Oleh: Florentina Ina Wai
Namaku Atma Masa. Aku hanyalah sebuah buku tua. Tubuhku ringkih, terjilid oleh benang-benang rindu yang mulai rapuh. Dulu, sampulku putih bersih. Kini, warnanya menguning seperti daun kering, dengan sudut-sudut yang berubah cokelat pudar. Itu adalah bekas sentuhan jari-jari yang berulang kali membelai luka yang sama. Aku tampak antik, tapi sebenarnya aku sedang lelah. Seperti cinta yang dipaksa bertahan melampaui waktunya.
Aku adalah penjaga rahasia Lembayung. Perempuan itu membawa mendung di pelupuk matanya. Di dalam halaman-halamanku yang berwarna krem, aku memenjara kisah tentang Kala. Kala adalah detak jantung tulisan ini. Kala adalah roh yang menghidupkan setiap lembaranku.
Sore ini, kami duduk di Pantai Watotena. Langit sedang bersiap untuk tidur. Pantai ini indah sekali. Pasir putihnya membentang seperti permadani, menantang birunya Selat Boleng. Di ufuk barat, matahari terbenam memerah, seolah melukai cakrawala dengan warna jingga yang pedih. Cahayanya memantul di laut, berkilau seperti berlian yang pecah.
Di kejauhan, Gunung Ile Boleng berdiri megah, menjaga gerbang tidur para arwah dengan jubah hijau hutannya. Di seberang sana, daratan Lembata terlihat samar, seperti pasangan kekasih yang dipisahkan oleh lautan. Di kaki gunung, ombak berkejaran menuju tepi, menggoda bebatuan hitam bekas magma yang diam membisu. Batu-batu itu tegak, kontras dengan air laut yang berubah dari toska menjadi biru tua.
Jemari Lembayung yang pucat menyentuh serat kertasku. Seketika, aroma itu muncul. Aroma Jagung Titi yang baru diangkat dari tungku. Wangi itu menyerbu, membawa sesak yang menghujam hati. Melalui aroma ini, aku menyeret Lembayung kembali ke setahun lalu, masa di mana dunianya belum runtuh.
Di atas batu hitam ini, Kala pernah berlutut. Ia menyuapkan sebutir jagung hangat pada Lembayung. Perjamuan cinta yang sederhana. Saat itu, Kala mengeluarkan cincin perak bermotif ombak.
“Aku ingin menjadi pantai tempatmu pulang,” bisiknya waktu itu.
Namun, alam punya skenario lain. Janji itu patah. Laut menjemput Kala dalam sebuah kecelakaan perahu, meninggalkan Lembayung dengan lamaran yang menjadi nisan tanpa kubur.
“Halaman sembilan belas, Lembayung,” bisikku dalam diam. Aku tak ingin dia berhenti membaca. Aku tak ingin dia pergi dari kenangan ini.
Tapi, kesunyian itu koyak saat sesosok pria datang. Namanya Biru. Sesuai namanya, ia seperti samudera yang hidup. Matanya jernih, memancarkan ketenangan yang bisa menenggelamkan duka. Ia melangkah tenang, lalu menyampirkan kain tenun yang tebal ke bahu Lembayung. Tekstur kain itu terasa hangat, sangat berbeda denganku yang dingin dan dimakan rayap waktu.
“Lembayung,” suara Biru sejuk seperti angin Watotena, membawa aroma garam laut yang segar. Perlahan, wanginya membasuh aroma jagung titi yang menyesakkan itu. “Matahari sedang berpamitan untuk kembali esok hari. Mengapa kau masih betah menetap di malam yang tak kunjung usai?”
Aku, Atma Masa, merasa cemburu. Tubuh gadingku gemetar. Warnaku menggelap. Tinta-tintaku seolah menari liar, luntur dan tumpah seperti air mata hitam.
Aku sadar sesuatu. Hidup adalah bahtera yang harus berlayar, dan aku hanyalah jangkar berkarat yang menahan perahu Lembayung agar tidak bergerak. Aku adalah perahu karam yang menghalangi dermaga.
Perlahan, seluruh tulisanku menguap. Halaman-halamanku kembali putih bersih, seputih kain kafan. Sesaat sebelum aku benar-benar bisu, sebuah kalimat terakhir terukir dengan rasa sakit yang dalam: “Kenangan adalah rumah yang indah untuk dikunjungi, tapi terlalu dingin untuk ditinggali selamanya. Aku adalah dermaga yang kau bakar agar kau punya alasan untuk mulai berenang kembali.”
Lembayung menutup tubuhku perlahan. Klik. Suara sampulku yang tertutup terdengar seperti penutup peti mati, namun juga seperti pintu yang baru saja terbuka. Tangannya tidak lagi gemetar. Ada keteguhan baru di sana.
Ia berdiri, membiarkanku tergeletak sendirian di atas batu magma Watotena. Ia berjalan menjauh, menggandeng tangan Biru menuju arah matahari yang telah tenggelam.
Di langit, senja menunaikan tugasnya. Senja adalah janji yang jujur; ia rela hancur memberi ruang bagi rembulan. Langit merona jingga, seperti perpisahan yang tak menyimpan benci. Senja pergi hanya untuk membuktikan bahwa ia akan datang lagi besok.
Lembayung menatap kaki langit. Ia tersenyum kecil. Ia sadar, Kala memang telah hilang seperti matahari yang tenggelam. Tapi cinta yang ditinggalkan Kala akan terbit kembali dalam bentuk baru—seperti Biru yang kini menggenggam jemarinya.
Lembayung melangkah maju. Ia kembali tertawa, kembali bernapas sebagai manusia yang utuh. Duka kehilangan memang tak pernah sembuh tanpa bekas. Ia menjadi prasasti di dada yang tetap ada, tapi tak lagi berdarah. Lembayung tidak melupakan Kala, ia hanya berhenti menjadikannya alasan untuk tidak bahagia.
Aku tertinggal di sana, membeku di atas batu. Aku adalah buku kosong yang akhirnya mengerti hakikat cinta yang paling menyayat: Mencintai seseorang yang telah tiada adalah tentang merawat taman di tengah padang salju. Kau tahu bunganya takkan pernah mekar lagi, tapi kau tetap menyiramnya dengan doa. Agar kau tidak lupa bagaimana caranya menjadi manusia.
Cinta adalah ingat. Cinta adalah lara. Dan cinta, pada akhirnya, adalah keberanian untuk melepaskan.

