Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Pemerintah Umumkan 64 Kasus DBD di Ende
KESEHATAN

Pemerintah Umumkan 64 Kasus DBD di Ende

By Redaksi5 Maret 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Pemerintah Kabupaten Ende kembali mengumumkan kasus demam berdarah dengue (DBD) di awal tahun 2020. Tercatat, ada 64 kasus yang terjadi di Kabupaten Ende.

“Dari posisi kemarin diangka 64 kasus DBD yang terakumulasi dari seluruh wilayah di Kabupaten Ende,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Ende, dr. Muna Fatma, Rabu (04/03/2020).

Kadis Fatma menyatakan, jika dibandingkan dengan tren peningkatan jumlah kasus DBD pada tahun sebelumnya, justru tahun ini angkanya menurun.

Hal itu karena pemerintah terus berupaya memberantas sarang nyamuk dengan gerakan fogging.

“Kita lihat Kabupaten Sikka sudah masuk kategori kejadian luar biasa. Dengan kejadian jumlah kasus di angka seribuan dan dengan kematian sudah cukup signifikan. Maka, kita di Kabupaten Ende terus bergerak untuk pemberantasan sarang nyamuk,” jelas Fatma.

Ia menerangkan, strategi yang paling bagus untuk mencegah terjadinya DBD adalah gerakan-gerakan untuk pemberantasan sarang nyamuk.

Pemberantasan dilakukan dengan mencari tahu lokus-lokus, di mana kasus itu terjadi.

“Di wilayah utara memang ada tren ada peningkatan. Tapi kami terus surveillance atau mencari tahu. Misalnya masa inkubasi dua minggu, nah kita cari tahu dua minggu itu di mana. Kami tahu dia gigit nyamuk di mana,” katanya.

Dengan itu, maka pemerintah terus melakukan pemetaan kasus dan melakukan fogging.

Fatma berharap kerja sama semua pihak terutama pemerintah desa dan kelurahan pada masing-masing wilayah. Terlebih dalam melakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan lingkungan.

“Sejauh ini memang belum ada yang meninggal dunia. Kita upaya maksimal hingga siklus DBD berakhir dan kita harap juga dukungan dari semua elemen masyarakat,” ujar Fatma.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

DBD DBD Ende Dinkes Ende Ende
Previous ArticleTerpilih Jadi Finalis Duta GenRe Matim, Oktaviana dan Theodorus Bersyukur
Next Article PMKRI Ruteng Segera Gelar RUAC ke-XV

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.