Mbay, VoxNTT.com – Musyawarah Daerah (Musda) IV Partai Golkar Kabupaten Nagekeo yang digelar di Aula Pondok SVD, Rabu, 27 Juni 2026, berujung gejolak internal setelah Ketua DPD I Partai Golkar Nusa Tenggara Timur, F. X. Alain Niti Susanto, menetapkan Petrus Berkmans Robby Tulus atau Robby Tulus sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Nagekeo periode 2026–2031 secara aklamasi. Keputusan tersebut memicu kekecewaan sejumlah kader, bahkan sebagian di antaranya menyatakan keluar dari Partai Golkar.
Serilus Iskandar Goa menjadi kader pertama yang menyatakan mundur dari keanggotaan Partai Golkar. Ia menilai penetapan Robby Tulus tanpa kompetisi telah mengabaikan kemampuan kader-kader lokal yang selama ini membesarkan partai.
“Memangnya kami di Nagekeo ini orang bodoh semua, sampai tidak diterima dalam kepengurusan yang baru? Ada apa ini? Partai sebesar Golkar tidak seharusnya seperti ini. Saya jujur sangat kecewa,” ujar Serilus.
Menurut Serilus, ia memahami kekecewaan DPP Partai Golkar atas merosotnya perolehan suara Golkar pada Pemilu Legislatif 2024 di Kabupaten Nagekeo. Dari sebelumnya menguasai tiga kursi DPRD sekaligus kursi pimpinan dewan, Golkar kini hanya menyisakan satu kursi.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak semestinya dijadikan alasan untuk menetapkan ketua secara aklamasi. Sebab, Golkar Nagekeo masih memiliki sejumlah kader loyal yang telah mempersiapkan diri untuk maju sebagai calon Ketua DPD II.
Ia menilai nama-nama seperti Anton Moti, Kristosomus K. Gore, hingga putra mantan Bupati Nagekeo, Rano Aoh, masih memiliki pengaruh dan kapasitas untuk mengembalikan elektabilitas Partai Golkar di daerah. Akan tetapi, keputusan DPD I Golkar NTT yang menetapkan Robby Tulus dinilai telah menyepelekan kemampuan kader Golkar Nagekeo.
“Saya sangat kecewa. Tujuan kita membesarkan Partai Golkar, tapi jangan sampai lumbungnya sendiri yang dibakar,” katanya sebelum meninggalkan ruang sidang Musda dan menyatakan keluar dari Partai Golkar.
Keputusan Serilus tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia dikenal sebagai salah satu kader militan yang berperan dalam strategi pemenangan Golkar di Nagekeo. Serilus bahkan mengaku ikut berkontribusi pada kemenangan Golkar pada Pemilu Legislatif 2019 hingga berhasil meraih tiga kursi DPRD.
Kekecewaan Serilus dipicu oleh pernyataan Ketua DPD I Partai Golkar NTT, F. X. Alain Niti Susanto, yang menyebut penugasan Robby Tulus merupakan arahan langsung dari DPP Partai Golkar sebagai pemegang otoritas tertinggi, serta atas arahan Wakil Ketua Umum Partai Golkar yang juga Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena.
Dalam kesempatan itu, Alain tidak menjelaskan secara rinci alasan dipilihnya Robby Tulus. Ia hanya menyatakan bahwa penunjukan tersebut diharapkan mampu meningkatkan perolehan suara sekaligus mengembalikan marwah Partai Golkar di Kabupaten Nagekeo.
Pernyataan tersebut juga dinilai sebagai tamparan bagi Ketua DPD II Partai Golkar Nagekeo periode sebelumnya, Kristianus Dua Wea.
Beberapa bulan sebelum Musda, Kristianus memang secara resmi telah menyatakan tidak akan kembali mencalonkan diri sebagai Ketua DPD II dalam rapat persiapan Musda pada Mei 2026. Keputusan itu diambil karena alasan moral.
Kristianus mengaku bertanggung jawab atas sejumlah kegagalan Golkar selama masa kepemimpinannya, di antaranya berkurangnya perolehan kursi DPRD dari tiga menjadi satu, serta kekalahan pasangan calon bupati yang diusung Partai Golkar pada Pilkada.
Menurutnya, pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran bagi kepemimpinan Golkar berikutnya agar tidak mengulangi keputusan-keputusan politik yang berdampak pada menurunnya elektabilitas partai.
Namun, meski ia mengaku menghormati keputusan DPP atas penetapan Robby Tulus secara aklamasi, hal tersebut justru menambah beban moral yang ia rasakan.
Selain merasa gagal menyiapkan kader penerus, Kristianus juga menilai proses penunjukan tersebut berpotensi menimbulkan pro dan kontra di internal partai hingga ke tingkat kepengurusan yang lebih tinggi.
“Melalui perenungan, saya menyadari dan bertanggung jawab atas tiga kegagalan tersebut. Saya izin pamit dari Golkar Nagekeo,” ujar Kristianus kepada VoxNtt.com, Rabu pekan lalu.
Meski memutuskan meninggalkan Partai Golkar, Kristianus mengaku tetap menghormati partai berlambang pohon beringin itu.
Menurutnya, Golkar telah menjadi bagian penting dalam perjalanan politiknya, mulai dari membentuk karakter kepemimpinan hingga mengantarkannya menjadi anggota DPRD dan pimpinan dewan.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

