Oleh: Yulianus Minggu
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang
Sejarah kehidupan, perkembangan dan peradaban manusia selama berabad-abad sebagian besar dipengaruhi oleh pendidikan. Tanpa bergelut dalam ranah pendidikan, manusia terjebak dalam ketidaktahuan yang hakiki bahkan sama sekali tidak akan mengalami perkembangan intelektual yang baik.
Sebagai contoh konkret terdapat banyak negara maju dipengaruhi oleh pendidikannya yang berkualitas, seperti negara Jepang, Singapura dan negara-negara di daratan Eropa pada umumnya.
Ketika melihat fenomena di atas terdapat ironi yang mengejutkan apabila berhadapan dengan problem yang sedang hangat dibicarakan perihal masalah pendidikan di NTT.
Hal ini berkaitan langsung dengan meningkatnya angka putus sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai menengah.
Melalui data yang disampaikan secara langsung oleh salah satu editor majalah Cakrawala NTT dalam suatu kesempatan seminar di bawah tema “menumbuhkan kegiatan literasi anak,” terdapat 145.268 anak putus sekolah. Angka ini tentunya sangat memprihatinkan.
Dari sejumlah besar anak yang tidak menempuh pendidikan dan putus sekolah, terdapat beberapa faktor yang ada di dalamnya. Salah satunya ialah problem kehidupan keluarga. Dinamika kehidupan keluarga juga menjadi bagian dari formasi pembentukan karakter dan masa depan anak terutama berkaitan langsung dengan pendidikannya.
Kehidupan keluarga menjadi elemen penting yang perlu diperhatikan. Berbicara tentang kehidupan keluarga tentu berkaitan erat dengan sakramen pernikahan dalam gereja katolik.
Sakramen Pernikahan Bukan Sekadar Upacara
Sakramen pernikahan adalah proses pengukuhan keputusan bersama untuk membangun bahtera kehidupan keluarga dan mengembangkan nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari.
Pernikahan di satu sisi memiliki dimensi Ilahi di mana pengukuhannya terjadi pada saat pemberkatan nikah di depan altar dan disaksikan oleh banyak pihak agar dinyatakan sah dan layak di hadapan Allah dan manusia.
Pernikahan itu kudus karena penerima sakramen membangun komitmen dan totalitas seluruh hidup untuk setia dengan pasangannya sampai maut memisahkan, terlaksana di hadapan Allah, yang bersumber dari rahmat permandian yang dibawa oleh Kristus menjadi daya sakramen (Prodeita, 2019).
Pilihan hidup pada umumnya memiliki tujuannya masing-masing, sama halnya dengan pernikahan. Pernikahan antara laki-laki dan perempuan memuncak pada kehidupan bersama dan berpotensi memiliki anak.
Suami dan istri memelihara anak sebagai bagian dari tugas yang wajib dilaksanakan dalam membuktikan kesetiaan sakramen pernikahannya. Suami dan istri dipanggil untuk bertanggungjawab atas kehidupan dan masa depan anak teristimewa pendidikannya.
Keluarga menjadi tempat anak-anak tumbuh dan berkembang serta menjadi sekolah pertama dengan berbagai pelajaran penting yang bahkan tidak diberikan oleh sekolah formal pada umumnya.
Keluarga juga merupakan wadah bagi anak dalam mendapatkan bimbingan praktis dari setiap hasrat keingintahuannya sebagai manusia di awal kehidupannya dalam dunia.
Hubungan Sakramen Pernikahan dan Kesadaran Pendidikan
Berkaitan dengan kondisi pendidikan anak dengan angka putus sekolah yang meningkat di NTT sendiri, sejatinya perlu dievalusai dan menanamkan kesadaran bersama bahwa pendidikan sangat penting bagi siapa pun terutama bagi anak.
Di manakah peran orang tua, apabila ditinjau dari problem ini? Pendidikan bukan hanya tugas para guru di sekolah formal melainkan juga peran dan tanggung jawab orang tua. Artinya mendidik anak juga bagian dari tugas orang tua di luar jadwal sekolahnya.
