Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Secangkir Kopi dan Angka Keramat
Sastra

Secangkir Kopi dan Angka Keramat

By Redaksi11 September 20216 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Stefan Bandar

“Ayah, silakan kopinya diminum. Nanti keburu dingin” kataku sembari menyodorkan cangkir kopinya. Ayah menatap cangkir itu untuk beberapa saat. 

Tiba-tiba ia menggesernya dengan sedikit kasar hingga cangkir itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Seketika itu juga air matanya mulai berjatuhan.

Semenjak ibu pergi dua tahun yang lalu, ayah berubah menjadi sosok yang asing bagiku. Senyum yang mengembang pada bibirnya kini tiada lagi. 

Kalaupun ia tersenyum, senyumannya itu tidak seindah dulu. Terkadang air matanya jatuh begitu saja. Rupanya kepergian ibu benar-benar menyisahkan luka yang cukup dalam pada hatinya.

Semenjak kepergian ibu, ayah tidak suka lagi menyeruputi kopi hitam. Ayah bukan lagi menjadi sosok pencinta kopi di mana ia tidak dapat melewati hari tanpa menyeruputi secangkir kopi. Bahkan ia berubah menjadi sosok yang membenci kopi.

Harus kuakui bahwa semenjak kepergian ibu, banyak hal yang berubah dalam keluargaku. Mulai dari ayah yang berubah menjadi seorang lelaki pendiam dan pembenci kopi, hingga situasi rumah yang tidak lagi selalu dikunjungi tetangga. Padahal ketika ibu masih ada, hampir setiap hari orang mengunjungi rumahku.

“Apakah ibumu sudah bahagia di sana?” tanya ayah tiba-tiba. “Iya, ayah. Ibu sudah bahagia di sana”, jawabku pelan. Entah mengapa air mata yang sedari tadi kutahan kini mulai jatuh perlahan.

Ia kembali menatap pusara ibu. Matanya kini tertuju pada angka yang ada pada salib. 14-08-2020. Itulah saat terakhir ibu bersama kami. Saat itu pula ibu pergi meninggalkan kami, tepatnya ketika mentari hendak menuju peraduannya. 

_______________________

Aku menarik nafas dalam ketika aku mendengar suara tawa yang menggelegar dari dalam rumah. Heemmm, aku menghela nafas. 

Bukannya aku tidak mengingingkan banyak orang bertamu ke rumahku. Aku hanya merasa malas jika harus mencuci gelas yang penuh dengan ampas kopi. Belum lagi ibu menyuruhku pergi ke kios yang letaknya cukup jauh hanya untuk membeli beberapa batang rokok.

Memang akhir-akhir ini rumahku selalu dikunjungi banyak orang. Pagi, siang, dan sore adalah waktu di mana aku harus menyiapkan tenaga untuk menyambut tamu-tamu yang datang. 

Ada juga di antara mereka yang datang malam hari. Bahkan ada yang datang ketika aku, ayah, dan ibu hendak melelapkan diri pada gelapnya malam.

Semuanya itu tidak terlepas dari kejadian sepuluh tahun yang lalu. Saat itu ayah baru saja pulang dari kebun. Ia dipanggil pak Hubert, seorang lelaki yang ditinggal pergi oleh isterinya, untuk menyeruputi segelas kopi. 

Awalnya ayah menolak tawaran pak Hubert. Namun karena terus dipaksa ayah pun menuruti permintaannya.

Lelaki tua itu menjamu ayah sepiring pisang goreng dan secangkir kopi hitam tanpa gula. Ya, ayah sangat suka menyeruputi kopi pahit tanpa gula. Sesaat kemudian mereka larut dalam pembicaraan. 

Tanpa sengaja ayah mengambil cangkir kopi pak Hubert dan melihat ampas yang menempel pada dinding-dinding cangkir.

Istrimu akan kembali minggu depan, demikian kata-kata ayah memecahkan keheningan di antara mereka. Pak Hubert membalas ucapan ayah dengan tawa dan mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. 

Ayah hanya terdiam mendengar jawaban lelaki tua itu. Dan apa yang dikatakan ayah itu benar. Seminggu setelah hari itu, istri pak Hubert kembali. 

Semenjak saat itulah rumahku penuh dengan pengunjung. Terkadang mereka datang dengan membawa tepung kopi dan beberapa barang makanan lainnya. Bahkan beberapa orang datang meminta ayah melihat nasib mereka di masa depan pada ampas kopi. 

Dan sebelum mereka pergi, mereka selalu memberikan beberapa lembar uang untuk ayah.

Kemampuan unik yang dimiliki ayah bukan hanya diketahui orang yang di dalam kampung. Orang yang di luar kampung, bahkan di desa sebelah, berdatangan untuk sekedar melihat apakah nanti mereka akan memiliki nasib baik atau sebaliknya. Dan yang dikatakan ayah itu memang benar-benar terjadi.

