Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Peminum
Sastra

Peminum

By Redaksi27 Januari 20267 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Gonsi Kusman

Mahasiswa Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Botol-botol berdiri rapi berbaris di atas meja kayu tua. Hanya ada satu gelas kecil. Kami menyebutnya seloki, yang berputar melingkar di antara kami.

Satu per satu, kami mencium bibirnya dengan napas hangat, tanpa satupun yang luput selagi masih duduk dalam lingkaran itu. Jika sengaja dilewati karena kepala mulai pening, siap-siaplah kena de’i [1].

Dari gelas itu, kami meneguk moke [2] putih asli Maumere, minuman tradisional yang membakar kerongkongan dan membangkitkan semangat jiwa. Di tengah teras rumah panggung itu, kami berjumlah sepuluh orang.

Aku duduk di sisi kiri King Sangguk, lelaki berambut keriting yang sering jadi pusat cerita. Sedangkan Kevin, sang bandar tangguh, mengendalikan rotasi gelas berisi moke itu, matanya tajam seperti elang mencari mangsa.

Di balik layar waktu, piringan matahari terus melangkah di langit biru cerah, cahayanya menyusup melalui celah-celah daun ketapang di depan teras. Sinarnya menciptakan pola emas yang bergoyang ritmis.

Perlahan, botol-botol di atas meja mulai kosong. Kevin memisahkan yang habis ke bawah meja, sementara yang masih penuh tetap berdiri tegak.

Gelas itu tak pernah beristirahat. Ia berputar semakin cepat, menguji kesabaran kami. Belum ada yang terlewat atau minta berhenti. Itu berarti bahwa kami semua masih utuh, meski hati mulai bergelora.

Lingkaran itu berubah menjadi arena adu cerita yang hidup. Cerita-cerita lucu meledakkan tawa bergema, sementara beberapa kisah sedih menusuk diam penuh kenangan. Luka masa lalu tersebar bebas, tanpa tabu, membuat kami saling mengenal lebih dalam. Itulah kami. Tak ada yang tertutup. Kejujuran menjadi pengikat.

”Kau sudah?” tanya Kevin, suaranya parau tapi percaya diri, saat ia menyodorkan seloki itu padaku.

”Sudah. Barusan,” jawabku dengan suara gemetar tapi setipis tisu.

”Kalau begitu, sekarang siapa?”

”Melki,” sahut King Sangguk, tangannya meraih potongan daging anjing bakar dari piring di hadapannya. Kami menyebutnya lepeng. [3] Aroma bumbunya menyengat hidung.

Kevin menyodorkan seloki ke Melki. Tapi, Melki tak langsung meneguk. Setelah diterima, ia letakkan kembali di meja, lalu dua jarinya meraih daging anjing.

“Lama ew. Minum su [4]” desus Kevin, sedikit marah.

Kevin tahu betul Melki sudah tak mampu lagi, tapi lelaki itu pura-pura kuat. Takut kena de’i.

Seketika, Melki megenggam erat seloki itu. Ia meneguknya dengan sopan. Mukanya merengit keras. Air liurnya meludah ke belakang beberapa kali, tapi ia tak gentar.

Seloki kembali berputar, rotasinya kini semakin cepat, seperti putaran jarum jam yang tak kenal lelah. Selain Melki, tak ada yang ragu-ragu.

Semuanya sigap meraih setiap kali seloki itu disodor. Mereka menyerap moke itu seperti seorang pria yang kehausan di padang belantara.

Aku sendiri gugup dan takut melihat rotasi seloki yang berputar cepat. Detak jantungku berpacu kencang seiring dengan irama gelas yang semakin cepat. Saat seloki tiba di tanganku, aku coba tolak.

Tak sanggup lagi. Sudah puluhan kali ia menyentuh bibirku. Kalau digabung, pasti belasan liter moke putih itu telah merobek tenggorokanku. Barangkali lambungku terbakar.

”Aih, tidak bisa begitu ka,” bisik Melki. Suaranya penuh simpati.

”Katanya kuat,” timpal Kevin, sang bandar handal.

Ia tertawa bergelak tapi tatapannya tajam.

Tak ingin bertengkar, aku terima lagi seloki itu. Tapi, tak langsung kuteguk, maka kusimpan di meja sejenak. Membiarkan beberapa liter sebelumnya mereda di lambung.

Meski seloki diam sebentar, cerita kami tak pernah berhenti. Aliran kata-kata mengalir seperti sungai, seolah sedang menghibur luka-luka yang tersembunyi.

Saat King Sangguk suguhkan cerita romantis tentang mantan pacarnya di bangku SMA. Tiba-tiba ka’e [5] Ito muncul. Ia berdiri di dekatku.

Ka’e Ito adalah orang yang ramah dan mudah bergaul, namun disiplin dan prinsipil.

Ia mencoba menyambung beberapa kali cerita yang disuguhkan King Sangguk membuat suasana semakain cair. Obrolan pun perlahan santai dan penuh gelegar tawa.

”Minum sudah!” perintah Kevin. Suaranya kini lebih tegas. Mukanya memerah karena efek moke.

Aku langsung genggam seloki itu erat dan meguknya sekali tarikan panjang. Dengan wajah merengit, aku kembalikan seloki itu pada Kevin dalam keadaan kosong. Kevin tersenyum tipis melihat ekspresiku, sambil isi ulang dengan volume lebih banyak.

