Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Monica: Antologi Puisi Sarina Daiman
Sastra

Monica: Antologi Puisi Sarina Daiman

By Redaksi11 Februari 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Monica

Monica,
Gadis desa yang menanti senja
Memiliki harapan pada cinta seorang pria
Segala langkah diisi dengan khayalan
Menikmati hari tua bersamanya (pacar)

Monica,
Senyumnya tak lagi terlihat
Ketika senja kembali meronta
Mengajaknya tuk bahagia
Tapi ia tak seperti biasa
Senja membawanya duka

Monica,
Rasa patah dari jatuh cinta
Menerobos hati si gadis desa
Yang kata orang dia bisa
Tapi selalu dikalahkan rasa
Yang dimeterai janji manis
Air mata mengalir deras
Membuat senja tak lagi bersuara
Baginya dunia hanya sandiwara
Menjadikannya figur tak bermakna

Monica,

Patah membuatnya trauma

Menjadi gadis desa tanpa jatuh cinta

Memilih terus melangkah
Bukan dengan cinta yang sementara

Monica,
Merajut tali kasih
senyumnya kembali berseri
Memilih hidup sendiri tanpa kekasih
Mengabdi sepenuh hati
Kepada sang Ilahi

Monica,
Gadis desa yang mengubah patah
Menjadi warta sukacita
Berkumandang kepelosok dunia
Kini, janji manis dan romantis
Berubah menjadi janji abadi
Memilih hidup biarawati

Duka di Pelukan Mata

Tangis menoreh disudut kesunyian
Meratapi puing-puing yang telah pergi dipanggilNya

Jalanan kosong hanya dihiasi warna-warni onggokan sampah
pertanda penghuni jalan telah pergi entah kemana
Diam dan membeku tak tahu arah dan langkah

Semuanya sayu
Semuanya sunyi
Semuanya bak batu yang ditimpa hujan dan panas

Inikah pertanda semuanya berakhir?
Inikah saat semuanya pergi tanpa pamit?

Saat-saat yang memilukan
Goresan senyum tak tertoreh lagi
Semua berantakan
Gersang, pengap, dan penuh kecemasan

Inikah ujian hebat yang melanda dunia
Semuanya seakan tak ada yang mengerti
Hanya sisa air mata sedih dan hati pilu yang meratapi

Sosok tubuh yang semakin hari semakin beku dan pergi tanpa bicara.
Tak ada jawaban yang menjadi sandaran

Hanya bisa bersujud sembah
Memohon kepada sang Kuasa
Agar semuanya lekas usai

Sarina Daiman, Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng

Sarina Daiman
Previous ArticleABK Dilaporkan Meninggal di Mauritius, PT Anugerah Bahari Pasifik Perjuangkan Klaim Asuransi Kematian
Next Article Aku Bukan Malaikat: Antologi Puisi Sr. Florensia Imelda Seran

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.