Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Ada ‘Bangkai’ Korona dalam Tubuh 6 Pasien Sembuh di Sikka, Ini Penjelasan Satgas
HEADLINE

Ada ‘Bangkai’ Korona dalam Tubuh 6 Pasien Sembuh di Sikka, Ini Penjelasan Satgas

By Redaksi21 Juli 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Para pasien yang dinyatakan sembuh dan dipulangkan pada Senin (20/7/2020). (Foto: Are de Peskim/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, VoxNtt.com- Enam pasien terakhir di Sikka akhirnya dinyatakan sembuh. Mereka dipulangkan ke rumah masing-masing pada Senin (20/7/2020).

Artinya saat ini tak ada pasien COVID 19 di Sikka. Meski demikian, ada cerita berbeda dari 6 pasien tersebut bila dibandingkan dengan 21 pasien yang telah sembuh dan dipulangkan.

Pasalnya, mereka didiagnosis memiliki ‘bangkai’ Corona atau COVID 19 dalam tubuh. Kesimpulan tersebut diambil lantaran setelah menjalani 12 kali pemeriksaan swab, hasilnya tetap positif.

Terkait hal itu, dr. Asep Purnama selaku Tim Medis Satgas COVID 19 Sikka menjelaskan pihaknya punya alasan sendiri.

“Kalau pun hasil swab positif tetapi tidak bergejala setelah 10 hari sudah tidak menular lagi alias sudah mati,” ungkap Asep kepada VoxNtt.com di pelataran Ruang Isolasi RSUD dr. T.C. Hillers Maumere.

Dikatakannya pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendeteksi materi genetik sel, virus atau pun bakteri penyebab suatu penyakit.

COVID 19 bisa dideteksi dari materi genetik virus SarCov2. Akan tetapi, apakah materi genetiknya hidup atau sudah mati tidak bisa diketahui hanya dengan PCR Test.

Ditambahkannya, beberapa tempat meneliti pembiakan virus ini misalnya di Singapura oleh National Center of Infectional Desease. Hasilnya, setelah 10 hari virus tersebut sudah mati dan tidak bisa dibiakkan alias tidak menular lagi.

Akhirnya, WHO mengambil pedoman baru. Kalau tidak bergejala, setelah 10 hari boleh dipulangkan dan tidak perlu diisolasi lagi. Artinya, tidak perlu menunggu sampai PCR negatif.

“Kasus kita ini sudah 2 bulan. PCR positif karen mendeteksi materi genetiknya. Kita mengikuti apa yang disampaikan WHO dan Pedoman Revisi Ke 5 Kementerian Kesehatan,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu pasien yang dipulangkan, Veni Febriani mengaku sehat. Selama berada di ruang isolasi tidak menunjukkan gejala COVID 19. Ia mengaku berat badannya naik 5 kg.

Penulis: Are De Peskim

Editor: Irvan K

covid-19 Sikka Virus Corona
Previous ArticleSengkarut Dana Desa Langga Sai Elar Selatan: dari Laporan Polisi hingga Pengembalian Uang
Next Article Bawaslu Manggarai Beberkan Sejumlah Potensi Pelanggaran di Tahap Pemuktahiran Data Pemilih

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.