Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Wisuda yang Tidak Sekadar Mekar, tetapi Bertumbuh
Gagasan

Wisuda yang Tidak Sekadar Mekar, tetapi Bertumbuh

By Redaksi24 Februari 20265 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Rafael Lumintang
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Rafael Lumintang
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Nusa Tenggara Timur

Momen wisuda kerap dirayakan sebagai “momentum puncak tinggi keberhasilan akademik.” Hal ini tentunya tidak terasa asing bagi kita sekalian, karena hampir semua universitas di Indonesia pernah atau sering melakukannya.

Di panggung itulah, jerih payah dan perjuangan bertahun-tahun diberi pengakuan, disambut dengan applause meriah, dan ditandai dengan simbol-simbol perayaan yang diangap lumrah.

Karangan bunga berjejer rapi, mengirimkan ucapan sekaligus membingkai kelulusan sebagai peristiwa yang layak dirayakan secara meriah. Namun, di balik background keindahan itu, jarang ada pertanyaan tentang apa yang tersisa setelah perayaan usai.

Akhir-akhir ini, sejumlah kampus di Indonesia mulai mengganti “tradisi karangan bunga” dengan bibit tanaman.

Dikutip dari media Kompas.com, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mulai mengubah tradisi perayaan wisuda dengan membatasi bahkan melarang pengiriman karangan bunga. Sebagai gantinya, kampus mendorong “penggunaan bibit tanaman hidup.”

Deretan kampus yang melarang “karangan bunga untuk wisuda” adalah Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, Universitas Padjadjaran, dan yang terakhir Universitas Airlangga.

Transformasi ini menunjukan perubahan budaya lingkungan pendidikan tinggi. Alih-alih hanya menjadi ruang belajar formal, kampus juga berperan sebagai laboratorium sosial untuk praktik gaya hidup berkelanjutan.

Kalau kita memperhatikan secara sekilas langkah ini tampak sederhana, bahkan sepele. Namun justru dalam keugahariannya, tersimpan pergeseran makna yang penting. Perayaan kelulusan tidak lagi berhenti pada “estetika sesaat,” tetapi mulai diarahkan pada “kesadaran ekologis” dan tanggung jawab jangka panjang.

Hal seperti seremonial wisuda pun tidak hanya diberi bingkai sebagai momen “mekar” yang indah dan segera berlalu, melainkan sebagai ajakan untuk bertumbuh bersama “dunia yang kini semakin rapuh.”

Dari Perayaan Estetis ke Kesadaran Etis

Kembali lagi pada “momen wisuda” yang selama ini dipahami sebagai punjak perjalanan akademik, sebuah momen legitimasi sosial atas perjuangan bertahun-tahun.

Ia dirayakan dengan simbol-simbol yang dianggap wajar, toga, panggung megah, dan karangan bunga yang berjejer sebagai tanda apresiasi.

Namun, justru dalam kewajaran itulah problem etis sering tersembunyi dengan rapi dalam arsip-arsip kenyamanannya. Karangan bunga yang tampak anggun dan penuh makna emosional itu, dalam hitungan hari, berubah menjadi limbah. Ia meriah di mata, tetapi singkat dalam makna.

Ketika beberapa Universitas di Indonesia sudah mulai mengganti “tradisi karangan bunga dengan bibit tanaman,” terjadi distorsi simbolis yang patut dikritisi secara tajam.

Perayaan tidak lagi sepenuhnya berorientasi pada dimensi “estetika itu,” tetapi mulai menyentuh dimensi yang lebih otentik yakni, “dimensi tanggung jawab ekologis.”

Wisuda tidak hanya menjadi momen euforia yang bersifat temporal, indah, dirayakan, lalu selesai begitu saja. Ia sejatinya diajak mengajak bergerak menuju sesuatu yang lebih lambat, lebih sunyi, dan lebih berjangka panjang.

Di tengah situasi kompleks dan krisis lingkuangan yang kian nyata, transformasi kecil ini menunjukan bahwa cara kita “merayakan pun memiliki bobot moral.”

Bibit sebagai Kritik atas Budaya Konsumsi Akademik

Bibit tanaman yang dalam konteks ini membawa makna yang sangat berbeda dari “karangan bunga.” Ia tentunya tidak menawarkan kepuasan instan, tidak langsung “selesai pada hari perayaan,” dan tidak berhenti sebagai objek dekoratif yang segera layu.

Bibit tanaman  justru mendekonstruksi makna, ia baru berarti jika ditanam, dirawat, dan dijaga agar dapat tumbuh.

Dalam konteks dunia akademik atau pendidikan tinggi, simbol ini terasa sangat relevan. Pendidikan sejatinya bukan produk akhir yang tuntas saat ijazah atau toga dilepas, melainkan proses keberlanjutan secara kontinuitas dalam diri manusia.

