Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Misi- Antologi Puisi Yohanes Mau
Sastra

Misi- Antologi Puisi Yohanes Mau

By Redaksi13 Desember 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Misi

Yang jauh di langit tinggi itu adalah matahari

Bias senja indah melilit pada jejeran bukit karang

Gerangan siapakah yang melukis ini?

Tuhan mengaturnya demikian

Bekas jari tanganNya masih basah

Menggugah nurani hasrat bersyukur.

 

Musim tak menentu tapi hati tetap pasti

Ada bersama kawanan kecil itu bahagia

Bagai gembala menjumpai kawanan domba yang hilang

Ada diantara kawanan kecil adalah alasan aku tinggalkan yang sulit ditinggalkan

 meninggalkan namun tak tertinggal sendirian.

Inilah misi,

Keluar dari dinding keegoismean dan menjangkau tanpa kalkulasi untung rugi

Terbakar dan mencair bagai lilin di sudut gelapnya dunia.

 

Zimbabwe, November 2020.

Sampai Kapankah?

 

Kami menahan pedih dibawah matahari

Penguasa melirik kami dari singgasana tanpa bahasa

Padahal dialah suara dari suara-suara bungkam rakyat kecil

Yang menaruh harapan akan hawa sejuk

di tengah musim-musim panjang yang tak menentu.

Menyaksikan tragedi suram ini aku terpaku

diam tanpa bahasa bahkan bahasa tubuh pun enggan.

 

Telah lama kami sabar dalam menanti

Namun hingga kini jamahan sejuk tak membelai tubuh negeri

yang rapuh dan panas di tengah sandiwara penguasaku.

Matahari masih bersinar seperti kemarin

Rembulan malam hanya diam

Menahan pedih bersama nasib negeri yang tak menentu.

 

Ah Tuhan sampai kapankah rakus dan tamak ini selesai?

Hingga Nanti

 

Titian ziarah ini panjang

Aku masih setia ziarah di sini

Pada jalan pasir berdebu

Kutahu jalan ini adalah jalan sunyi

Jejak langkah membekas

Sejenak kutoleh ke belakang

Ternyata langkahku makin jauh menjejaki 

Dia yang telah lebih dahulu mencintai totalitas diriku.

 

Kala badai zaman tak menentu lagi

Aku hanya diam makan gulungan KitabNya

Dari butir Sabda hidup hembusakan angin segar

Balutkan kabut hati

Membias di tapak-tapak lorong hidupku.

 

Jalan ini masih panjang

Segalanya ada di sana

Jerit dan tangis

Senyum dan tawa-rai

Bahagia dan duka derita

Adalah racikan energi cinta

Untuk setia pada tapak awalku

Berjalanlah hingga nanti.

 

Zimbabwe, November 2020.

Yohanes Mau

Beliau adalah salah satu penulis buku Antologi Puisi, “Seruling Sunyi Untuk Mama Bumi.”

Kini ia sedang bertualang di Zimbabwe-Afrika.

 

Yohanes Mau
Previous ArticlePerdalam Keterkaitan Empat Suku Besar di TTU, Gregorius Antropolog Group Gelar FGD
Next Article Wela Bajo Hotel dan La Bajo Coffee Tawarkan Sensasi Fasilitas dan Cita Rasa Kopi Flores

Related Posts

Jangan Berteknologi hingga Hilang Kesadaran

17 Mei 2026

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.