Oleh: Gonsi Kusman
Mahasiswa Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
Menjelang akhir tahun 2025 lalu, hingga awal 2026 ini, bencana alam telah bertebaran di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Media lokal hingga nasional setiap hari memajang berita tentang gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, dan hujan angin yang meluluhlantakkan kota-kota dan desa-desa.
Fenomena ini bukan sekadar kejadian alam biasa, melainkan serangkaian peristiwa masif yang menimbulkan kerugian tak terhitung, baik materi maupun non-materi.
Di tengah hiruk-pikuk berita, muncul berbagai narasi saling menyalahkan; ada yang menuding alam sebagai penyebab utama, ada yang mengkritik ulah manusia melalui deforestasi, dan bahkan ada yang menyalahkan Tuhan atas ketidakadilan-Nya.
Namun, di balik semua itu, sebenarnya tersembunyi ketakberdayaan manusia untuk melihat dan menilai secara mendalam apa yang sebenarnya terjadi di balik bencana-bencana yang melanda.
Apa penyebab sejati di balik kejadian-kejadian ini, dan bagaimana kita seharusnya meresponsnya?
Bencana alam sering kali menjadi cerminan dari ketidakseimbangan ekosistem yang telah lama dibiarkan.
Secara ilmiah, gempa bumi disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik, sementara banjir dan longsor sering kali dipicu oleh perubahan iklim global yang diperburuk oleh emisi karbon dari aktivitas industri dan penebangan hutan.
Di Indonesia, yang berada di Cincin Api Pasifik, risiko ini semakin tinggi karena letak geografisnya. Namun, di balik faktor alamiah, ada peran manusia yang tak bisa diabaikan.
Deforestasi di hulu sungai, pembangunan ilegal di daerah rawan, dan kurangnya infrastruktur tahan bencana telah memperparah dampaknya. Misalnya, banjir di Jakarta akhir-akhir ini bukan hanya akibat curah hujan deras, tapi juga drainase yang tersumbat dan penumpukan sampah.
Ini menunjukkan bahwa bencana bukanlah kebetulan semata, melainkan konsekuensi dari ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan.
Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban jiwa akibat bencana di Indonesia mencapai ribuan setiap tahun, dengan kerugian ekonomi mencapai miliaran rupiah, yang sering kali bisa dicegah jika ada tata kelola yang lebih baik.
Terkadang, dugaan atau tuduhan semacam itu hanyalah ungkapan kekesalan mendalam dari para korban yang kehilangan segalanya. Kehilangan keluarga, harta benda, dan masa depan yang cerah.
Semuanya adalah penderitaan yang tak mudah dibayangkan. Bagi mereka yang kehilangan rumah dan mata pencaharian, bencana bukan sekadar peristiwa, melainkan patah hati yang menghancurkan.
Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apakah kita harus terus saling menyalahkan ketika berhadapan dengan bencana alam yang melanda hidup kita?
Atau, apakah lebih bijak jika kita hening sejenak untuk merenungkan, membenahi diri, dan mencari makna di balik datangnya bencana tersebut?
Di era modern yang penuh kecemasan, kita sering kali terjebak dalam siklus saling menyalahkan. Pemerintah disalahkan karena kurang responsif, masyarakat disalahkan karena kurang siap, dan alam disalahkan karena tak terkendali.
Padahal, seperti yang diajarkan dalam tradisi filosofis dan spiritual, bencana bisa menjadi panggilan untuk introspeksi bagi manusia. Dalam ajaran Kristen, misalnya, bencana dianggap sebagai ujian dari Tuhan untuk membersihkan dosa.
Hal itu, dapat mengingatkan kita pada ketergantungan total pada Tuhan. Di Indonesia, di mana agama-agama beragam saling berdampingan, refleksi ini bisa menjadi jembatan untuk membangun solidaritas, bukan perpecahan.
Dalam melihat bencana alam tersebut, saya teringat dan disadarkan oleh sebuah lagu karya Ebiet G. Ade yang berjudul “Berita Kepada Kawan”.
Lagu ini, yang diciptakan pada era 1970-an tapi relevan hingga kini, berbicara tentang bencana alam yang melanda hidup manusia dengan penuh kesedihan dan kehilangan.
Dalam liriknya, Ebiet menggambarkan bagaimana bencana merenggut keluarga terdekat, meninggalkan duka yang tak terobati.
“Berita kepada kawan, berita kepada kawan, berita kepada kawan,” begitu chorus-nya, yang mengulang-ulang seperti doa yang terputus-putus, mencerminkan ketidakmampuan untuk menerima kenyataan.
Lagu ini bukan sekadar cerita, melainkan panggilan untuk mengenang dan belajar dari penderitaan. Di tengah bencana selama ini, lagu tersebut setidaknya dapat mengingatkan kita bahwa kesedihan bukan akhir, tapi awal dari pemulihan.
Ebiet, sebagai seniman yang kritis terhadap sosial, menggunakan musiknya untuk menyuarakan ketidakadilan, dan “Berita Kepada Kawan” menjadi simbol bagaimana seni bisa menjadi kesadaran kolektif bagi masyarakat yang terdampak.
Dalam konteks Indonesia, lagu ini menguatkan pesan bahwa kita harus saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.
Dengan begitu, saya berasumsi bahwa kita setidaknya bisa bangkit dari reruntuhan bencana yang melanda.
Lebih lanjut, bencana alam juga mengajarkan pelajaran tentang ketahanan dan adaptasi. Di Indonesia, pengalaman seperti Tsunami Aceh 2004 atau Gempa Lombok 2018 telah membentuk budaya ketahanan masyarakat.
Namun, di 2026, tantangan baru muncul dengan perubahan iklim yang mempercepat frekuensi bencana.
Menurut laporan PBB, Indonesia termasuk negara paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, dengan potensi kenaikan permukaan laut yang mengancam pulau-pulau kecil.
Untuk menghadapi ini, diperlukan pendekatan holistik: pemerintah harus memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur. Sementara masyarakat perlu edukasi tentang mitigasi risiko.
Dalam konteks pribadi, kita bisa mulai dengan perilaku ramah lingkungan, seperti mengurangi plastik sekali pakai dan tidak mengeksploitasi alam. Selain itu, refleksi spiritual bisa menjadi katalisator.
Seperti yang saya alami dalam perjalanan iman sebagai seorang Katolik, bencana mengingatkan pada ketergantungan pada Tuhan, di mana kesabaran dan harapan menjadi tumpuan utama.
Hal ini sebagaimana yang terlukis dalam tradisi Katolik, bencana sering dikaitkan dengan ujian iman, seperti dalam Kitab Yob, di mana penderitaan membawa pemahaman yang lebih dalam tentang kehendak ilahi.
Dengan begitu, hemat saya, bencana alam bukanlah akhir dari segalanya, melainkan peluang untuk menata kembali dengan membenah diri.
Dengan menghindari sikap menyalahkan satu sama lain, kita bisa beralih ke aksi nyata: membangun komunitas yang lebih kuat, merawat lingkungan, dan menghibur hati yang terluka.
Seperti lagu Ebiet yang mengajak kita untuk “Berita Kepada Kawan” dengan penuh empati, kita diajak untuk menjadikan bencana sebagai pelajaran berharga.
Di tengah kekacauan bencana alam yang melanda kita akhir-akhir ini, semoga kita menemukan kedamaian dalam kesabaran dan harapan.

