Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Beras untuk ASN di TTU Kotor dan Bau, Ini Penjelasan Bulog Kefamenanu
Regional NTT

Beras untuk ASN di TTU Kotor dan Bau, Ini Penjelasan Bulog Kefamenanu

By Redaksi12 Juli 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Charles Mandonsa, Kepala Gudang Bulog Tubuhue Kefamenanu
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu,Vox NTT-Aparat Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkup Pemkab TTU mengeluhkan kondisi beras jatah yang diterima setiap bulannya.

Pasalnya kondisi beras tersebut pecah-pecah, kotor dan berbau.

“Kami terima beras begini sejak bulan Januari 2017, kalau tahun lalu bagus,” ungkap seorang ASN yang meminta namanya dirahasiakan Rabu, (12/7/2017).

Sumber VoxNtt.com ini menjelaskan kondisi beras yang diterimanya, selain kondisinya buruk rasanya juga tidak enak lain dari biasanya.

Dia berharap agar ke depan tidak lagi mendapatkan beras dengan kondisi seperti itu lagi.

“Pak lihat ini beras saja, ini binatang makan juga tidak suka, kami ini manusia jadi tolong kasih beras dengan kondisi baik sedikit,” ungkapnya dengan nada kesal.

Kepala Gudang Bulog Tubuhue Kefamenanu, Carlos Mandonsa saat dikonfirmasi media ini di ruang kerjanya mengaku kondisi beras jatah memang seperti itu.

Ia menjelaskan untuk tahun ini, Presiden melarang Bulog untuk melakukan Impor dari luar negeri.

Presiden menginginkan harus menggunakan beras hasil produksi dalam negeri.

Sistem mol manual serta penyimpanan yang terlalu lama diduga sebagai penyebab dari kondisi beras yang buruk.

“Tahun – tahun lalu kita impor dari Vietnam, tapi mulai tahun ini kita pakai produk dalam negeri karena pak Presiden sudah larang untuk impor,” jelas Mandonsa.

Lebih lanjut Mandonsa mengungkapkan kondisi ini bukan hanya dialami di TTU. Namun dialami di seluruh kabupaten di provinsi NTT. (Eman Tabean/VoN)

TTU
Previous ArticleMario G. Klau Akan Diundang Ramaikan HUT Flobamora Papua Barat
Next Article Dipecat dari PDIP, Yakobus Susu Ajukan Gugat‎an ke PN ‎

Related Posts

Pengda INI dan IPPAT Manggarai Barat Sosialisasikan Hukum Pertanahan di Desa Batu Cermin

9 Juli 2026

Pater Gabriel Meo Rayakan 40 Tahun Imamat, Umat dan Pemerintah Hadiri Misa Syukur di Kererobbo

9 Juli 2026

Musda IV Partai Golkar Nagekeo, Jalan Mulus untuk Robby Tulus

5 Juli 2026
Terkini

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026

Bupati Matim Dorong Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Manggarai Raya

20 Juli 2026

Bupati Manggarai Harap Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Daerah 3T

20 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026

PMKRI Perkuat Komitmen Kawal Pembangunan dan Kebijakan Nasional

20 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.