Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Pendidikan Ramah Anak dalam Persepsi Budaya Manggarai
Gagasan

Pendidikan Ramah Anak dalam Persepsi Budaya Manggarai

By Redaksi28 Desember 20255 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Andra Geraldo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Andra Geraldo

Siswa dari Seminari St Yohanes Paulus Il Labuan Bajo 

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam tatanan hidup manusia dewasa ini. Pendidikan mempunyai peran penting dalam mengubah kepribadian orang lain menjadi lebih baik lagi, baik dalam pengetahuan maupun emosional. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia (Marianus Mantovanny Tapung, 2013:3).

Pendidikan merupakan sarana agar manusia dapat bertumbuh dengan pengetahuan dan bakat yang dimiliki dalam diri. Dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah homonisasi yakni sebuah proses mengembangkan manusia menjadi lebih manusia, artinya bahwa pendidikan hadir untuk membantu manusia untuk semakin mampu menjadi pribadi yang baik, baik secara intelektual maupun karakter.

Pendidikan tidak hanya tentang teori, tapi jauh lebih dari itu yakni hal-hal praktis, pendidikan mesti mampu diaktulisasikan dalam keseharian hidup manusia dewasa ini, jika tidak maka pendidikan akan berakhir sia-sia. Pendidikan tidak hanya mencakup intelektual, tetapi juga mencakup karakter dan spritualitas seseorang, salah satu pendidikan yang telah dicetuskan oleh pemerintah dewasa ini ialah Pendidikan Ramah Anak.

Pendidikan Ramah Anak ini merupakan suatu metode pendekatan dalam mendidik seorang anak, mendidik anak adalah long march, jangka panjang, tidak perlu terburu-buru, biarlah anak berkembang dengan tahapan-tahapan yang benar (Jarot Wijanarko, 2006:93). Dalam pendidikan ramah anak ini orang tua dan lembaga pendidikan diminta agar mampu membatasi hukuman fisik terhadap seorang anak.

Anak menjadi agen masa depan yang mesti dijaga dan dididik dengan baik, maka dari itu untuk mendidik anak dengan baik perlu adanya pendekatan yang baik dari orang tua dan lembaga pendidikan agar mampu membawa seorang anak pada hidup yang lebih baik. Pendidikan ramah anak menginginkan agar dalam proses mendidik tidak adanya hal-hal yang membuat anak menjadi tertekan atau terbebani, pendidikan anak membuat anak menjadi terlindungi dari perlakuan kekerasan yang menimpa mereka. Pendidikan ramah anak dibuat agar anak-anak tidak.

Mendapatkan hukuman yang berlebihan dan bertumbuh dengan baik tanpa adanya tekanan dan gangguan dari luar, maka dari itu penting bagi orang tua dan lembaga pendidikan untuk mendidik anak dengan metode pendidikan yang baik demi menjaga masa depan seorang anak.

Dalam perkembangan dunia pendidikan, budaya yang telah muncul sejak awal mempunyai peran yang sangat penting dalam mendidik seorang anak. Budaya mempunyai dampak yang besar dalam membantu proses pertumbuhan seorang anak melalui kebiasan-kebiasan yang dibangun oleh masyarakat itu sendiri. Marx menyetujui bahwa manusia adalah makhluk yang berbudaya dan pengertian.

Kebudayaan merupakan perubahan dalam hidup dan tingkah laku manusia (Jarot Wijanarko, 2006:93). Budaya merupakan satu hal yang tak dapat dipisahkan dari hidup manusia dewasa ini khususnya dalam dunia pendidikan. Manusia dapat bertumbuh dan melakukan sesuatu melalui budaya yang mereka lakukan sehari-hari, maka tak heran jika manusia tak pernah lepas dari yang namanya budaya. Budaya akan selalu melekat dalam proses dinamika hidup manusia, budaya akan menjadi penggerak penting dalam mengembangkan pendidikan dewasa ini, maka dari itu pendidikan tak akan pernah lepas dari kebudayaan.

