Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Kisah Arsen yang Luput dari Perhatian Pemerintah
Feature

Kisah Arsen yang Luput dari Perhatian Pemerintah

By Redaksi18 Juli 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Arsen sedang duduk di kursi buatan ayahnya
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT- Arsenius Go’o, penyandang disabilitas berusia 11 tahun menghabiskan kesehariannya hanya berbaring di atas tempat tidur.

Bocah yang sering disapa Arsen ini, tinggal di Kampung Benteng, Desa Semang, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Arsen tinggal hanya bersama ayahnya bernama Bertolomeus Mere. Ibunda Arsen meninggal sejak dirinya berusia sekitar 3 tahun.

Menurut ayahnya, Arsen mengalami gangguan saraf, yang membuat dirinya tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara, dan tangannya sangat susah untuk bergerak. Selain itu, gangguan saraf tersebut membuat pertumbuhan Arsen terhambat.

Ayahnya yakin, Arsen punya mimpi yang besar. Tentu mimpi itu ialah bisa bermain layaknya anak berusia 11 tahun.

Cinta Bertolomeus kepada Arsen, membuat dirinya memiliki ide untuk merancang khusus tempat duduknya. Kursi terbuat dari kayu, layaknya roda yang sering dipakai anak-anak berusia 1 tahun.

Dengan tempat duduk itu, sesekali Arsen bisa bergeser dari tempat tidurnya untuk merasakan juga kenikmatan duduk di atas sebuah kursi.

Kursi buatan ayah Arsen

Ayahnya sangat menyayangi Arsen. Namun karena keadaan, tiap pagi hingga sore hari Arsen harus ditinggalkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai penjaga tempat penggilingan padi.

“Saya harus kerja tiap pagi sampai sore hari di penggilingan. Arsen saya tinggalkan di rumah di atas tempat tidur,” kata Bertolomeus.

Bertolomeus menyadari dirinya tidak boleh melakukan hal itu. Tetapi kata dia, keadaanlah yang memaksa dirinya untuk tetap bekerja.

“Tidak mungkin saya bawa Arsen ikut saya di penggilingan. Kasihan juga dia,” tegasnya.

Bertolomeus mengaku sebelum dia bekerja Arsen selalu diberi makan.

“Untuk siangnya, kalau waktu kosong saya lari sebentar ke rumah melihat Arsen,” imbuh Bertolomeus.

Hingga 11 tahun Bertolomeus merawat Arsen, bantuan dari pemerintah, baik Desa maupun Kabupaten tidak pernah ada.

“Sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah pak,” katanya.

Setiap tahun kata Bertolomeus, dia dan Arsen sering didata untuk dijanjikan bantuan. Namun hingga kini bantuan sedikitpun dari pemerintah tidak pernah diberikan.

“Saya lupa dari mana. Tapi kami sering didata tiap tahunnya. Dijanjikan untuk dapat bantuan, sampai sekarang tidak pernah,” ungkapnya.

Bertolomeus berharap suatu saat nanti, Arsen dapat diperhatikan oleh pemerintah. Hal itu kata dia, agar paling tidak Arsen dapat selalu tersenyum tiap harinya.

Penulis: Sello Jome
Editor: Ardy Abba

Manggarai Barat
Previous ArticleTerkait Masalah Tanah, Relawan Jokowi NTT Gelar Aksi Demonstrasi
Next Article Pemprov NTT Siap Bangun 10 Rumah Layak Huni Setiap Desa Per Tahun

Related Posts

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.