Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»INTERNASIONAL»Peringatan NASA: Bumi Timbun Terlalu Banyak Panas
INTERNASIONAL

Peringatan NASA: Bumi Timbun Terlalu Banyak Panas

By Redaksi18 Juni 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Planet Bumi (Foto: NASA)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Vox NTT- Hasil studi dari NASA dan lembaga pengamat cuaca Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration researchers, sejak tahun 2005, jumlah panas yang berada di Bumi kira-kira meningkat dua kali lipat pada saat ini.

Hal ini bisa menimbulkan bahaya jika tidak ditanggulangi.

Fenomena tersebut dikhawatirkan akan terjadi pemanansan global. Hal itu akan menyebabkan naiknya suhu di udara daratan serta mempercepat mencairnya es.

Hasil studi NASA telah dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters.

“Jumlah kenaikannya luar biasa. Bumi ini menjadi panas lebih cepat dari perkiraan,” kata ilmuwan NASA Norman Loeb yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip detikINET, Jumat (18/06/2021).

Menggunakan data yang dikumpulkan dari satelit, para periset mengukur ketimpangan energi Planet Bumi, yaitu selisih antara seberapa banyak energi yang diserap Bumi dari Matahari dan seberapa banyak yang dapat dipantulkan kembali ke luar angkasa.

Ketidakseimbangan positif berarti Bumi menyerap lebih banyak panas daripada yang hilang. Antara tahun 2005 sampai tahun 2019, terjadi peningkatan cukup drastis jumlah panas yang terjebak di Bumi.

Ilmuwan meyakini fenomena ini nyata dan harus diperhatikan dengan seksama.

Alasan di baliknya diduga berkaitan dengan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, seperti karbondioksida dan metana, yang terakumulasi karena aktivitas atau ulah manusia sehingga menjebak panas di atmosfer Bumi, tidak bisa lolos ke antariksa.

Memang masih diperlukan studi lebih lanjut untuk menentukan seluruh faktor yang terlibat dalam fenomena ini, namun dapat bahwa dipastikan manusia turut bertanggung jawab.

“Kita menjadi salah satu penyebabnya,” cetus Loeb.

Penulis: Leo Jehatu /VoN

internasional
Previous Article6 Terdakwa Kasus Keranga Divonis Bersalah, Marten Deo Dapat Hukuman Penjara Terlama
Next Article Wapres Ma’ruf Amin Ajak Masyarakat Bangga Gunakan Produk Anak Bangsa

Related Posts

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026

Jenazah WNA Asal Kanada yang Tewas di Labuan Bajo Diterbangkan ke Bali 

26 Februari 2026

Sehari Hari Hilang, Seorang Nelayan di Maumere Ditemukan Tewas

18 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.