan karena sedih. Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup… aku merasa sampai di rumah — tanpa harus mencari rumah.
“Pulang ke Diri: Nyanyian Sunyi di Sabana Sumba” Bukan hanya judul perjalanan ini. Tapi cara baru untuk melihat hidup.
Hidup bukan soal mencapai puncak. Bukan soal menjadi hebat. Bukan soal menang.
Hidup adalah keberanian untuk berjalan… dan tidak lagi bersembunyi dari hati sendiri.
Dan malam itu, sebelum tidur… aku menulis kalimat terakhir dalam catatanku:
“Aku tidak sedang tersesat. Aku hanya sedang pulang — kepada diriku sendiri.”

