(Pekan V, Masa Biasa Tahun A; Sabtu, 14 Februari 2026; 1 Raj 12:26-32.13:33-34; Mzm 106:6-7a.19-20.21-22; R.4a; Mrk 8: 1-10)
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Hari ini kita merayakan hari kasih sayang. Ini mement perayaan cinta. Salah satu aspek dari cinta adalah menyembah Tuhan, dan mempersembahkan diri kepadaNya. Ini adalah altar cinta yang menumbuhkan kasih, persatuan dan dengan sesama dan Tuhan.
2
Namun perpecahan dikisahkan dalam bacaan pertama hari ini (1 Raj 12:26-32.13:33-34). Setelah masa Salomo, Kerajaan Israel terbagi dua: Kerajaan Utara dan Kerajaan Selatan. Yerobeam dari Suku Efraim, sebagai salah satu keturunan Yusuf, menjadi Raja Pertama Kerajaan Utara. Sebelumnya, ia adalah pegawai Salomo. Namun ia memberontak dan mendirikan Kerajaan Utara. Kerajaan Selatan dipimpin Rehabeam putra Salomo. Di selatan ada Yerusalem.
3
Selanjut, karena rasa irihati, dan takut umatnya kembali ke keturunan Daud, jika mereka ke Yerusalem, Yerobeam membangun patung lembu, dan menempatkannya di Betel dan di Dan. Ini dilihat sebagai tempat penyembahan dan persembahan sesat. Hal ini tentu membawa kepada dosa. Inilah altar benci.
4
Yesus Kristus dalam bacaan Injil (Mrk 8: 1-10) menjadi altar cinta yang membalikkan situasi yang digambarkan bacaan pertama. (1) Yesus sendiri adalah pusat penyembahan: bukan Betel, bukan Dan, bukan Yerusalem. Karena itu banyak orang datang kepadaNya. (2) sebagai pusat penyembahan yang benar, Yesus tidak menerima apa-apa dari umat. Sebaliknya, Ia memberikan mereka roti dan ikan. (3) Yesus mempersatukan semua orang. Tidak ada lagi utara dan selatan. Ia mengumpulkan semua manusia dari seluruh pen juru dunia. Dalam penyembahan yang benar semua bersatu dan pernuh kasih. Inilah altar cinta.
5
Pesan Firman Tuhan hari ini:
Pertama, penyembahan sesat menjauhkan kita dari cinta kasih. Inilah altar benci yang penuh dengan sikap irihati, dengki, dendam, pengkiantan dan penindasan. Yerobeam memberontak karena irihati, tapi hal yang dijadikan alasan, karena pajak yang dikenakan sangat berat. Ini penindasan. Ia berkianat kepada Salomo, yang telah menjadikannya pejabat.
6
Kedua, dalam altar cinta, diri kita adalah persembahan untuk orang lain. Memberi lebih mulia daripada menerima, apalagi mencuri. Untuk itu kita harus berdoa kepada Bapa di surge, seperti Yesus yang berdoa untuk melipatgandakan jumlah roti dan ikan.
7
Mari jadikan diri kita sebagai altar cinta yang membawa kehidupan bagi orang lain. Untuk itu kita harus bersatu dengan Yesus, Sang Altar cinta ilahi melimpahkan semua kebutuhan kita.

