Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Setengah dari 365 Hari: Antologi Puisi Fransiska Jeniman
Sastra

Setengah dari 365 Hari: Antologi Puisi Fransiska Jeniman

By Redaksi6 Maret 20224 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Setengah dari 365 Hari

Selamat malam Nara

Dentingan jarum jam terus berputar dengan cepat
Suara berisik binatang malam nyaring menusuk telinga
Serta suara-suara manusia yang saling bersahutan
Menyadarkan saya dari dunia imajinasi
Menghantar saya pada kepingan memori itu
Memori hangat yang membekukan
Tentang kisah singkat, penuh makna
Kisah singkat yang mungkin
Telah beku dalam ingatan Nara
Seratus dua puluh sembilan hari, Nara
Dan sampai pada hari
Ke seratus lima puluh dua ini
Memori itu masih tersimpan dalam ingatan saya
Tersusun rapi, tanpa ada yang hilang
Menghangatkan pikiran dan hati saya
Memeluk saya dalam kekosongan yang kian menghantam
Memojokkan saya pada pekatnya malam
Namun ketahuilah Nara
Memori itu membawa saya pada rindu yang kian berisik
Yang memenuhi seluruh pikiran dan hati saya
Karena hanya kepingan memori itu
Yang saya milikki
Sebagai tanda bahwa nyatanya
Nara masih hidup dan saya genggam dalam ingatan saya

Overdosis

Nara, kehidupan itu lucu ya?!!
Ada begitu banyak takdir
Ada begitu banyak pilihan
Banyak orang bilang Nara, kalau
“Hidup harus sesuai aturan, harus seimbang dan secukupnya saja”
Tapi Nara, bahkan mencintaimu saja rasanya tidak cukup
Melihat keelokanmu saja tidak memuaskan
Nara,
Saya, kamu, atau kita semua tidak akan pernah tahu
Ke depannya takdir dan garis hidup akan berjalan
Serumit dan sekejam apa dan bagaimana
Kenyataan bahwa
“Nara masih menjadi tokoh utama dalam kehidupan saya”
Sempat memberikan saya keyakinan dan harapan
Akan kembalinya masa-masa bersama yang sempat tertunda
Nara, orang bilang “Mencintai sewajarnya saja”
Namun ketulusan tidak mengenal batas wajar, Nara
Seperti manisnya madu yang membuat candu
Seperti nikmatnya kafein pada pahitnya kopi
Mencintai Nara juga adalah suatu kenikmatan
Yang tidak bisa sewajarnya saja
Dan candu yang selalu ingin kucoba
Meskipun berlebihan tak masalah Nara

 

Maret

Selamat malam Nara
Kerlipan cahaya bintang
Dipekatnya langit malam ini, di awal Maret ini
Sama persis dengan tatapan Nara kala melihat saya waktu itu
Ada banyak sajak-sajak kecil tentang Nara
Yang saya utarakan secara tersirat
Yang sejatinya selalu merambat disetiap nadi
Menjalar seperti akar
Tapi sama seperti pekatnya malam di Maret ini
Saya hanya hitam yang tak kelihatan
Tidak akan pernah kelihatan oleh Mata lentikmu, Nara
Meskipun dengan susah payah saya menunjukkannya
Nara…
Dua puluh delapan hari yang lalu
Kau dekap saya dalam kebahagian dan kesedihan bersamaan
Memberikan pelajaran perihal mengikhlaskan
Mengajarkan saya bahwa
“Manusia hidup untuk kehilangan”
Meskipun sulit Nara tapi Terima kasih untuk itu
Sekarang mari kita bersama
Menikmati gelombang kehidupan
Di tiga puluh hari kedepan
Meskipun tak bersama kembali
Setidaknya Nara masih menjadi pemeran utama
Percayalah Nara perlahan tapi pasti semuanya akan berubah

LDR

Selamat Siang Nara
Nara, kita tahu bahwa nyatanya kita tidak bisa bersama
‘tidak todoh karena alasan tertentu’ menjadi permasalahan utama
Antara Nara dan saya
Menjalani hubungan begitu lama, dari jarak jauh
Dan saya hanya bisa melihat Nara lewat dunia maya
Apa Nara tahu? Yang dekat sudah saya anggap jauh
Dan Nara yang berada di pulau lain
Tidak terasa jauh, karena Nara selalu ada di hati saya
Tanpa kabar dari Nara satu jam bahkan satu menit saja
Dunia saya rasanya sepi, hampa, kosong tak terdeskripsikan
Sekalipun orang berlalu lalang sambil tertawa di sekeliling,
Tidak membuat saya merasa hangat dan ikut merasakan bahagia itu
Tetapi ketika Nara memberi dan menanyai kabar Weta,
Rasanya dunia saya seperti di stadion sepak bola
Ramai dan penuh sukacita kegembiraan.
Senyum,teriak itulah yang saya lakukan
Ketika Nara keluarkan kata-kata manis untuk saya
Disitulah saya merasa bahwa dunia ini hanya milik kita berdua
Nara
Saya sudah biasa ramai di tengah kesepian
Dan sepi di tengah keramaian
Itulah gilanya mencinta jarak jauh Nara
Satu pesan untuk Nara,
Tetap menjadi salah satu yang terbaik buat saya
Dalam ke-virtualan ini

*Nara adalah bahasa Manggarai, Flores NTT, yang berarti Abang.
*Weta adalah bahasa Manggarai Flores NTT, yang berarti Nona.

Fransiska Jeniman mahasiswi semester 4 STIPAS St Ruteng, Manggarai Flores-NTT.

Fransiska Jeniman
Previous ArticleBupati Nabit Anggarkan 300 Juta untuk Perbaikan Tanggul di Nanga Ramut
Next Article Dorong Paroki Ramah Anak, Paroki Nangalanang Selenggarakan Sosialisasi

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.