Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Di Beranda Facebook-Antologi Puisi Ischo Frendino
Sastra

Di Beranda Facebook-Antologi Puisi Ischo Frendino

By Redaksi19 Juli 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto:Lampungpro.co)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Cinta Yang Kesepian

Cinta yang kesepian adalah cinta tanpa keluarga

Ayah memeluk amnesia di malam yang paling larut

Ibu beranjak pergi dari kehangatan musim gugur yang tidak ramah

Kaka meninggalkan duka kabar pada angin yang tak bernyawa

Adik yang menepi jumpa pada langit tua renta

 

Siapa cinta itu sebenarnya?

Kepada air mata, duka,derita,

ia tak akan pernah tau

bahwa waktu pernah berlari dan amat manis.

 

Jiwa Yang Anarkis

Jiwa anarkis yang mendiam menerkam rasa

Menusuk batu karang jiwa

Menggusur mimpi cita-cita

 

Otak dihantui kekerasan

Bergegas memberontak pada luka-luka lama

Kata berwajah penindasan

Senantiasa tersenyum mengejek pelu

Sakit rasanya bila sesekali menggeliat dalam ingatan

Tertanam deru dan air mata

Berkelut kelu dan apa makna kebencian?

Bila cuma amarah jadi oksigen pencintraaan.

 

Hidup seperti apakah?

Mengepung bungkam

dalam harmoni pembodohan diri

 

Rumah

Rumah yang paling nyaman adalah diri sendiri

Semua jurus pemanas ada di situ

Ingatan yang hangat

Pelukan tanpa jarak

Kesepian yang menepi

Kesendirian yang menyendiri

 

Pada Jalur-jalur Kedinginan

Melipat jarak, menyeret jumpa

Menanggal sepi pada sepasang kekasih yang mengada-ada

 

Rindu itu menulis di langit malam

dan bulan yang mengeja jadi malu-malu

Seribu dua ribu bintang mendadak insomnia

 

Julur-julur kedinginan jadi kekal dilahap gelap

“Aku lahir malam ini, aku dipeluk kekasih”

Sesaat akan tiba urusan dan ajakan-Nya bersetubuh di langit malam

 

Suara Kerinduan

Kota dengan penghuni yang bising

Bunyi klakson-klakson ketergesahan

Kaki kaki yang pemalas

 

Penghuni akan perlahan mati di kota ini

Kepada mereka yang krisis isi perut

Haus melanda, meninggalkan kegelisahan tanpa jejak

Penyakit-penyakit menular

 

Sedang sesekali di trotoar itu

Anak-anak meminta sisa belas kasihan dan pengampunan

//dan semua itu adalah tentang kerinduan.

 

Sajak Tubuhmu

Sajak tubuhmu terperangkap dalam kata

Menyelusup liar menggeliat

Mengendap penuh arti

Menikam jantung bahasa

Menusuk sampai di dasar lautan arti

 

Sajak tubuhmu isyarat kaya bahasa

Mengingat huruf per huruf

Menjahit menjadi kata yang terpenjara

Selepas itu kemanakah sudah kata itu?

Aku menjawab,

tertahan berpuluh-puluh abad lamanya

Di Beranda Facebook

Kepada isak pilu di beranda Facebook

Menggeliat pada pagi buta dengan menanak beban

 

Tampilan foto berparas lesu

Memamerkan lebam di bawa mata sayup

 

Saat waktu tiba

Pengguna Facebook melongo

 

tampilan beranda

Sesekali diberi emoticon sedih

 

Berkomentar belas kasihan, bertanda simpatik.

Layak seorang Dokter kepada pasien barunya

 

Kisah Dunia Maya memang selalu meninggalkan candu

Tertahan lama, tanpa mengingat waktu

 

Pengguna Facebook memang begitu

Isinya ringan, berat dipikul beban

 

Menetap di pikiran

Mampuslah Dunia .

Kesen(diri)an

Beranjak dari pikiran kacau menyapa

Membuka mata yang kemarin sempat terlelap

Serasa rentetan sunyi menyergap

Entah!!!

‘Membayangkan luka selaksa apa’?

 

Kenapa aku jadi paku

Ratap pilu membekas masa lampau

Menyelinap dalam kesendirian

 

Sesekali berteriak menggema…

 

Kupikir hantu berwujud dalam aku

Seru siapa, menyapa saja

 

Itu aku, dalam aku serasa paku

Mengikat tangis kesepian

Kesendirian yang tragis

Tak ada penolong di situ

Percaya saja!!

Amarah dan kesepian menghubungkan mimpi semalam.

Ischo Frendino Puisi Akhir Pekan
Previous ArticleKepada Fajar-Antologi Puisi Wandro J. Haman
Next Article Menkominfo RI Minta Lembaga Unflor Berperan Pulihkan Ekonomi Rakyat

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.