Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Tahun 2018, Ini Data Kasus Kematian Bayi dan Ibu di Puskesmas Danga
KESEHATAN

Tahun 2018, Ini Data Kasus Kematian Bayi dan Ibu di Puskesmas Danga

By Redaksi31 Januari 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi melahirkan
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT-Kasus kematian bayi dan ibu di tahun 2018  yang ditangani Puskesmas Danga Kabupaten Nagekeo sebanyak 11 orang. Sementara di tahun 2019 belum ada.

“Total kematian bayi dan ibu di tahun 2018 di wilayah Kecamatan Aesesa sebanyak 11 orang. Sementara di awal tahun 2019 belum ada,” kata Kepala Puskesmas Danga, Claudia Pau saat ditemui VoxNtt.com di ruang kerjanya, Kamis (31/1/2019) siang.

Claudia mengatakan berdasarkan data di Puskesmas Danga sejak awal tahun sampai akhir tahun 2018 tercatat 9 bayi dan dua ibu yang meninggal.

“Kematian ibu dan bayi itu terjadi di rumah sakit Ende 4 orang, RSUD Bajawa 1 orang, RSD Aeramo 1 orang, Puskesmas Danga 1 orang, dan dua meninggal di rumah. Sementara ibu meninggal di RSUD Ende 1 orang dan RSUD Bajawa 1 orang,” jelasnya.

Menurutnya, ada beberapa penyebab yang memicu kematian bayi. Di antaranya, karena mengalami kelainan jantung, terkena diare, tersedak sehingga gagal napas, sampai tempurung otak yang tidak sempurna.

“Kebanyakan penyebabnya memang bawaan, sehingga bayi meninggal,” ujar Claudia.

Selama ini, lanjut dia, upaya untuk menekan kematian pada ibu dan bayi terus dilakukan. Seperti pemantauan aktif terhadap ibu hamil yang dilakukan bidan desa.

Dikatakan, kematian ibu dan bayi biasanya terjadi pada yang statusnya hamil berisiko tinggi. Di antaranya adalah usia ibu hamil yang masih di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun.

Selain itu, jarak kehamilan kurang dari dua tahun serta berat dan tinggi badan ibu hamil juga punya kaitan dengan risiko tinggi.

“Kami juga memberikan nutrisi bagi ibu hamil,” terangnya.

Sementara itu, lanjut Claudia untuk kematian bayi selain karena beberapa sakit dan kelainan bawaan, juga disebabkan pola hidup ibu hamil. ”

Pola hidup selama masa hamil itu penting. Jangan sampai merokok, mengonsumsi miras, kekurangan vitamin dan gizi, serta aktivitas terlalu tinggi, karena ini juga berisiko terhadap kesehatan bayi,” ujarnya.

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Ardy Abba

Nagekeo Puskesmas Danga
Previous ArticleAmppera Desak Kejaksaan Usut Tuntas Dugaan Korupsi Proyek Jembatan Waima
Next Article Selama Januari 2019, Ada 325 Pasien KLB DBD di Mabar

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

Dapur MBG Gako Dihentikan karena Berdiri di Atas Tanah yang Telah Diserahkan ke Pemda

3 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.