Hal yang tidak pernah luput dari permintaan pengunjung adalah prediksi angka togel. Ya, di kampungku memang sudah menjadi kewajiban judi togel. 

Orang tidak segan-segan mengeluarkan uang guna membeli angka-angka yang seturut prediksi mereka akan keluar. Angka-angka yang diprediksi oleh ayah dari ampas kopi seringkali tidak meleset.

Misalnya saja, suatu hari ayah memprediksi angka togel pada gelas kopi seorang lelaki remaja yang seusiaku. Sesaat kemudian ia menuruti apa yang diprediski ayah. Sunguh luar biasa. 

Angka yang diprediksi ayah benar-benar keluar. Malam harinya lelaki itu datang ke rumah membawa sebuah bingkisan. Ia berterima kasih kepada ayah sebab ayah telah membantunya. Ada banyak lagi kejadian serupa di hari-hari yang lain.

Namun ada satu hal yang tidak bisa dilakukan ayah. Ia tidak dapat melihat masa depanku dan ibu. Meskipun aku dan ibu berkali-kali membujuknya menerjemahkan maksud dari ampas kopi pada dinding cangkir kopi yang kami minum, namun ia tidak pernah memberitahu hasilnya. 

Hal inilah yang membuat aku terkadang membencinya. Aku hanya dijadikan sebagai orang yang membersihkan cangkir-cangkir kopi yang sudah kotor.

Suatu hari, secara sengaja ibu menukar cangkir kopinya dengan cangkir kopi milik salah satu tamu yang datang ke rumah. Ibu hanya ingin melihat apakah ayah benar-benar tidak bisa menebak masa depannya atau sebenarnya ia sengaja tidak mau mempedulikannya. 

“Akh, gelas kamu sungguh luar biasa. Angka yang akan keluar nanti sudah jelas di sini. Di ujung atas cangkir kopimu ini ada angka 1408 tetapi pada dasar cangkir ada angka 2020. Kamu sungguh luar biasa”, kata ayah sembari tertawa lepas.

“Pa, itu gelas ibu”, kata ibu yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur. Tawa yang tadinya menghiasi wajah ayah menghilang seketika. Ia menatap cangkir itu dalam kemudian menghela nafas panjang.

Sesaat kemudia ia masuk ke kamar. Ia mengambil sebuah kertas dan pensil lalu menulis di atas kertas itu. 14-08-2020, demikian ia menulisnya. Ia menatap kertas itu lalu tiba-tiba air matanya tertumpah. Sesaat kemudia ia membaringkan badannya di atas ranjang lalu terlelap.

__________________

Mentari begitu panas menyinari bumi. Ayah bergegas menuju teduhan pohon yang ada di tengah kebun. Di sana ia melepaskan lelah dan menghapus keringat yang menetes pada sekujur tubuhnya. Beberapa saat kemudian ia tertidur. Mungkin karena begitu lelah bekerja seharian.

Tiba-tiba seorang pria tua datang menjumpainya. Pria itu sedikit asing baginya. Pria tua itu menyerahkan sebotol minuman kepadanya. Ayah yang sedari tadi kehausan tanpa berpikir panjang mereguk habis air itu. 

“Jangan pernah kamu mencoba melihat masa depan istri dan anakmu. Jika kamu melakukannya maka kamu akan mendapatkan kecelakaan”, demikian kata lelaki tua itu. Ayah terdiam mendengar perkataan lelaki itu. Apa maksud ucapannya, demikian tanya ayah dalam hati.

Sesaat kemudian ayah sadar. Akh, ternyata hanya mimpi, gumannya dalam hati. Ia mendapatkan seuah botol kososng tepat di samping tempat pembaringannya. Ia menatap botol itu sedikit heran. Siapa yang menaruh botol ini di sini, tanyanya dalam hati. Kemudian ia bangun dan melanjutkan pekerjaannya yakni menyiangi rumput yang sudah cukup tinggi.

Sejak saat itulah ayah memiliki kemampuan melihat masa depan seseorang. Ia juga mampu memprediksi sesuatu dan hal itu benar-benar terjadi. Namun sayangnya semuanya itu harus berakhir tragis. Ia harus kelhilangan ibu, wanita yang sangat dicintainya, karena melanggar aturan dari si lelaki tua yang misterius.

Stefan Bandar adalah anggota Komunitas Biara Regasionis, Maumere

                                  

Stefan Bandar
Previous ArticleMenghidupkan Kembali Pendidikan Karakter yang Mengalami Mati Suri 
Next Article Menjaga Bumi, Mencintai Yang Ilahi

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.