Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Parade Puisi Chan Setu
Sastra

Parade Puisi Chan Setu

By Redaksi30 Juni 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

TUNGKU API

Bumbu-bumbu rumahmu berbaur dengan bambu-bambu halar yang semakin reyot dirayap tangan-tangan mungil nan nakal. Aku sarankan, sarung tanganmu dipakai sebelum ada pencuri yang mencuri tangan mulus ke dipan dapur rumah seorang ibu mertuamu bertamu dan menetap.

Wanita itu akrab dengan tungku api, bukan?

Ibu, 2019.

TUAN(TUAN)

Tuan-tuan….

Siapkan doa pada kursi kedudukkanmu sebelum habis ajalmu dihadapan malam dengan bulan dan beribu bintangnya.

Ende, 2019

KENANGAN

Sudah selesai waktuku, sehabis mungkin air mata dari tilik-tilik bambu mengeram angin.

Kelak, ku panggil kembali jejak kakiku biar sehabis tersapu hapus masih ku kenal di sini aku sempat berdamai dengan diam dan malam

Hidup selalu punya alur untuk mengenang dan pulang.

Puncak Mageria, 2019

GADIS

Tak seharusnya bertuan di rumah jika pembantu hengkang dengan harap dan kata, kabar pun tak harus selalu dibidik toh jika sudah habis waktumu kau kan sadar kau bukan siapa-siapa lagi dan tak berharga lagi (kedaluarsa) mungkin? Toh itu rumah, siapa saja bisa datang, menginap dan pergi bahkan sekadar berlibur.

Jika itu bukan rumah dan kekacauan di balik selimut malammu ada baiknya lekas pergi tanpa harus diusir.

Rumah, tempat kita harus pulang dan kembali.

Detusoko, 2019

PENULIS

Chan Setu, mahasiswa STFK Ledalero semester II. Saat ini menetap di Wisma Mikael, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Penulis merupakan salah satu anggota ASAL dan Altheia Ledalero.

 

Chan Setu
Previous ArticleHasil Audit LKPD Tahun 2018, Matim Raih Opini WTP
Next Article Antologi Puisi Martinus Meli

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.