Budaya merupakan suatu kebiasaan yang muncul dari kebiasaan hidup masyarakat setempat. Budaya muncul dari berbagai hal baik secara geografis maupun secara sosial. Salah satu budaya yang dapat kita kenal dewasa ini ialah budaya yang terdapat di Manggarai, Flores NTT. Dalam budaya orang Manggarai pendidikan adalah hal yang paling utama, pendidikan dilambangkan sebagai keagungan sebuah keluarga. Pendidikan menjadi aspek penting yang terus hidup dalam budaya ini, jika keluarga hidup tanpa pendidikan maka akan terasa hampa bagi orang Manggarai.

Dalam metode pendidikan orang manggarai mesti dididik dengan metode yang cukup keras. Orang manggarai tidak dapat dididik dengan metode yang lembut, mesti ada penekanan tertentu agar mampu mencegah anak bermental instan, para orang tua sejak dulunya telah dididik untuk berlaku keras agar mampu bertumbuh dengan penuh disiplin dan rasa tanggung jawab. Orang Manggarai mengakui bahwa mereka tidak dapat dididik dengan cara yang lembut, karena pada dasarnya budaya keras orang Manggarai sejatinya telah muncul sejak awal yang telah melekat dalam hati dan pikiran orang Manggarai.

Orang Manggarai lahir dan bertumbuh dengan pola pendidikan yang keras, karena jika tidak akan berakhir sia-sia, budaya itu dipengaruhi oleh karakter keras yang telah melekat dalam diri setiap pribadi orang Manggarai. Jika hanya dengan teguran verbal itu tidak akan berpengaruh penuh terhadap karakter seorang anak, karena dalam budaya Manggarai jika melakukan kesalahan dan hanya mendapatkan teguran itu termasuk dalam pelanggaran yang biasa. Maka dari itu orang tua di Manggarai mendidik anak-anaknya dengan metode yang cukup keras.

Melihat realita yang terjadi dewasa ini tak dapat dipungkiri lagi bahwa pandangan orang Manggarai bertolak belakang dengan metode pendidikan ramah anak yang diterapkan oleh pemerintah. Tujuan pendidikan nilai yang ideal adalah membentuk kepribadian manusia seutuhnya (Philipus Jehamun, 2025).

Bagaimana membentuk kepribadian seutuhnya jika dididik dengan metode yang lembut di tengah budaya Manggarai yang keras? Pendidikan semestinya perlu menyesuaikan dengan situasi dan konteks masyarakat dewasa ini. Pendidikan Ramah Anak tidaklah efektif untuk mengubah karakter seseorang seutuhnya, maka dari itu perlu adanya penyesuaian terhadap pola kehidupan masyarakat Manggarai.

Dalam pandangan orang Manggarai “Ada emas di ujung rotan”, orang Manggarai selalu meyakini bahwa dibalik pendidikan yang keras akan menghasilkan buah yang manis, sama seperti ungkapan seorang Filsuf Aristoteles “Akar dari sebuah pendidikan adalah pahit namun buahnya manis”. Orang Manggarai selalu berpandangan bahwa jika anak dididik tanpa sebuah hukuman fisik akan berakhir sia-sia, karena sama sekali tak memberikan efek jera. Jika kembali pada tujuan Pendidikan Ramah Anak, maka tidak relevan jika metode pendekatan seperti itu di berlakukan di daerah yang budayanya penuh dengan didikan keras seperti Manggarai.

Sokrates pernah mengungkapkan bahwa setiap manusia sudah hamil dengan kebenaran (Philipus Jehamun, 2025), artinya bahwa setiap anak lahir dengan kemampuannya masing-masing dan lembaga pendidikan dan orang tua mempunyai peran penting untuk mengasa pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, dan untuk konteks Manggarai perlu adanya penekanan khusus agar anak-anak dapat bertumbuh dengan baik.

Maka dari itu anak-anak Manggarai perlu dididik dengan metode yang keras agar tujuan yang ingin dicapai dapat terlaksana dengan baik, karena jika tidak demikian akan berakhir sia-sia. Anak Manggarai mempunyai kemampuan, namun mesti dibentuk dengan metode yang keras.

Andra Geraldo
Previous ArticleTim SAR Perluas Area Pencarian Empat WNA Spanyol Korban KM Putri Sakinah
Next Article Kasus Perusakan Drainase di Pota Dilimpahkan ke Polres Manggarai Timur

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.