Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Minggu Pagi: Antologi Puisi Yohanes Boli Jawang
Sastra

Minggu Pagi: Antologi Puisi Yohanes Boli Jawang

By Redaksi2 Juli 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yohanes Boli Jawang
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Minggu Pagi

Tak ingin terburu-buru menjumpa daratan

Bila sekali menepakan layar

Sempat jatuh dalam lelap

Terbuai oleh fatamorgana semu

Sadarlah…

Pagi baru saja mulai

Dan cerita belum juga selesai

Berjaga dalam sebuah penantian

Untuk mimpi yang harus terhenti

Memeluk surya mentari pagi

Merajut hari dalam doa 

#Bukit St. Yoseph

Di Manakah yang Lain?

Di mana-mana ada saja mereka

Menyusuri hari penuh peluh dan harap

Di mana mereka?

Mungkin saja mereka sedang bertanya

Manusia sudah semakin tahu tentang dunia

Rasanya dunia mulai tak lagi seramai dulu

Dan bumi menjadi sepi

Hanya mereka saja yang setia 

Setia menjelajah bumi

Suara yang tak pernah di dengar

Ada saja yang dipebincangkan

“Maaf kami tidak punya waktu”

Lalu mereka berlalu tanpa berkeluh

Dan ada juga yang berkeluh

“Siapa kamu? 

Kami tidak mengenalmu

Dunia mungkin hanya mulai tak berjarak

Alam akan berbicara saat bumi mulai berkeluh

#Pemulung Kata

 

Seharusnya Tidak Begitu

Linang duka mengairi dini

Menggores hati, menuai luka

Ramaja usai,

Mengubur mimpi,

Lalu hati suram

Mengapa harus begini?

Memikul perih dalam diam

Lalu siapa yang disalahkan?

Diam menilite jalan penuh keluh,

#Pemulung Kata

Sampai Kapan?

Hanya ada kemungkinan, tanpa ada bayang kepastian

Sama halnya merangkai kisah dalam waktu

Demikian juga detik demi detik, dirangkai menjadi sebuah waktu

Yang kadang membuat kita lupa

Bahwa sampai kapan pun, 

Selalu ada kata yang sama

Bumi jadi tempat berkeluh

Dan alam akan mendengar

Dan mungkin kita akan bertanya

Di manakah Tuhan?

 Tolonglah kami!

#Pemulung Kata#

???

aku menulisnya dari setiap detak jantung yang tak pernah berhenti

Dan dari setiap hembusan napas 

Semua tak pernah tahu

Bahkan alam pun akan bertanya-tanya

Kapan itu?

Aku ingin menikmati senja

Dalam nyanyian camar

Dan lagi rindu mulai berjatuhan di jelaga tubuh pejangga

Langit mulai melukis kisah, 

Tentang sebuah misteri alam

#Pemulung Kata

Yohanes Boli Jawang adalah Mahasiswa S1 Filsafat Univesitas Parahyangan Bandung

Yohanes Boli Jawang
Previous ArticleSempat Jatuh Tapi Akhirnya Bangun
Next Article Covid- 19 dan Makna Fatertelli Tutti

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.