Penggantian simbol di atas juga dapat diinterpretasi secara kritis sebagai kritik diam terhadap budaya konsumsi yang kerap menyelinap ke “ruang akademik.”

Wisuda dalam konteks ini sering kali terpenjara “dalam logika pamer,” semakin besar, semakin mahal, dan semakin meriah. Dalam hal ini, muncul anomali, seolah-olah keberhasilan intelektual harus diukur lewat kemewahan visual.

Bibit tanaman mendobrak “kenyamanan paradigam aitu” secara halus namun tegas. Ia sederhana, tidak spektakuler, bahkan nyaris sunyi, tetapi justru di titik itulah “nilai dan daya edukasinya.”

Oleh karena itu, Universitas tanpa banyak slogan mengajarkan bahwa keberhasilan intelektual tidak harus dirayakan dengan pemborosan, melainkan dapat ditandai dengan “kesediaan merawat kehidupan dan masa depan bersama.”

Melampui Kesadaran Palsu dalam Terang Pemikiran Herbert Marcuse

Herbert Marcuse adalah seorang filsuf Jerman-Amerika, yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh kunci Mazhab Frankfurt.

Marcuse memilki pandangan filsosfis yang sangat menarik dan tajam berkaitan dengan “kebutuhan-kebutuhan palsu.”

Menurut dia, masyarakat modern dibangun atas apa yang ia sebut sebagai kebutuhan-kebutuhan palsu, kebutuhan yang tampak wajar, bermoral, tetapi sesungguhnya menopang kontinuitas sistem konsumsi dan dominasi.

Dalam perspektif masyarakat industri, dominasi tidak lagi bekerja terutama melalui paksaan, melainkan “melalui kepuasaan.”

Ada begitu banyak praktik sosial memberi rasa “cukup” dan “peduli” tanpa pernah menyentuh akar persoalan yang merusak manusia dan alam. Duduk persoalan inilah, perayaan wisuda berisiko menjadi bagian dari mekanisme penenangan nurani kolektif.

Dalam paradigma Marcuse ini, tradisi karangan Bungan dalam wisuda dapat dibaca sebagai “kebutuhan simbolik yang direproduksi tanpa refleksi kritis.” Ia diterima sebagai kelaziman, diulang sebagai, dan dikonsumsi secara masal yang tidak mengenal lelah.

Fenomena inilah yang bagi Marcuse disebut “masyarakat satu dimensi,” praktik yang problematis dianggap biasa karena terasa normal dan menyenangkan.

Menggantikannya dengan “bibit tanaman” bisa menjadi langkah liberasi. Bibit tanaman harus menjadi pintu masuk untuk membingkar logika konsumsi itu sendiri, bukan sekadar mensubstitusi wajahnya agar tampak lebih etis.

Dalam semangat filosofis Marcuse, ia tentunya memberikan kontribusi untuk pemecehan masalah yang ada.

Baginya, solusi yang kuat terletak pada “pendidikan sebagai praksis emansipatoris,” yang berarti pendidikan tidak sekadar menyesuaikan individu dengan sistem, melainkan membentuk kesadaran kritis terhadap sistem tersebut.

Universitas tidak cukup mengganti benda, melainkan perlu menata ulang “makna terdalam wisuda”. Ia perlu membatasi budaya konsumsi berlebihan, mengaitkan perayaan kelulusan dengan “komitmen ekologis yang otentik.”

Wisuda yang bertumbuh adalah wisuda yang meliberasi dari ilusi bahwa keberhasilan harus “dirayakan melalui konsumsi,” dan mengarahkan kesadaran terdidik pada cara hidup yang lebih sederhana, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

Rafael Lumintang
Previous ArticleGMNI Jakarta Ajukan Nota Keberatan ke Presiden soal Perjanjian Dagang Indonesia–AS
Next Article Mantan Sekda Mabar Kritik Kebijakan Hery Nabit Rumahkan PPPK Paruh Waktu di Manggarai

Related Posts

“Wajah” Kebenaran dan Kontrol Sosial di Era Digital

17 Maret 2026

Terang yang Menelanjangi

14 Maret 2026

Ketika Tanah Air Belum Menjadi Rumah

14 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Dermaga Kesetiaan di Rahim Bintuni

17 Maret 2026

Bupati Ngada Cabut SK Pengangkatan Sekda

17 Maret 2026

Kuasa Hukum Minta Penyidik Periksa Dewan Pengawas Notaris dalam Kasus Albert Riwu Kore

17 Maret 2026

Poktan Laudato Si Kenda Terima Subsidi KWI Rp32 Juta untuk Ternak dan Hortikultura

17 Maret 2026

DKPP Manggarai Barat Gelar Gerakan Pangan Murah Jelang Idul Fitri

17 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.