Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Ibu Hamil di Mabar Digotong karena Jalan Rusak, Andre Garu Prihatin
HEADLINE

Ibu Hamil di Mabar Digotong karena Jalan Rusak, Andre Garu Prihatin

By Redaksi9 November 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Andre Garu (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT- Mantan calon Bupati Manggarai Barat (Mabar) Adrianus Garu turut prihatin atas kisah pilu yang boleh dialami Oktaviana Lastri Yono (18), ibu hamil asal Kampung Mbore, Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling.

Pasalnya, untuk mendapatkan fasilitas kesehatan saat melahirkan, Oktaviana terpaksa digotong warga dengan bambu sejauh tiga kilometer pada Senin (08/11/2021) malam. Ia terpaksa digotong lantaran jalan menuju Kampung Mbore belum diaspal oleh pemerintah.

“Saya turut prihatin dengan pristiwa ini,” ucap Andre Garu, sapaan akrab Adrianus Garu, saat dihubungi VoxNtt.com, Selasa (09/11/2021) sore.

Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) periode 2020-2023 itu pun berharap Pemerintah Kabupaten Mabar atau Pemerintah Provinsi NTT segera melakukan peningkatan ruas jalan menuju Kampung Mbore.

“Ruas ini bisa sebagai jalur alternatif kalau suatu saat putus lagi jalan yang sekarang. Jalan ini satu-satunya jalur alternatif,” kata mantan Anggota DPD RI itu.

Dikabarkan sebelumnya, Oktaviani digotong oleh warga setempat selama satu jam tiga puluh menit terhitung sejak pukul 21.30 Wita sampai 23.00 Wita. Jarak tempuh Oktaviani digotong warga yakni sepanjang tiga kilometer dengan titik start Kampung Mbore sampai ke kampung tetangga bernama Culu.

Warga setempat terpaksa menggotongnya karena kondisi Kampung Mbore yang belum memiliki akses jalan aspal. Warga setempat kesulitan mengakses transportasi karena batas akhir ujung aspal hanya sampai di Kampung Culu. Sedangkan jarak ujung aspal dengan kampung tersebut yakni sepanjang tiga kilometer.

Warga mengantar Oktaviana Lastri Yono (18) yang hendak melahirkan anak pertamanya

Selama ini, setiap pasien yang mengalami sakit berat dan hendak diantar ke rumah sakit di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat harus digotong warga, sama seperti yang dialami Oktaviani ini. Dia digotong warga demi melahirkan bayinya dengan selamat.

Salah satu warga Mbore, Paulinus Radung, mengaku di kampungnya terdapat sebuah Poskesdes. Namun, Poskesdes tersebut sudah lama tidak digunakan karena ketiadaan tenaga kesehatan. Para Nakes diduga tidak bersedia mengabdi karena sulitnya akses transportasi dari dan menuju Kampung Mbore.

BACA JUGA: Nasib Ibu Hamil di Mabar, Digotong Warga Sepanjang Tiga Kilometer demi Lahir dengan Selamat

Ia juga mengaku pasien Oktaviani selama digotong dalam perjalanan terus menjerit kesakitan. Warga yang ikut membantu gotong pun sempat dilanda rasa takut sekaligus panik. Mereka takut pasien Oktaviani lahir dalam perjalanan.

Rangka dari bambu yang dirancang warga untuk menggotong Oktaviana Lastri Yono (18) yang hendak melahirkan anak pertamanya

Beruntung, Oktaviani selamat sampai diantar ke sebuah mobil milik warga. Mobil tersebut diparkir di ujung aspal. Warga pun langsung mengantar pasien Oktaviani ke dalam mobil untuk selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Marombok Labuan Bajo.

“Tadi pakai mobil pikap milik Sasis Mali warga Culu, itu dibayar 250.000. Setelah itu langsung dibawa ke rumah sakit,” terang Paulinus.

Paulinus pun mengharapkan agar pemerintah setempat memperhatikan kondisi kampung yang jauh dari akses transportasi agar kisah tentang pasien yang digotong itu tidak terjadi lagi.

“Kami berharap kepada pemerintah untuk bantu kami agar infrastruktur jalan bisa dibangun sehingga tidak ada lagi cerita warga yang gotong pasien di kampung kami ini,” katanya.

Selain infrastruktur, Paulinus juga mengharapkan agar pemerintah mendorong pihak PLN agar kampung mereka dialiri listrik seperti halnya kampung-kampung lain yang ada di Mabar.

“Listrik juga kami belum ada dan itu sudah lama, kemudian selama ini kami masyarakat dengan tokoh-tokoh adat telah berupaya membuat proposal sebanyak 5 kali dan mendatangi Kantor PLN Labuan Bajo dan bertemu dengan Ketua DPR, namun sampai sekarang belum juga terealisasi,” tutupnya.

Penulis: Ardy Abba

Andre Garu Kabupaten Manggarai Mabar
Previous ArticleKasus Dana Desa Naikake B TTU: Mantan Kades Divonis 6 Tahun, Bendahara 4 Tahun
Next Article Paguyuban Maumere Bawakan Tarian Hegong di Hadapan Peserta Konferensi IAWP

Related Posts

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.