Kupang, VoxNTT.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nusa Tenggara Timur bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) berkolaborasi dengan masyarakat Desa Lakekun Barat, Kecamatan Kobalima Barat, Kabupaten Malaka, melakukan pengerukan sedimen di saluran sekunder BLK 4 hingga BLK 7 serta normalisasi Sungai Lo’o.
Kegiatan tersebut dilakukan menyusul penumpukan sedimen tanah berpasir akibat banjir yang terjadi pada Jumat hingga Minggu, 24–26 April 2026. Sedimen yang terbawa arus sungai menyebabkan saluran irigasi tertimbun dan mengganggu distribusi air ke lahan pertanian.
Saluran sekunder tersebut diketahui mengairi sekitar 420 hektare lahan fungsional di Lakekun Barat dan 350 hektare di Desa Lakekun. Kepala Bidang Sumber Daya Air PUPR NTT, Frumen Paju, mengatakan sebagian besar lahan saat ini memasuki masa panen musim tanam pertama (MT1), sementara sebagian kecil lainnya memasuki MT2.
“Saat ini sebagian besar fungsional sawah akan memasuki panen MT1 dan sebagian kecil memasuki MT2,” ujar Frumen pada Kamis, 30 April 2026.
Ia menjelaskan, kegiatan pengerukan dan normalisasi ini merupakan bentuk kolaborasi antara Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas PUPR, BBWS Nusa Tenggara II, Pemerintah Kabupaten Belu, serta masyarakat petani yang tergabung dalam P3A.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir sejumlah pejabat terkait, di antaranya Kabid SDA PUPR NTT Frumen Paju, Kepala Seksi Pelaksanaan SDA Thomas Saga, PPK TP OP Wilayah Timor 1 Carles Leda, Kepala UPI BBWS Nusa Tenggara II Sipri Nahak, perwakilan Dinas PUPR Kabupaten Malaka Yoseph Bere, serta Kepala Desa Lakekun Barat Hendrikus Seran Nahak.
Frumen menyebutkan, tumpukan sedimen dipicu oleh luapan sejumlah sungai, yakni Kali Lo’o, Kali Solo, dan Kali Serin, yang membawa material ke dalam saluran irigasi.
“Akibat banjir kemarin dari Kali Lo,o dan Kali Solo, Kali Serin bawa sedimen masuk di dalam saluran jadi tertimbun rata dengan tanah,” jelasnya.
Ia menambahkan, penanganan cepat tersebut merupakan bagian dari perhatian Pemerintah Provinsi NTT dalam memastikan sektor pertanian tetap berjalan optimal, mengingat Daerah Irigasi Malaka merupakan salah satu sentra produksi pangan, khususnya padi dan jagung, sekaligus menjadi lumbung pangan di Kabupaten Malaka dan NTT.
Daerah Irigasi Malaka mendapatkan pasokan air dari Daerah Aliran Sungai Benanain. Bendung Benanain melayani kawasan irigasi dengan luas potensial mencapai 10.386 hektare dan luas fungsional 7.789 hektare. Kawasan ini diketahui memiliki tiga musim tanam dalam setahun, dengan indeks pertanaman padi mencapai 150 persen serta ditunjang tanaman palawija dan hortikultura pada musim tanam ketiga.
Frumen juga menyampaikan bahwa Dinas PUPR melalui program Tugas Pembantuan Operasi dan Pemeliharaan Irigasi (TP OP) secara rutin melakukan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder setiap tahun.
“Untuk Pemeliharaan Bendung Benanain dilaksanakan oleh BBWS NTT,” pungkasnya.
Frumen berkata, Gubernur NTT Melki Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma memerintahkan seluruh OPD, termasuk Dinas PUPR NTT, untuk segera merespons bencana banjir di Daerah Irigasi Malaka, Kabupaten Malaka, yang menyebabkan saluran irigasi sekunder tertutup sedimen berupa tanah, pasir, dan kerikil.
Penulis: Ronis Natom

