Ruteng, VoxNTT.com – Setelah libur selama dua pekan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) Golo Dukal II di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali didistribusikan pada Kamis, 8 Januari 2026.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Golo Dukal II Kecamatan Langke Rembong, Rikardus Nogur berkata, sebanyak 2.884 siswa-siswi penerima manfaat menyambut antusias pembagian makanan tersebut.
“Sebanyak 2884 siswa siswi penerima manfaat sangat antusias menerima makanan dengan menu pangan lokal,” kata Rikardus Nogur kepada voxNtt.com.
Menurut Rikardus, penyajian menu pangan lokal merupakan bentuk apresiasi terhadap budaya pangan masyarakat Manggarai. Menu yang disajikan mencerminkan ciri khas daerah dan kearifan lokal setempat.
Menu MBG yang kami sajikan hari ini merupakan menu ciri khas daerah setempat atau kearifan lokal. Hal ini sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya pangan lokal.
Adapun menu yang disajikan oleh SPPG Golo Dukal II meliputi nasi jagung, ayam goreng sasando, lawar daun singkong, tahu balado, serta buah anggur.
Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Golo Dukal II, Riani Juita menjelaskan, penyajian menu tetap mengacu pada standar gizi yang telah ditetapkan.
“Kami tentunya terus melakukan pengawasan kebersihan, kesehatan, dan keamanan pangan (foof safety). Tidak hanya itu, penyusunan menu telah dipastikan optimal baik rasa dan penampilan terbaik dan memenuhi nilai gizi seimbang,” kata Riani.
Apresiasi terhadap penyajian menu pangan lokal juga disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Widya Bhakti Ruteng, Melita Eufrasia Jewaru.
Ia menilai menu kearifan lokal memiliki nilai positif bagi siswa dan masyarakat sekitar.
Menu ini kami menyambut dengan senang hati. Selain memiliki rasa yang enak, penyajian menu ini sebagai upaya melestarikan makanan lokal khususnya yang ada di Manggarai dan menariknya juga hal ini sangat mendorong perekonomian masyarakat sekitar, katanya.
Melita menambahkan bahwa variasi menu tersebut membuat siswa tidak merasa bosan dengan sajian makanan yang selama ini diterima.
“Siswa dan siswi kami tentu sangat senang, karena kalau selama ini mereka mencicipi menu yang umum saja, berbeda dengan hari ini, hal ini sebagai bentuk variasi pengolahan makanan, bair para siswa juga tidak merasa bosan,” ujarnya.
Penulis: Isno Baco