Sakramen perkawinan bukan saja sebuah panggilan hidup yang dicanangkan untuk hidup bersama atas keputusan bebasnya, tetapi juga harus menghidupkan nilai kasih kristiani. Misalnya orang tua yang merawat dan membesarkan anak serta mendidik mereka sesuai dengan ajaran iman kristiani. Pola inilah yang mesti menjadi alarm bagi keluarga.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak perlu
diperhatikan dan ditingkatkan untuk mensejahterakan kehidupan keluarga dan terlebih khusus untuk kepentingan anak dalam menata masa depannya.
Orang tua yang memahami betapa berartinya sebuah pernikahan akan sangat bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Apabila pola dan kesadaran akan pendidikan yang baik bagi anak diterapkan, akan membentuk moralitas dan tingkat inteligensi anak yang baik pula.
Tantangan Keluarga di NTT
Ada beberapa faktor lain yang menjadi tantangan tersendiri dalam proses pendidikan anak-anak di NTT. Selain faktor internal seperti kondisi keluarga, juga terdapat faktor eksternal seperti faktor ekonomi, pernikahan usia muda, kurangnya pemahaman pentingnya pendidikan, dan pengaruh lingkungan atau budaya tertentu yang memiliki prespektif negatif terhadap pendidikan itu sendiri.
Dari beberapa tantangan di atas yang paling serius dihadapi sekarang adalah faktor ekonomi. Faktor Ekonomi menjadi persoalan yang kerapkali dipersoalkan.
Hal ini memaksa anak-anak mamendam keinginannya dalam menentukan jalan pilihannya untuk mencapai orientasi pendidikannya sendiri. Dengan kata lain anak-anak telah kalah sebelum berlaga di medan pertempuran kehidupannya.
Secara umum masyarakat NTT juga terkenal dengan adat dan budayanya yang masih terpelihara dengan baik. Problemnya adalah dalam budayanya sendiri kemiskinan tercipta dan tuntutan adat yang memeras kekuatan ekonomi masyarakat.
Banyak pihak yang mulai meragukan praktik budaya yang memiskinkan ini. Kaya akan adat dan budaya tetapi justru menciptakan kemiskinan dan kemelaratan.
Peran Gereja dan Masyarakat
Selain memiliki tugas untuk mengayomi umat, Gereja tidak hanya fokus pada persoalan bagaimana memperbaiki sikap iman yang lebih terstruktur, tetapi juga mengemban tugas untuk membangun sumber daya manusia melalui penyuluhan sosial dan menyadarkan masyarakat betapa pentingnya pendidikan (Darmawan, 2014).
Anak-anak sebagai peserta didik, membutuhkan dukungan moral dan partisipasi keluarga untuk mematangkan karakter serta mempertajam proses belajarnya.
Selain imbauan kepada Gereja, perlu adanya kebijakan dari pihak pemerintah untuk berpartisipasi dan mengabdi masyarakat dalam memberikan dukungan kepada anak-anak yang kurang mampu agar menyediakan sarana dan prasarana yang bermanfaat, sehingga dapat menciptakan kegiatan belajar yang aman dan kondusif.
Kewajiban mendidik anak telah menjadi tugas orang tua. Tugas ini mencerminkan aksi nyata praktik cinta kasih dalam keluarga. Selain membutuhkan kepekaan, keluarga juga perlu mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan yang berguna bagi keharmonisan keluarga termasuk kesadaran pentingnya pendidikan anak.
Dari hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebehasilan menciptakan suasana kehidupan yang baik, akan sangat berpengaruh pada masa depan anak dan pendidikan mereka.
Gereja sebagai pusat spiritual dan sumber nilai kasih kristiani tidak hanya memantau praktik iman yang benar, tetapi juga memperhatikan dinamika kehidupan umat di NTT, yang akan melahirkan generasi-generasi gereja yang handal dan kompeten dalam membangun NTT menjadi lebih baik.

