Labuan Bajo, VoxNTT.com – Suasana di jantung Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, pada Minggu pagi, 29 Maret 2026, tampak berbeda. Halaman Mapolsek Lembor yang biasanya diisi aktivitas administratif dan operasional keamanan, berubah menjadi titik awal prosesi religius umat Katolik.
Lebih dari 1.000 umat dari Paroki Santa Familia Wae Nakeng memadati lokasi tersebut untuk mengikuti perarakan Minggu Palma. Pemilihan halaman kantor polisi sebagai titik awal prosesi menghadirkan simbol sinergi antara institusi negara dan lembaga keagamaan.
Tepat pukul 08.00 Wita, pemberkatan daun palma dimulai. Ritual dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Richardus Manggu. Dalam suasana khidmat, ia memerciki daun palma yang diangkat umat dengan air suci.
“Hari ini kita memulai perjalanan sengsara Tuhan dengan sukacita kemenangan. Simbol daun palma yang kita bawa adalah lambang kerendahan hati dan kedamaian yang harus kita bawa ke tengah masyarakat,” ungkap Rd. Richardus Manggu dalam pengantar liturgi.
Di tengah kerumunan, Kapolsek Lembor Vinsensius Hardi Bagus tampak hadir dengan seragam lengkap. Ia menyebut penggunaan halaman kantornya sebagai kehormatan.
“Kami keluarga besar Polsek Lembor merasa sangat terhormat halaman kantor kami dijadikan titik awal peribadatan yang suci ini. Ini bukan sekadar penggunaan lahan, tapi wujud nyata pelayanan kami untuk memastikan umat dapat beribadah dengan rasa aman dan nyaman,” ujar IPDA Vinsensius saat ditemui di sela-sela prosesi.
Ia menambahkan, momen ini juga menyampaikan pesan damai kepada publik.
“Memulai prosesi dari halaman Polsek adalah simbol bahwa Polri dan Gereja berjalan beriringan demi kedamaian. Ini adalah bentuk keterbukaan kami terhadap seluruh kegiatan keagamaan masyarakat,” tambahnya.
Perarakan dan “Yerusalem Kecil”
Usai pemberkatan, barisan umat bergerak menuju Gereja Paroki. Iring-iringan sepanjang sekitar 300 meter menyusuri jalur utama Lembor, diiringi nyanyian “Hosanna” yang menggema. Jalanan pun seolah berubah menjadi “Yerusalem kecil”.
Peristiwa ini menarik perhatian warga dan pengendara. Meski ribuan orang memenuhi badan jalan, arus lalu lintas tetap terkendali.
Menurut Kapolsek, pengamanan dilakukan melalui koordinasi lintas instansi.
“Dalam pengamanan ini, kami tidak bekerja sendiri. Kami dibantu penuh oleh rekan-rekan dari Koramil 1630-02/Lembor, staf Dinas Perhubungan Kabupaten Manggarai Barat, serta anggota Satpol PP Kecamatan Lembor,” jelasnya.
Personel gabungan ditempatkan di sejumlah titik persimpangan untuk memastikan kelancaran prosesi.
Salah seorang umat, Maria (45), mengaku terkesan dengan suasana perayaan tahun ini.
“Rasanya sangat sejuk melihat kami bisa berkumpul di kantor polisi untuk berdoa. Kami merasa dilindungi dan dihargai sebagai warga negara sekaligus umat beragama,” tuturnya.
Simbol Harmoni Ruang Publik
Perayaan Minggu Palma di Wae Nakeng tahun ini mencerminkan praktik toleransi yang konkret. Ruang publik yang biasanya identik dengan fungsi negara, menjadi wadah ekspresi spiritual masyarakat.
Kelancaran prosesi, pengamanan yang humanis, serta keterlibatan berbagai unsur menunjukkan sinergi lintas sektoral yang efektif. Bagi warga Lembor, peristiwa ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan penegasan nilai kebersamaan.
Di tengah dinamika sosial, perarakan ini menjadi gambaran tentang kemungkinan harmoni antara aparat, agama, dan masyarakat—sebuah “kemenangan kasih” yang hadir dalam praktik keseharian.
Penulis: Isno Baco