Ia sodorkan kepadaku. “Tolong berikan ke ka’e Ito.”

Aku hubungkan seloki itu ke ka’e Ito. Ia tolak mentah-mentah.

“Sorry!” ungkapnya tegas dengan kedua tangan menjulur ke depan.

”Tak bisa begitu, ka’e,” kataku memaksa.

”Siapa saja yang datang dekat lingkaran ini, wajib minum!” seru Kevin, mukanya kini tambah merah seperti api. Napasnya kasar. Dari cara menghembuskan asap rokoknya saja sudah menunjukan itu.

”Aku tak bisa minum moke,” jawab Ito tersenyum tipis.

”Kalau begitu rokok saja,” tawar Kevin, sambil mengeluarkan sebungkus rokok Surya 12 yang hanya tersisa delapan batang. Namun, ka’e Ito tolak.

“Aku sudah lama tak merokok. Aku tak bisa merokok lagi.”

”Kalau begitu, kau mau apa?” tanya Melki, giginya mengunyah potongan daging anjing dengan lahap.

Ka’e Ito tersenyum, tak menjawab. Senyum itu penuh rahasia, seperti pintu terkunci yang tak akan dibuka.

”Jangan bilang mau minum susu,” goda Kevin, suaranya meninggi.

”Iya, aku mau susu,” jawab Ito. Senyumnya melebar. Nada kelakarnya ringan tapi penuh arti.

“Sudah besar begini masih minum susu?” Ujar King Sangguk penuh tawa.

“Pria yang masih minum susu itu banci,” tambah Kevin, menggoda ka’e Ito.

Kami yang asyik bercerita seketika melegakkan tawa mendengarkan ungkapan tersebut. Ka’e Ito hany tersenyum tipis, tak merespons.

“Minum moke tidak. Rokok juga tidak. Itu berarti, kejantannya hilang,” sahut Melki, berusaha memantik kesabaran ka’e Ito.

Suasana pecah tawa semakin menggaung. Namun, sekali lagi ka’e Ito tak merespons.

Kali ini, ka’e Ito angkat kaki jauh dari tempat itu. Bukan berarti dia malu atau emosi, tapi ia tak mau suasana menjadi kacau. Apalagi berhadapan dengan para pemabuk, yang salah jadi benar dan yang buruk dianggap baik.

Ka’e Ito tak melarang kami untuk minum moke meskipun ia tahu kandungan alkoholnya sangat membahayakan kesehatan.

Barangkali, ia tahu: menghentikan pemabuk adalah sia-sia. Bagi pemabuk, moke dianggap air mineral.
Menyadarkan pemabuk yang kencaduan moke, sulit bukan?

“Benar! Dia banci,” teriak Kevin, melihat ka’e Ito menjauh dari tempat itu.

Moke di atas meja itu tersisa sepuluh botol. Yang berhasil dihabiskan sudah dua puluh botol, sedang Kevin tetap stabil menyodorkan seloki sesuai rotasi.

Aku sudah pusing. Tak sanggup lagi meneguk moke di nggegamanku. Saat Kevin memaksa untuk meneguknya, aku muntah di atas meja.

Moke di tanganku tumpah ke celana. Seketika aku terkapar di lantai, tapi masih sadar. Teman-teman yang lain seketika tertawa. Meskipun mereka juga sudah pusing, hanya belum mutah.

Kevin berdiri dari tempat duduknya. Tanganya meraih lenganku, membuatku duduk seperti semula.

“Ini tinggal sedikit. Kasih habis dulu baru pergi tidur. Itu baru jantan,” ujarnya. Tanganya meraih sebatang rokok, dinyalakannya lalu memasukan ke mulutku. Rokok itu terbakar cepat. Lalu-latunya berjatuhan di jelana.

Dari sudut teras, ka’e Ito menyaksikan kami. Ia terseyum sendirian seolah sedang mengutuk kami yang minum moke tak tahu diri. Seketika, langkahnya mendekat.

“Haruskah kalian jadi peminum baru dianggap jantan, ha?” Atau merokok baru kelihatan keren?” Tegurnya, tegas.

Tak satu pun di antara kami yang menjawab. Kami terdiam, seolah berusaha waras saat mabuk.

“Bodoh! Kenapa kalian tak mengaggap yang jantan itu adalah mereka yang rajin bekerja, rajin berdoa dan mereka yang suka menolong sesama?”

“Pulang…pulang, sana. Tidak jelas!” Bantahnya.
Suasana berubah total. Ka’e Ito lalu pergi meninggalkan kami. Moke belum berhasil dihabiskan. Masih tersisa sembilan botol setengah, dan kami muntah terkapar dilantai. Aroma muntah menyengat, mengundang banyak lalat.

Keterangan:
1. De’i : Ejekan
2. Moke : Minuman tradisional Maumere yang memiliki kandungan alkohol.
3. Lepeng : Daging atau ikan yang biasa digunakan untuk campur pada saat orang minum minuman beralkohol (moke)
4. Su : Sudah
5. Ka’e : Kakak

Gonsi Kusman
Previous ArticleSaksi Akui Terima Rp500 Juta dalam Sidang Korupsi Kredit Macet Bank NTT
Next Article Ketika Pekerjaan Menentukan Harga Diri: Mitos Profesi di NTT

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.