Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Insiden Kapal Tenggelam di Labuan Bajo Ungkap Lemahnya Pengawasan Kelayakan Kapal Wisata
Regional NTT

Insiden Kapal Tenggelam di Labuan Bajo Ungkap Lemahnya Pengawasan Kelayakan Kapal Wisata

By Redaksi29 Desember 20254 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Siprianus Edi Hardum
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, VoxNTT.com – Tenggelamnya Kapal KM Putri Sakinah di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Jumat, 26 Desember 2025, merupakan puncak gunung es rendahnya pengawasan kelayakan kapal wisata yang dilakukan Kementerian Perhubungan, khususnya Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di Labuan Bajo.

“Ini puncak gunung es banyak masalah kapal wisata di Labuan Bajo karena minimnya pengawasan dari pihak terkait,” kata Pengamat Hukum, Edi Hardum ketika dimintai pendapatnya pada Senin, 29 Desember 2025.

Edi diminta pendapat soal tenggelamnya Kapal KM Putri Sakinah yang membawa 11 orang, enam penumpang dan lima kru, termasuk kapten kapal itu. Akibatnya, empat orang tewas termasuk pelatih Club LaLiga Tim Valencia CF Women B dan tiga anaknya.

Pantauan Edi, sudah sering kapal wisata tenggelam dan terbakar di Labuan Bajo. “Kasus kapal tenggelam dan terbakar sudah sering terjadi di Labuan Bajo,” kata advokat dari Kantor Hukum “Edi Hardum and Partners” ini.

Edi mengatakan, sering bermasalahnya kapal wisata di Labuan Bajo jelas membuat orang dari seluruh dunia yang mengetahui keindahan Labuan Bajo dari media massa dan media sosial dan ingin berwisata ke Labuan Bajo akan urungkan niatnya karena takut.

“Labuan Bajo sebagai objek wisata internasional seharusnya pengawasan kapal-kapal wisata wajib dilakukan agar nihil terjadi kecelakaan,” kata dia.

Menurut Edi, tenggelamnya KM Putri Sakinah selain cuaca buruk juga karena ada masalah pada kapal yakni kapal sempat mati mesin di tengah laut.

“Saya baca kronologi bahwa kapal sempat mati mesin. Ini menunjukan kapal tidak layak berlayar. Kapalnya sehat tentu bisa menerjang gelombang,” kata dia.

Kejadian Sebelumnya

Edi mengatakan, pada tahun pada 29 Desember 2025, sebuah Kapal Penisi Dewi Anjani karam di Dermaga Pink, Labuan Bajo, saat cuaca sedang buruk dengan hujan lebat.

Pada September 2025 pukul 20.55, KM Tiga Jaya 01, sebuah kapal phinisi wisata, terbakar di Labuan Bajo di Pelabuhan Marina Waterfront, Labuan Bajo.

Kebakaran tersebut diduga terjadi saat pengisian bahan bakar ke genset dalam kondisi mesin masih menyala, menyebabkan api membesar dan melahap hampir seluruh bagian kapal. Dua anak buah kapal (ABK) mengalami luka bakar ringan dan sudah mendapat perawatan di rumah sakit.

Sebelumnya lagi yakni pada tahun 2022, pada 24 Juli 2022, kapal wisata bernama KM Maju Bersama 1 tenggelam di perairan Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. Kapal itu membawa 19 penumpang dan 6 ABK. Beruntung, semua orang berhasil dievakuasi dengan selamat.

Edi mendesak Menteri Perhubungan agar turun langsung evaluasi kinerja Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Labuan Bajo.

“Sesuai UU Pelayaran yang berwenang mengawasi dan menegakan hukum soal pelayaran adalah Kementerian Perhubungan,” kata dia.

Edi menduga rendahnya pengawasan akan kalayakan kapal-kapal wisata di Labuan Bajo karena pihak Kesyahbadaran Labuan Bajo menerima suap atau upati dari para pemilik Kapal Wisata.

Untuk itu, Edi juga meminta Menteri Perhubungan agar mengganti Kepala Syahbandar Labuan Bajo.

“Sepertinya beliau bekerja tidak professional. Bahkan seharusnya dengan terjadi kapal tenggelam terakhir ini, dia segera mengundurkan diri,” kata Edi.

Jenazah korban tenggelamnya Kapal KM Putri Sakinah saat tiba di Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Senin, 29 Desember 2025 (Foto: Dok. Tim SAR)

Sementara itu, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, mengklaim kapal wisata KM Putri Sakinah yang tenggelam di perairan Labuan Bajo telah memenuhi unsur kelayakan laut sebelum diizinkan berlayar.

Stephanus menegaskan, penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) pada 25 Desember malam didasarkan pada pemeriksaan fisik kapal serta pemantauan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dari total 189 kapal wisata yang berangkat pada hari yang sama, menurut dia, hanya KM Putri Sakinah yang mengalami insiden.

“Kapal saat berlayar dinyatakan layak laut dibuktikan sertifikat keselamatan karena kapal sudah dilakukan pemeriksaan sebelumnya,” ujar Stephanus.

Selain itu, pihak KSOP juga mengklaim telah mengeluarkan Notices to Mariners sejak 22 hingga 28 Desember agar para nakhoda mewaspadai daerah berbahaya. Namun, berdasarkan data spesifik pada aplikasi BMKG saat keberangkatan, kondisi perairan dinyatakan aman.

“Pada saat pemberian SPB, prakiraan cuaca BMKG aman. Dasarnya pemeriksaan kapal atau marine inspection. Yang kedua dasarnya adalah cuaca seperti yang dilihat di website BMKG tadi. Dari tanggal 22 sampai 28 itu tidak ada masalah,” kata Stephanus.

Terkait status perusahaan dan perizinan kapal, Stephanus memastikan seluruh dokumen KM Putri Sakinah lengkap dan saat ini masih dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

“Iya, punya (izin). Itu sekarang sedang dalam pemeriksaan,” tuturnya.

Sebagaimana diberitakan, KM Putri Sakinah berlayar pada Jumat, 26 Desember 2025. Setelah meninggalkan Pelabuhan Labuan Bajo, kapal itu singgah di Pulau Kalong.

Sekitar pukul 20.30 Wita, kapal itu meninggalkan Pulau Kalong menuju Pulau Padar di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perjalanan itu berubah drastis ketika kapal mengalami mati mesin di tengah laut sekitar 30 menit setelah berlayar. Tanpa mesin yang berfungsi, kapal tidak bisa bermanuver saat gelombang laut tiba tiba meninggi dan menghantam kapal dua kali. [VoN]

Edi Hardum Labuan Bajo Mabar Manggarai Barat Pulau Padar Tim SAR Tim SAR Gabungan
Previous ArticleMahasiswa Muslim Unika Ruteng Ikut Koor Natal di Reok Barat, Akui Atas Kemauan Sendiri
Next Article Unika Ruteng: Mahasiswa Non-Katolik Tak Wajib Ikut Asistensi Natal

Related Posts

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.