Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Beranjak dari Lembata Menuju Tepi Jemari Ibu
Sastra

Beranjak dari Lembata Menuju Tepi Jemari Ibu

By Redaksi11 April 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Puisi

Oleh: Fritz Yofrilolis

Beranjak dari Lembata Menuju Tepi Jemari Ibu

Lembata tampak lebih tua

Sebab menjadi muda tak menjamin napas lebih lama

***

Di bawah kaki Lewotolok

Duka menjadi lebih lama

Lutut-lutut tegar runtuh berkeping-keping

Kekasih tak lagi ramah

Ia tak punya rumah

Hingga senyumnya

Menjadi luka

‘Aku baik-baik saja,

Sebab ibu sudah tenang’

***

Tak ada lagi tanah lapang tempat kaki-kaki berlumpur mencari tawa

Tak ada lagi ‘ori‘

Tuk sekedar melepas lelah dan jumpa

‘Lewo sedang mencari wajah baru lebih muda, sebab ia sudah terlalu tua untuk berdandan dan sekedar menjaga isi lumbung’

***

Lelah tak butuh lekas

Luka tak ingin lupa

Hanya ‘Wata Nuro Tou’

Untuk sekedar lebih lama merawat kenang

Hingga kelak ala wato an’a

Lebih merdu terdengar

Tak lenyap

***

Ahh

Lewotana Lembata

Air mata tak punya mata

Namun ia tahu

Mata mana yang tepat untuk mekar

Duka tak punya rasa

Namun ia tahu

Luka mana yang tepat untuk lelap

“Beranjaklah, ada Ina dengan jemari tua menungggu

Agar bersama kita menuju cahaya”

_______________

* Ori: Gubuk-Pondok (Bahasa Lamaholot)

*Lewo: Kampung (Bahasa Lamaholot)

*Lewotana: Kampung Halaman (Bahasa Lamaholot)

*Wata Nuro Tou: Nasi satu sendok-Sesendok nasi (Bahasa Lamaholot)

*Ala wato an’a: Bunyi meniti jagung (Bahasa Lamaholot)

*Ina: Ibu

__________

*Fritz Yofrilolis adalah Mahasiswa STFK Ledalero dengan hobi ‘mencintai hal-hal yang mustahil, salah satunya kamu’.
Fritz Yofrilolis
Previous ArticleSajak untuk Tuhan
Next Article Matinya Tukang Sensor

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.