Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Ketika Filsafat Menyentuh Tanah
Gagasan

Ketika Filsafat Menyentuh Tanah

By Redaksi4 Februari 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Rafael Lumintang
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur

Di era modern saat ini, ada begitu banyak krisis yang datang silih berganti, mulai dari sektor ekonomi yang menekan, politik yang bising, teknologi yang mendominasi perhatian, dan kehidupan sosial yang makin rapuh.

Berhadapan dengan situasi kompleks di atas, “filsafat” seringkali diberi label atau dicap tidak relevan lagi.

Dikutip dari kompasisana.com, belakangan di media sosial jurusan filsafat menjadi bahan perbincangan. Jurusan filsafat sudah tidak relevan dalam dunia modern saat ini.

Dasar argumentasinya karena filsafat tidak aplikatif sehingga tidak bisa menunjang kemampuan di industri modern. Filsafat dianggap hanya belajar teori-teori bahkan hanya sejarah teori-teori, seperti hafalan pemikiran para tokoh-tokoh sehingga jurusan filsafat layak dihapuskan.

Filsafat seringkali juga dikatakan “hanya terbang di udara, dan tidak pernah menyentuh tanah.” Ia dicap terlalu abstrak, terlalu teoritis, dan terlalu jauh dari kebutuhan orang banyak. Padahal justru dalam kondisi dunia yang kehilangan arah seperti sekarang, “filsafat perlu turun menyentuh tanah realitas,” membaca persoalan nyata, dan menolong manusia memahami apa yang sedang terjadi pada hidupnya sendiri.

Persoalan paling fundamental hari ini bukan kekuarangan sumber daya, melainkan “krisis makna.”

Filsafat sejak masa Socrates selalu menegaskan bahwa hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi. Ketika “filsafat menyentuh tanah, ia mempertanyakan secara radikal tujuan hidup di balik rutinitas yang kerap menindas, apakah kita bekerja untuk hidup, atau hidup untuk bekerja?

Di ranah sosial, kita bisa menyaksikan masyarakat yang semakin terpolarisasi. Media sosial menjadikan opini sebagai senjata, “bukan sarana dialog.” Orang lebih sibuk membela identitas daripada mencari kebenaran yang otentik.

Hannah Arendt hadir di sini untuk menegaskan bahwa krisis tujuan di atas berakar pada hilangnya “ruang berpikir,” ketika manusia berhenti merefleksikan dampak tindakannya.

Filsafat yang menyentuh tanah adalah mendorong suatu dialog yang harmonis, belajar menunda penilaian, membuka argumentasi, dan merawat kewarasan publik. Filsafat yang membumi mendorong etika dialog; belajar menunda penilaian, membuka ruang argumentasi, dan merawat kewarasan publik.

Saya melihat lebih jauh lagi, persoalan teknologi misalnya yang tidak kalah serius. Algoritma “memperkosa perhatian kita, menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, dan rasakan.” Kecepatan menggantikan kedalaman refleksi, maka munculah “logika viral” mana yang viral, itulah yang sungguh-sungguh benar.

Dalam hal ini, filsafat masih menunjukan taringnya, filsafat berfungsi sebagai “penjaga batas.” Ia hadir mengajukan pertanyaan etis; sejauh mana teknologi melayani manusia, dan kapan manusia justru kehilangan personalitas dan otonomi dirinya yang otentik?

Solusinya bukan menolak teknologi, melainkan membangun apa yang disebut sebagai “kesadaran kritis digital,” dengan menggunakan teknologi secara reflektiktif, bukan reaktif, menjadikan manusia sebagai subjek, bukan semata-mata sebagai pengguna yang dipenjarakan.

Kita bergerak ke ranah “politik dan kekuasaan.” Filsafat juga dalam hal ini menjadi instrumen pembongkar ilusi. Kita hidup di tengah prosedur demokrasi yang tampak sah, tetapi sering kehilangan “keadilan substantif.” Hukum berjalan, namun rasa keadilan sangat tertinggal jauh.

Kekuasaan diklaim atas nama rakyat, namun hanya terfokus pada segelintir orang saja. Filsafat politik dari Plato hingga Bertrand Russell memberikan suatu seruan imperatif bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan moral akan berubah menjadi dominasi.

Solusinya bukan hanya reformasi institusi, namun “pemulihan etika publik,” keberanian mengkritik, kesadaran warga, dan pendidikan berpikir kritis sejak dini.

Dari segi ekologis juga, filsafat masih memberikan kontribusi besar. Krisis lingkungan memperlihatkan betapa filsafat perlu menyentuh tanah. Alam diprlakukan sebagai objek eksploitasi, bukan “ruang hidup bersama.”

Filsafat lingkungan menantang cara pandang “antroposentris” yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak. Hutan digunduli, sungai-sungai dicemari oleh aneka macam pabrik yang ada, mulai dari yang terkecil hingga terbesar.

Alam seringkali dipermainkan, alam seringkali tidak dianggap, dan alam seringkali dihancurkan secara lembut! Solusi etis yang perlu dikemukakan di sini adalah perubahan paradigma, dari menguasai alam menjadi hidup bersama alam. “ini bukan romantisme drama korea, melainkan kebutuhan eksistensial demi keberlanjutan hidup itu sendiri.”

Masih banyak lagi yang belum sempat disinggung di sini, pendidikan, budaya, agama, dan lain-lain. Namun, dari beberapa hal di atas sudah menunjukan bahwa filsafat sangatlah penting dan berguna dalam realitas hidup sehari-hari. “Filsafat yang menyentuh tanah bukan filsafat yang kehilangan kedalaman, melainkan filsafat yang berani hadir di tengah persoalan konkret.”

Ia tidak menawarkan jawaban instan, melainkan cara “berpikir jernih,” tidak memberi slogan, tetapi “kesadaran etis,” tidak menyajikan kenyamanan, tetapi “arah.”

Solusi paling kuat yang ditawarkan filsafat adalah membentuk manusia yang mampu berpikir sebelum bertindak, meragukan sebelum meyakini, dan memahami sebelum mengahakimi.

Di zaman yang penuh kebisingan, filsafat yang membumi adalah keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur, hidup macam apa yang sedang kita jalani, dan ke mana kita sedang menuju?

Ketika filsafat menyentuh tanah, ia tidak sekadar menjadi pengetahuan, tetapi menjadi cara hidup, dan disitulah relevansinya menemukan “rumah makna yang otentik.” Masikah kita meragukan filsafat?

Rafael Lumintang
Previous ArticleTuhan Mendekati Orang Berdosa yang Menolaknya
Next Article Umat Muslim Sambut Kedatangan Uskup Larantuka Terpilih dengan Tarian Tradisional

Related Posts

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Pastor Sumber Ajaran Moral, Jangan Bela Pelaku TPPO

4 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.