Oleh: Florentina Ina Wai
Staf Publikasi dan Jurnal Ilmiah Stipar Ende
Di ambang tahun 2026, dunia seakan berdiri di tepi jurang krisis integritas dan kemanusiaan. Dari layar berita, kita disuguhi parade kebiadaban domestik dan pengkhianatan yang mencabik nalar.
Namun, di tengah riuh yang memuakkan itu, kisah seorang pria sederhana dari Vietnam bernama Tri, yang merawat istrinya, Tho, hingga hembusan napas terakhir pada Februari ini, muncul bagai cahaya yang menembus kabut.
Ia bukan sekadar cerita viral, melainkan sebuah puisi hidup yang menampar kesadaran kita: bahwa cinta sejati adalah kekuatan yang mampu bertahan di tengah badai paling gelap.
Melalui lensa Erich Fromm dalam mahakaryanya ‘The Art of Loving’, kita dipaksa menatap kenyataan pahit: mencintai bukanlah soal menemukan pasangan yang “sempurna”, melainkan soal keberanian menjadi manusia yang berjiwa penuh kasih.
Kita hidup di era di mana kualitas fisik, kecerdasan, dan kemandirian seorang istri seolah tidak lagi menjamin keamanan.
Fakta-fakta dari 2024 hingga 2025 menjadi saksi betapa murahnya komitmen di mata sebagian pria.
Kasus Cut Intan Nabila, seorang selebgram dan mantan atlet yang cerdas, dianiaya suaminya di depan bayi mereka; kasus Ira Nandha yang membongkar perselingkuhan suaminya, seorang pilot, dengan pramugari melalui aplikasi Discord; hingga kisah Norma Risma yang suaminya berselingkuh dengan ibu mertuanya sendiri.
Semua ini menunjukkan pola mengerikan: pasangan diperlakukan bukan sebagai pendamping hidup, melainkan sebagai objek konsumsi yang bisa diganti, dikhianati, bahkan disakiti demi ego pribadi.
Erich Fromm menegaskan bahwa kegagalan dalam cinta bukanlah masalah “objek”, melainkan kegagalan “subjek” dalam menguasai seni mencintai.
Kekerasan rumah tangga dan perselingkuhan adalah tanda jiwa yang kosong; kegagalan mencintai karena kegagalan menjadi manusia yang berdaya secara batiniah.
Di sinilah Tri hadir sebagai antitesis yang suci. Dalam kemiskinan materi dan tubuh istrinya yang hancur oleh TBC kronis, ia mempraktikkan Cinta yang Matang (Mature Love).
Pertama, Care (Kepedulian): Tri membersihkan raga Tho yang rapuh, menggunakan tangannya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memelihara kehidupan. Kedua, Responsibility (Tanggung Jawab): Ia menanggapi rintihan istrinya bukan karena paksaan, melainkan panggilan jiwa.
Ketiga, Respect (Rasa Hormat): Ia melihat Tho bukan sebagai beban, melainkan manusia utuh yang layak dihormati hingga ajal menjemput. Keempat, Knowledge (Pengenalan): Ia mengenal setiap ritme napas Tho, menembus selubung rasa sakit dan menyatukan jiwanya di sana.
Kematian Tho di awal Februari 2026 mengukuhkan kemenangan spiritual Tri. Di tengah dunia yang dihuni oleh suami yang tega membakar istrinya hanya karena mie instan, atau pria yang berselingkuh meski istrinya telah memberikan segalanya, Tri menunjukkan bahwa memberi adalah ekspresi tertinggi dari kekuatan.
Ia membuktikan bahwa kemantapan karakter tidak ditentukan oleh jabatan atau status sosial, melainkan oleh kapasitas untuk tetap setia pada penderitaan orang yang dicintai.
Dunia tidak kekurangan wajah cantik, pria mapan, atau pasangan cerdas. Dunia kekurangan manusia yang mampu mencintai secara matang.
Kisah Tri dan Tho mengingatkan kita bahwa mencintai adalah pilihan sadar: tetap tinggal saat kecantikan memudar, tetap memeluk saat tubuh remuk.
Dan pada akhirnya, integritas seorang manusia tidak diukur dari seberapa besar kuasa yang ia genggam, melainkan dari seberapa besar kesetiaan yang ia rawat.
Di balik kamar sempit itu, Tri telah menyalakan obor cinta murni, seperti yang diajarkan Fromm, sebuah cahaya yang menyelamatkan martabat kita dari kegelapan moral.
Ia mengajarkan bahwa di tengah badai pengkhianatan, cinta yang matang adalah satu-satunya puisi yang mampu menegakkan kembali kemanusiaan.

