Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Tanam Simbolis di Banae, Bupati TTU Siap Dukung Pengembangan Tanaman Kapas
Regional NTT

Tanam Simbolis di Banae, Bupati TTU Siap Dukung Pengembangan Tanaman Kapas

By Redaksi8 Desember 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Bupati TTU Drs. Juandi David saat melakukan penanaman simbolis tanaman kapas di Desa Banae, Rabu, 08 Desember 2021 (Foto: Eman Tabean/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu, Vox NTT- Bupati TTU Juandi David melakukan penanaman secara simbolis tanaman kapas di Desa Banae, Kecamatan Insana Barat, Rabu (08/12/2021).

Terpantau, penanaman secara simbolis yang dilakukan di lahan yang terletak di belakang Kantor Desa Banae itu dihadiri oleh staf ahli, para pimpinan OPD, Kapolsek Insana Iptu Alfonsius Veran Nahak, Danramil Biboki Selatan Lettu Inf.I Wayan Saputra, Camat Insana Barat Melkianus Gawu, Penjabat Kades Banae Ernest Tna’Auni, serta aparat dan BPD dan juga masyarakat setempat.

Kegiatan itu juga dihadiri oleh Ketua Yayasan Kua Mnasi Nedhy Prischilla Neonbeni dan pengurus serta lembaga United In Devercity selaku sponsor utama pengembangan tanaman kapas di Desa Banae.

Bupati Juandi dan rombongan yang tiba di Kantor Desa Banae disambut secara adat.
Itu mulai dengan takanab, pengalungan selendang hingga tarian.

Usai disambut secara adat, bupati dan rombongan langsung diarahkan masuk ke Lopo Desa untuk beristirahat sejenak untuk seterusnya melakukan penanaman simbolis.

Usai penanaman simbolis, dilakukan acara seremonial serta dialog antara bupati dan masyarakat.

Penjabat Kades Banae Ernest Tna’Auni kepada wartawan menjelaskan, keahlian menenun dengan menggunakan benang dari bahan kapas lokal (Ab Meto) saat ini sudah hampir tidak lagi dikuasai oleh masyarakat terutama kaum muda.

Hal itu juga disebabkan oleh bahan baku benang dari kapas tidak lagi ada.

Sehingga saat ada tawaran dari Yayasan Kua Mnasi dan Lembaga United In Devercity langsung diterima oleh pemdes Banae.

“Ab Meto (Benang dari kapas yang ditanam) sudah hampir tidak ada lagi kalau untuk daratan Timor, sehingga saat dapat tawaran itu kita langsung mengiyakan,” tandasnya.

Ernest menjelaskan, lahan untuk pengembangan tanaman kapas di areal yang dilakukan penanaman simblis oleh Bupati TTU sebesar 25 are.

Sebagian besar tanaman kapas lainnya dikembangkan di lahan milik masyarakat.

“Sebagian tanam di pagar kebun, yang lain tanam di antara tanaman mente, total luasan lahan biasa sampai puluhan hektare yang kita kembangkan tanaman kapas ini,” tuturnya.

Ernest pada kesempatan itu mengimbau masyarakat agar fokus untuk mengembangkan tanaman kapas. Untuk selanjutnya bisa digunakan jadi benang untuk dijadikan kain.

Sementara untuk pasar, jelasnya, saat ini sangat menjanjikan lantaran sudah ada komunikasi antara pemdes dan para pembeli di luar provinsi maupun luar negeri.

“Untuk pasar tetap kita jamin, sangat menjanjikan, kita sudah ada komunikasi dengan para pembeli bahkan yang diluar negeri,” ujarnya.

Bupati TTU Juandi David dalam sambutannya menegaskan seiring perkembangan zaman, banyak hal negatif yang juga terjadi.

Salah satunya yakni dengan gampangnya corak khas kain Tenunan asli TTU dijiplak oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Sehingga jika tidak disikapi dengan segera, jelasnya, maka ke depannya corak khas tenunan masyarakat TTU bisa hilang.

“Kalau tidak disikapi maka suatu saat corak khas kita hilang dijiplak pihak luar,” ujarnya.

Bupati Juandi pada kesempatan itu mengakui pengembangan kain tenunan dengan menggunakan benang dari kapas yang ditanam memiliki nilai jual yang tinggi.

Itu lantaran proses pekerjaan yang lama serta pewarnaan yang alami namun tahan lama.

Sehingga Bupati Juandi mengaku dirinya sangat mendukung pelaksanaan pengembangan tanaman kapas di Desa Banae.

“Bantuan dalam bentuk apa saya tidak sampaikan sekarang, tapi pastinya ada,” tutur mantan Kadis PMD TTU itu.

Penulis: Eman Tabean
Editor: Ardy Abba

David Juandi TTU
Previous ArticleSanksi 11 Hotel yang Langgar Sempadan Pantai di Labuan Bajo Capai 34 Miliar Lebih
Next Article Ada Keterlibatan Wartawan di Balik Kasus Narkoba di Ende Disangsikan

Related Posts

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
Terkini

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.