Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Tiga Hal yang Saya Kenang dari Kantong Ajaib Doraemon
Sastra

Tiga Hal yang Saya Kenang dari Kantong Ajaib Doraemon

By Redaksi4 Oktober 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pintu ke mana saja Doraemon (Foto: ameblo.jp and www.tomochiclothing.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*) Puisi-puisi Matias Aleksandro Sogemaking

 

Petak umpet

Saya menutup mata

Menghitung satu sampai sepuluh

Dan berpikir

Orang yang jalannya paling keren

Menyembunyikan tangannya

Dalam saku celana.

Tiga Hal yang Saya Kenang dari Kantong Ajaib Doraemon

Pintu Ke mana Saja

Saya ingat pernah ingin salah satu dari delapan pintu di rumah dapat membawa sekeluarga pergi berlibur ke pantai, taman, toko buku, restoran cepat saji, atau kampung halaman dengan paling ringkas dan bebas macet. Tapi apa daya, pintu di rumah ini hanya bekas tubuh kayu jati yang mati.

Baling-Baling Bambu

Saya suka pada langit. Itu sudah pasti. Karena kata pastor, doa-doa terbang ke atas bukan ke bawah. Kata bapa, adanya surga di balik awan buat manusia itu harus tumbuh ke atas bukan ke samping. Kata pesawat dengan dengung mesin-sewaktu saya berada dalam dirinya-punggung kau tak ada sayap dan rentan gemetar; apa nyawa kau yakin untuk butuh terbang perluh jatuh dahulu? Memang, nyata selalu dekat dan kita lelah meninggikan perihal yang sederhana.

Nobita

Dia pernah ada dalam kantong ajaibnya doraemon. Beberapa kali. Dan hal paling konyol ketika ia masuk dengan senter pengecil dan mencuri mesin waktu agar menemui neneknya di masa lalu. Dan entah. Saya masih saja tetap tertawa pada sesuatu yang menyedihkan kedua mata.

2020

Perempatan jalan

Kau selalu ada di kepala

Lebih tepatnya,

Saya mengunjungi kau dengan cara amat jauh

2020

Seekor ular

Waktu itu saya tujuh tahun

Dengan menganga depan pintu

Mulut saya berdesis seperti ular

Berkata-kata yang mengenal

Huruf-huruf mati

(Serta gema yang lain dalam dada)

Dan ibu masih sejam lalu

Berkeringat menindih ayah

Yang nyenyak dalam mabuk anggur

Saat sebelumnya mencuri sebotol

Di kapela

Minggu depannya

Saya juga belajar mencuri

Kali ini sebuah apel di atas altar

Yang sedikit terlambat diambil

Yang jadi licin dan licik

Di banding pastor setelah memimpin

Perayaan tadi pagi

Tiba di rumah

Ibu malah memukulku

“Kau tahu

Alasan ibu

Malu telanjang

Depan ayah?”

Saya terpaksa

Berdesis sekali lagi

Mungkin ia akan mengerti

Untuk apa apel ini dicuri

2020

Memperbaiki Jendela

Di kamar ada jendela

Yang pecah akibat pukulan saya

Setelah saya kalah

Adu tatap dengan mata si kucing

Pertandingannya sangat tiba-tiba

Si kucing nongol lalu melihat mata saya

Saya balas melihat matanya

Dan jendela, hamparan hampa antara mata kami berdua

Mungkin juga memperebutkannya

Sampai mata kucing itu tak pernah berkedip

Dan saya menolak tidak

Sebagai satu-satunya orang yang menahan perih

Atau kehilangan cara menangis dari masa kecil

Ia pun pulang sehabis terkejut

Saya berdiam sehabis memukul

Kaca jendela

Retak dan tidak lagi

Melihat paling seru di jalanan

Juga rumah tetangga yang punya anak cantik

Besok saya harus memperbaikinya

Sebaiknya minta maaf pertama

Beralasan kepala saya penuh dengan harapan

Menemukan anak tetangga yang cantik itu

Tapi malah bertemu si kucing

Walau saya tidak yakin apa jendela ini

Satu-satunya tempat

Saya dapat menggunakan mata

Secara baik

2020

*Penulis dengan nama lengkap Matias Aleksandro Sogemaking adalah alumni seminari Hokeng. Kini berdomisili di Kupang dan melanjutkan pendidikan di fakultas ilmu sosial dan politik UNWIRA sebagai mahasiswa program studi komunikasi.

 

Matias Aleksandro Sogemaking Puisi Akhir Pekan
Previous ArticleKita adalah Secangkir Kopi-Antologi Puisi Alexander Wande Wegha
Next Article Gerbong Relawan Semakin Bertambah, Deno-Madur Diyakini Menang Pilkada Manggarai

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.