Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Merayu Waktu (Puisi-Puisi Erny Adar)
Sastra

Merayu Waktu (Puisi-Puisi Erny Adar)

By Redaksi26 November 20162 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Erny Adar*

Sedih

Selamat malam sedih
Sudah lama kau tak kurasakan lagi
Kali ini kau datang
Membawa luka yang sudah basi

Selamat malam sedih
Berapa lama kau akan singgah..
Janganlah terlalu nyaman
Tak punya iman sindir Tuhanku nanti

Merayu Waktu

Bisakah kau merayu waktu?
Membuat rasa ini abadi
Tak bisa jawabmu
Waktu saja tak abadi

Kau dan Aku

Jika aku batu
Kau harus jadi batu juga
Tak bolehlah kau jadi air
Batu dan batu sepaham
Air dan batu, sepahamkah menurutmu?

Jika ada yang bilang kau harus jadi air dan aku batu
Abaikan saja cakapnya itu
Tak mengerti hidup dia

Jika kau tanya apa aku mengerti hidup
Jadilah batu sama seperti aku
Pahamkan dirimu?

Kasih

Aku tidak pergi
Aku hanya ingin menyendiri
Sejenak menepi
Dari rasa sakit di hati

Aku rindu
Kurasa kau juga begitu
Bisakah kau menunggu
Aku tau kau begitu

Pengalih Sepi

Tak ada riuh lagi di pohon kapuk itu
Tak ada pertanda buruk yang perlu ditafsirkan
Tak ada jendela dan pintu yang tergesa harus ditutup
Kemana gagak-gagak itu pergi?
Entah kenapa aku merasa sepi

Hilang

Ohh, ternyata burung gereja itu tidak pergi..
Ia hanya duduk bertepi
Di ujung bawah tangga gereja tua itu
Terlalu riuh di dalam katanya

Ahh, sepi lihatku
Diapun bersiul keras
Kau tak bisa melihat ledeknya
Percuma besar biji bola matamu

Aku melengos pergi dan jengkel
Peduli setan kau burung kecil
Siulannya semakin riuh..
Dari jauh kudengar teriaknya
Hilangkah hatimu tuan?

Baca Juga: Tentang Malam, Sepi dan Rindu


Erni Adar adalah gadis kelahiran Maumere, 1 Juli 1993. Setelah menamatkan D4 kebidanan di Universitas Nasional Jakarta, sekarang ia sebagai salah satu staf pengajar di STIKES, St. Paulus, Ruteng.

Previous ArticleAir Terjun ‘’ Tiwu Wali “ Bagai Taman Eden di Bumi Manggarai
Next Article Ini Tiga Nama Calon Gubernur NTT yang Diusung DPC PDIP Kabupaten Ende

Related Posts

Bersama Senja: Antologi Puisi Cantikan Christiany Dapa

18 Juli 2026

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026
Terkini

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026

Bupati Matim Dorong Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Manggarai Raya

20 Juli 2026

Bupati Manggarai Harap Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Daerah 3T

20 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026

PMKRI Perkuat Komitmen Kawal Pembangunan dan Kebijakan Nasional

20 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.