Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Angka Stunting di Manggarai Naik, YKP Gelar Pelatihan Advokasi dan Pemberdayaan Komunitas
KESEHATAN

Angka Stunting di Manggarai Naik, YKP Gelar Pelatihan Advokasi dan Pemberdayaan Komunitas

By Redaksi11 Februari 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Peserta pelatihan advokasi dan pemberdayaan komunitas terkait upaya pencegahan dan penurunan angka stunting di Kabupaten Manggarai (Foto: Isno Baco/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Yayasan Kesehatan Perempuan menggelar pelatihan advokasi dan pemberdayaan komunitas terkait upaya pencegahan dan penurunan angka stunting di Kabupaten Manggarai. Kegiatan itu berlangsung di Spring Hill Hotel dan Resto, pada 11-13 Februari 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Jefrin Haryanto mengatakan, angka stunting di daerah tersebut mengalami peningkatan signifikan. Total kasus tercatat sebanyak 2.967 anak atau 13,06 persen, naik dibandingkan data per Februari 2025 yang berjumlah 2.307 anak atau 9,04 persen.

“Strategi pencegahan stunting harus dimulai dari hulu. Misalkan remaja, pastikan mereka minum obat tablet tambah darah setiap bulan,” kata Kadis Jefrin saat membuka kegiatan itu.

Ia mengungkapkan, 67 persen remaja putri di Manggarai mengalami anemia, yang dipicu pola hidup serta pola makan yang tidak teratur.

“Makannya ada program minum tablet tambah darah,” ujarnya.

Jefrin menjelaskan strategi berikutnya adalah melakukan skrining bagi calon pengantin sebelum menikah.

“Jangan sampai ada penyakit kronis maupun kondisi anemia. Bukan melarang menikah, tetapi mengatur demi kebaikan,” bebernya.

Selain itu, intervensi juga diberikan kepada ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis melalui pengawalan intensif oleh kader dan tenaga kesehatan.

“Kalau kita serius kerja di hulu maka ini akan selesai tapi kasus baru tidak bertambah,” ucapnya.

Sementara itu, Manajer Program Sintesis Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) Gizka Ayu mengatakan stunting masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

“Meski secara nasional angka stunting menunjukkan tren penurunan, realitas di tingkat komunitas memperlihatkan persoalan yang lebih kompleks,” kata Gizka.

Menurut Gizka, kesenjangan informasi, tingginya beban kerja kader kesehatan, serta belum optimalnya implementasi kebijakan yang berpihak pada kebutuhan nyata masyarakat menjadi hambatan utama dalam upaya pencegahan dan penurunan stunting.

Ia menilai, penurunan angka stunting tidak semata ditentukan oleh keberadaan kebijakan, melainkan oleh sejauh mana kebijakan tersebut dipahami, diterapkan, dan diawasi di tingkat lokal.

Keterbatasan pemahaman terhadap kebutuhan spesifik masyarakat serta minimnya pemetaan sumber daya lokal menyebabkan program yang ada kurang tepat sasaran.

Lemahnya proses monitoring dan evaluasi juga memperlebar jarak antara kebijakan di atas kertas dan dampaknya di lapangan.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa stunting bukan hanya persoalan gizi, tetapi juga persoalan tata kelola, keadilan sosial, dan kapasitas komunitas dalam mengawal kebijakan publik,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Anak Waso Community (Awas.Com) Dr. Marianus M. Tapung mengatakan pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat kapasitas komunitas.

Pelatihan tersebut dirancang dengan pendekatan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), kesetaraan gender, dan prinsip inklusivitas guna memastikan intervensi stunting tidak mengabaikan kelompok rentan, termasuk perempuan, anak, dan kelompok marjinal lainnya.

Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya dibekali pemahaman konseptual, tetapi juga keterampilan praktis dalam advokasi berbasis data, analisis kebijakan, serta penyusunan strategi dan pesan advokasi yang kontekstual.

“Kolaborasi ini menjadi fondasi penting agar pendekatan HKSR dapat terintegrasi secara nyata dalam program dan kebijakan pencegahan serta penurunan stunting, baik di tingkat komunitas maupun pemerintahan,” kata Marianus.

Penulis: Isno Baco

Dinas Kesehatan Manggarai Jefrin Haryanto Manggarai Mantovanny Tapung Stunting Stunting Manggarai
Previous ArticlePWMB Nilai Aturan Pemda Manggarai Barat soal Media Berpotensi Bungkam Kebebasan Pers
Next Article Bawaslu Manggarai Barat Teken MoU dengan Pramuka, Siapkan Saka Pengawasan Pemilu

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.