Kupang, VoxNTT.com – Jelang Musyawarah Provinsi (Musprov) Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia (TI) Nusa Tenggara Timur, nama Ridwan Sujana Angsar mencuat dalam bursa calon Ketua Umum.
Aparat penegak hukum yang kini menjabat Kepala Kejaksaan Negeri Kota Medan itu disebut-sebut menjadi salah satu figur sentral dalam percaturan kepemimpinan taekwondo di NTT.
Ridwan mengakui dirinya bukan berasal dari latar belakang taekwondo. Ia menyebut besar dari cabang olahraga sepak bola dan tidak pernah masuk dalam struktur pengurus taekwondo di NTT.
“Saya ini besar di sepak bola, bukan di taekwondo. Saya memang tidak pernah masuk dalam struktur pengurus Taekwondo di NTT,” ujarnya di Kupang pada Senin, 2 Maret 2026.
Keterlibatannya di dunia taekwondo, kata dia, berawal dari keluarga. Istrinya, Melani Abdullah Duru, merupakan mantan atlet taekwondo yang kini aktif mengelola Dojang Adhyaksa Taekwondo Club. Anak-anaknya juga tercatat sebagai atlet.
“Dukungan saya selama ini semata-mata untuk mendukung istri dan anak-anak. Istri saya mantan atlet kemudian membuka Dojang Adhyaksa di Kejati NTT, anak-anak saya sekarang atlet. Kalau mau tahu apa yang sudah saya berikan untuk Taekwondo NTT, silakan tanyakan saja ke atlet dan pelatih,” katanya.
Nama Ridwan dikenal di kalangan taekwondoin NTT melalui perannya sebagai pendiri sekaligus Ketua Dojang Adhyaksa Taekwondo Club Kejati NTT. Di bawah kepemimpinannya, dojang tersebut disebut konsisten melahirkan atlet yang berkompetisi hingga level nasional serta mengikuti kejuaraan internasional di Bali dan Timor Leste.
Ia juga beberapa kali menggagas kejuaraan di Kupang, termasuk Open Tournament Kajati NTT Cup yang melibatkan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di NTT serta Timor Leste.
Ridwan menilai pembinaan atlet harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Ia menyoroti minimnya atlet NTT yang bergabung di pemusatan latihan nasional (Pelatnas).
“Kita harus evaluasi bersama. Potensi atlet NTT besar sekali. Tapi pembinaan harus terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. Kompetisi harus rutin dan berjenjang,” tegasnya.
Menurut dia, jika NTT ingin berprestasi pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 saat menjadi tuan rumah bersama Nusa Tenggara Barat, persiapan harus dilakukan sejak dini melalui pembinaan usia muda, peningkatan kualitas pelatih dan wasit, serta penguatan kalender kompetisi daerah.
Dalam kontestasi Musprov, Ridwan menyatakan tidak melihat kandidat lain sebagai lawan, melainkan sebagai potensi kolaborasi.
“Ketiga kandidat lainnya juga bagus. Kalau semua energi baik bisa dikolaborasikan, Taekwondo NTT akan jauh lebih maju,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum Pengprov TI NTT, ia menyatakan siap jika mendapat dukungan.
“Kalau didukung oleh semua, saya siap membangun Taekwondo di NTT,” katanya.
Musprov Pengprov TI NTT akan digelar sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi, sebagaimana ditegaskan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI). Hingga kini, tahapan pelaksanaan disebut tetap berjalan tanpa penunjukan caretaker.
Kontestasi tersebut dinilai bukan sekadar perebutan jabatan, melainkan momentum menentukan arah pembinaan dan prestasi taekwondo NTT ke depan.
Penulis: Ronis Natom

