Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»11 Kecamatan di Ende Diserang DBD, Ende Tengah Tertinggi
KESEHATAN

11 Kecamatan di Ende Diserang DBD, Ende Tengah Tertinggi

By Redaksi13 Maret 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende, Flores, NTT menduduki peringkat tertinggi dalam kasus demam berdarah dengue (DBD) di Ende.

Data sementara yang dihimpun Dinas Kesehatan Ende dari awal Januari hingga 10 Maret 2020 menunjukkan, jumlah kasus DBD di Kecamatan Ende Tengah mencapai 36 persen dari total laporan kasus yang diterima dari masing-masing kecamatan, yaitu 88 kasus.

Dari hasil rekapitulasi harian surveilans DBD Kabupaten Ende tahun 2020 menunjukkan Kecamatan Ende Tengah jumlah kasus tertinggi yakni sebanyak 32 kasus.

Kemudian disusul Kecamatan Ende Timur 13 kasus dan Kecamatan Maurole berjumlah 12 kasus. Posisi berikut ialah Kecamatan Ende Utara sebanyak 9 kasus dan Kecamatan Ende Selatan sebanyak 6 kasus.

Sementara Kecamatan Kotabaru berjumlah 5 kasus, Kecamatan Maukaro 3 kasus, Kecamatan Ndona 3 kasus disusul Kecamatan Nangapanda 2 kasus.

Jumlah kasus yang paling sedikit ialah Kecamatan Lio Timur, Kecamatan Ende dan Kecamatan Ndona Timur yang masing-masing berjumlah satu kasus.

Dari 12 kecamatan yang melaporkan hasil rekapitulasi kasus DBD, sisanya ada sembilan kecamatan yang sementara bebas dari kasus DBD.

Masih dari data tersebut, jumlah kasus DBD pada bulan Januari berjumlah 26 kasus, bulan Februari 41 kasus dan per 10 Maret berjumlah 21 kasus.

Sementara pada tingkat usia, DBD menyerang pada usia yang variatif mulai dari usia 1 tahun hingga pada usia 52 tahun. Dari data itu, anak usia dibawah 10 tahun mencapai 64,7 persen dan usia diatas 10 tahun mencapai 35,3 persen.

Pemerintah Belum Optimal

Anggota DPRD Ende Vinsen Sangu menilai, pemerintah secara struktural belum maksimal menurunkan angka kasus DBD di Kabupaten Ende. Respon ini akibat dari meninggalnya seorang warga di Nabe, Maukaro akibat dari DBD.

Menurut dia, kekurangan alat kesehatan (alkes) serta fasilitas kesehatan (faskes) menjadi alasan mendasar pemerintah dalam rangka menurunkan angka kasus DBD.

“Contohnya, ada pasien di wilayah utara yang harus rujuk ke RSUD Ende. Kalau dari jangkauan memang tidak memungkinkan dalam proses penanganan,” katanya, Kamis siang.

“Kemudian, karena RS Pratama sebagai fasilitas kesehatan belum dioptimalkan untuk melayani kesehatan di wilayah utara. Karena yang meninggal ini kan di RSUD Ende,” tutur Vinsen.

Untuk menurunkan angka DBD, Vinsen mengusulkan ke pemerintah untuk menggerakkan elemen masyarakat hingga tingkah bawah.

Pemerintah tingkat kecamatan, desa dan kelurahan serta tingkat RT/RW mesti lebih pro aktif memberantas sarang nyamuk.

“Ada juga kendala oksigen yang harus isi di Maumere dan daerah lain. Ini juga masalah yang harus diperhatikan oleh pemerintah,” tegas Vinsen.

Sebelumnya, Kadis Kesehatan Kabupaten Ende dr. Muna Fatma menerangkan, pemerintah terus berupaya untuk menekan kasus DBD di Ende dengan melakukan gerakan fogging.

Gerakan ini dilakukan untuk memberantas sarang-sarang nyamuk yang dianggap berpotensi.

Selain itu, pemerintah juga terus mensosialisasikan kepada masyarakat untuk sering kali membersihkan lingkungan terutama genangan-genangan air.

“Jadi, ini adalah tugas kita semua untuk memberantas sarang nyamuk,” katanya.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

DBD DBD Ende Ende
Previous ArticleNgada Tak akan Kalah dengan Labuan Bajo
Next Article Puluhan Pelajar SDN Tublopo 2 TTU Terancam Putus Sekolah

Related Posts

Kompak Indonesia Desak Jaksa Agung Ambil Alih Dugaan Korupsi Rp49,8 Miliar di Ende

8 Juli 2026

Kasus Kekerasan Anak di Manggarai Timur Masih Tinggi, Pemkab Siapkan Kanal “Pro-Puan Matim”

20 Mei 2026

PPK Sebut Plafon Ambruk di Puskesmas Narang Tidak Masuk Pengerjaan Rehabilitasi

16 Mei 2026
Terkini

Kepala SMPN Satap Munde Bantah Dugaan Pungli, Sebut Uang dari Orangtua Bersifat Sukarela

22 Juli 2026

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026

Bupati Matim Dorong Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Manggarai Raya

20 Juli 2026

Bupati Manggarai Harap Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Daerah 3T

20 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.