Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»TdF dan Masalah Pariwisata NTT
Gagasan

TdF dan Masalah Pariwisata NTT

By Redaksi12 Juni 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Tour de Flores jilid 1 (Foto: The Jakarta Post)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Eras San*

Mahasiswa STFK Ledalero

Tour de Flores jilid II sebentar lagi akan dilaksanakan, tepatnya pada tanggal  24 sampai 29 Juli 2017. Event internasional ini dalam pandangan pemerintah sangat berpeluang untuk menarik wisatawan ke Flores. Karenannya, event ini patut didukung.

Saat ini pemerintah kabupaten di seluruh Flores sedang mempersiapkan segala sesuatu dalam rangka menyukseskan event ini. Rapat koordinasi antar bupati dan gubernur serta pihak terkait telah dilaksanakan guna membahas persiapan event.

Hal ini menunjukkan betapa pemerintah serius untuk mendukung kegiatan ini. Dana miliaran rupiah pun tak segan-segan digelontorkan guna mendukung ajang balap sepeda internasional ini.

Pengembangan sektor pariwasata di Flores tentu harus didukung oleh masyarakat sejauh pemerintah tidak tutup mata terhadap persoalan lain (misalnya kemiskinan).

Kemiskinan di NTT pada umumnya dan Flores khususnya sudah pada taraf yang mengkhawatirkan. Peringkat buntut untuk provinsi dengan tingkat kemiskinan selalu melekat dengan provinsi ini.

Hal ini harus jadi pertimbangan pemerintah dalam setiap program pembangunan. Sangat tragis kalau pemerintah tidak menyibukan diri untuk menyelamatkan rakyatnya dari lingkaran setan kemiskinan sementara di depan mata masyarakat akan berhadapan dengan persaingan ekonomi melalui investasi pariwisata.

Penggunaan dana miliaran rupiah untuk event ini tentu memunculkan banyak tanya. Apakah layak dana miliaran rupiah digelontorkan untuk pesepeda yang HANYA lewat di daerah kita?

Sementara pada saat yang sama kemiskinan merajalela di NTT. Ulasan tentang layak dan tidaknya dana tersebut dapat diketahui melalui pembedahan makna event ini.

Masalah Pariwisata

Tour de Flores haruslah dilihat sebagai sebagai investasi untuk masa depan. Event-event sekelas Tour de Flores tentu bertujuan untuk mempromosikan aset pariwasata kepada turis yang mungkin belum mengenal Flores dan segala aset wisata di dalamnya. Praktisnya mereka (turis) dapat mengunjungi Flores di masa depan sehingga mendongkrak pemasukan daerah.

Pemerintah pun kegirangan dalam ambisi imajinatif itu. Pemerintah tak ragu menargetkan ribuan turis akan mengunjungi Flores dalam waktu dekat. Setidaknya kunjungan ke Flores meningkat pasca Tour de Flores.

Sebagai ajang income untuk masa depan, pemerintah harus memperhatikan persolan yang santer sekarang ini. Pemerintah tidak boleh “dininabobokan” dengan target besar di masa depan sementara persiapan masyarakat menyongsong dunia pariwisata masih rendah.

Kemiskinan yang menyebar rata di seluruh NTT harus jadi prioritas pemerintah. Solusi harus digalakkan guna membebaskan masyarakat NTT dari kemiskinan.

 

Seperti yang kita lihat sekarang pedagang besar menguasai sektor ekonomi di NTT sementara pedagang kecil tidak lagi memiliki tempat dalam kanca persaingan ekonomi. Belum lagi bicara soal partisipasi masyarakat dalam membaca peluang pariwisata.

Pertanyaan mendasar adalah bisakah masyarakat NTT turut berpartisipasi dalam investasi pariwisata sementara pada saat yang sama masih didera oleh kemiskinan ekonomi, rendahnya kualitas pendidikan dan skill serta mental berwirausaha yang belum memadai?

Soal lain misalnya polemik di Manggarai Barat mengenai kepemilikan Pantai Pede yang sedang hangat dibicarakan.

Persoalan seperti ini harus diselesaikan dengan cepat oleh pemerintah. Jangan sampai niat untuk mengembangkan pariwisata dicederai oleh permasalahan internal pemerintah (Bdk. Masalah kepemilikan Pantai Pede).

Sehingga fokus pemerintah nantinya tidak hanya pada ranah masalah tetapi lebih ke ranah pengembangan pariwisata yang berdampak langsung bagi rakyat.

Persolan-persoalan seperti ini harus diperhatikan pemerintah. Pemerintah harus peka terhadap permasalahan seperti ini kalau mau pariwisata NTT berdampak langsung bagi masyarakat.

 

Jangan sampai jargon “demi kesejahteraan masyarakat” dijual demi kepentingan kroni pejabat saja dan penguasaha kaya yang berdiri di belakangnya. Alhasil masyarakat hanya menjadi penonton dalam semarak bisnis pariwisata di NTT.

Previous ArticleJelang TdF, Badan Jalan Negara di Ende Mulai Tambal Sulam
Next Article PWMB Minta Polisi Tetapkan Tersangka Kasus Pengusiran Wartawan Berita Satu TV

Related Posts

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.