Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Tekan Angka Stunting, Puskesmas Betun Aktifkan Peran Pos Gizi
KESEHATAN

Tekan Angka Stunting, Puskesmas Betun Aktifkan Peran Pos Gizi

By Redaksi15 Oktober 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Irene Tei Seran, Kepala Puskesmas Betun (Foto: Frido Raebesi/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Betun, Vox NTT- Puskesmas Betun, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka terus mengaktifkan peran pos gizi untuk mengidentifikasi balita. Ini juga untuk menekan angka stunting.

“Pos gizi merupakan pos pelayanan yang dilakukan di posyandu dengan melakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan balita, dan kemudian mengidentifikasi apakah balita tersebut masuk ke dalam kategori gizi buruk atau tidak,” papar Kepala Puskesmas (Kapus) Betun, Irene Tey Seran di Betun, Selasa (15/10/2019).

Penerapan pos gizi menurut Irene , dilakukan secara bertahap. Untuk tahap pertama digelar selama 12 hari dan telah berjalan sejak 10 September lalu.

Sasarannya adalah anak-anak yang mempunyai masalah gizi di wilayah kerja Puskesmas Betun.

Terpisah, Pelaksana gizi Puskesmas Betun Gesela Maria Manuni menguraikan, kegiatan pertama yang dilakukan dalam pos gizi ini adalah melakukan pendataan sasaran melalui pengukuran di posyandu.

Itu dilakukan oleh kader dan divalidasi oleh petugas kesehatan, terutama data antropometri dan status gizi.

Kemudian tambah dia, hasil pendataan disampaikan pada musyawarah masyarakat desa yang dipimpin oleh Kepala Desa. Hal ini untuk menentukan tempat dan waktu pelaksanaan pos gizi.

Maria menjelaskan, selama 12 hari berturut-turut peserta pos gizi bayi (6-11 bulan) dan balita (12-59 bulan) beserta ibunya, akan dikumpulkan di pos gizi.

Ini untuk memantau pertambahan berat badannya, mengajarkan personal hygiene, dan melakukan game.

Kemudian, orangtua didampingi kader, belajar mengelola makanan keluarga yang bergizi seimbang dengan menggunakan pangan lokal.

“Dan ilmu yang diberikan berbeda-beda setiap harinya,” terang Maria.

Menurut dia, hal ini dilakukan agar angka stunting pada anak-anak yang ada di Betun, Kecamatan Malaka Tengah bisa turun.

Penulis: Frido Raebesi
Editor: Ardy Abba

Malaka Puskesmas Betun
Previous ArticleDiskominfo NTT Gelar Dialog Masalah Human Trafficking di Malaka
Next Article Setelah Evaluasi, Festival Wonderful Indonesia Kembali Digelar

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.