Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KOMUNITAS»Terkait Pariwisata Holistik, Gereja Mesti Menjadi Ibu untuk Semua
KOMUNITAS

Terkait Pariwisata Holistik, Gereja Mesti Menjadi Ibu untuk Semua

By Redaksi10 Maret 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Diskusi Primetime bertema 'Mengulik Urgensi Pariwisata Holistik' di Studio Radio Manggarai, Rabu (09/03/2022) malam.
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT-Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Cabang Manggarai Yovie Jehabut hadir sebagai narasumber dalam program Diskusi Primetime bertema ‘Mengulik Urgensi Pariwisata Holistik’ di Studio Radio Manggarai, Rabu (09/03/2022) malam.

Diskusi Primetime itu juga menghadirkan narasumber lain yakni Ketua Komisi Budaya dan Pariwisata Keuskupan Ruteng Romo Inosensius Sutam.

Pada kesempatan itu, kedua narasumber membahas tentang pariwisata holistik. Hal itu sejalan dengan agenda pastoral keuskupan Ruteng yang menetapkan tahun 2022 sebagai Tahun Pastoral Pariwisata Holistik bertajuk ‘Berpartisipasi, Berbudaya, dan Berkelanjutan’.

Dalam kesempatan berdiskusi, Yovie menyampaikan apresiasi kepada Keuskupan Ruteng yang konsen membahas tentang pariwisata holistik.

Yovie berharap agar pariwisata holistik yang dicanangkan oleh pihak Keuskupan Ruteng bisa diterjemahkan dengan baik oleh seluruh elemen yang berhubungan dengan urusan pariwisata. Selain itu, Yovie juga berharap agar Keuskupan Ruteng menjadi ibu bagi semua.

“Dalam gagasan pariwisata holistik itu, Gereja mesti menjadi ibu untuk semua. Jangan sampai dia berdiri sendiri dan berjalan dengan programnya sendiri tetapi tidak memperhatikan persoalan yang memang sudah ada sebelumnya. Jangan sampai gereja hanya sampai pada konsep dan sampai pada program-program yang dicanangkannya, lalu tidak memperhatikan umatnya,” tutur Yovie.

Yovie juga mengharapkan agar berbagai persoalan yang berkaitan dengan pariwisata bisa diselesaikan dengan mengedepankan pendekatan holistik yang melihat seluruh elemen yang bersentuhan langsung dengan pariwisata.

Apalagi, lanjut Yovie, dirinya kerap kali melihat dan menemukan persoalan yakni tentang kurangnya kesadaran masyarakat akan pariwisata.

“Saya tertarik dengan output yang ingin dicapai oleh Gereja Katolik Manggarai soal bagaimana tercapainya kesadaran bersama. Itu memang yang selama ini jauh dari harapan. Bahwa pariwisata itu bukan hanya aktivitas membangun bisnis, usaha ekonomi, tetapi yang paling penting adalah membangun kebudayaan pariwisata yang baru. Kami sangat apresiasi keinginan kuat gereja untuk membangun kesadaran kolektif pariwisata dari seluruh umat yang ada di keuskupan ruteng ini,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Budaya dan Pariwisata Keuskupan Ruteng Pastor Inosensius Sutam menjelaskan pariwisata itu adalah pekerjaan yang berantai.

“Pariwisata mencakup semua hal. Holistik dari segi manusia orang yang berpartisipasi dalam pariwisata itu ada istilah pentahelix; ada pemerintah, ada DUDI, ada lembaga pendidikan, ada media dan ada komunitas yang bermacam-macam seperti adat, agama dan lain-lain,” jelas Pastor Ino.

“Jadi, semua bisa terlibat untuk pariwisata. di situ yang kita katakan pariwisata holistik. Holistik juga dari segi bidang-bidang kehidupan. Dia bisa menyentuh bidang kehidupan spiritual, ekonomi, sosial, budaya bahkan politik karena memang ada keputusan-keputusan politik yang berkaitan dengan itu. Holistik juga dari segi manusia itu sendiri, dia bisa menyentuh badan, jiwa dan roh,” tambahnya.

Pariwisata menurut dia, merupakan sesuatu hal yang sangat kompleks dan memerlukan sinergitas dan manajemen yang tidak mudah.

Dengan demikian, output dari gagasan Pariwisata Holistik yang digagas Kesurupan Ruteng yakni terwujudnya kesadaran kolektif baik itu budaya maupun etika pariwisata.

“Harus sadar bahwa daerah kita ini adalah daerah pariwisata. Dan pariwisata itu apa yang kita lakukan,” jelasnya.

Selain itu, hal lain juga menurut Pastor Ino, yakni adalah terwujudnya tingkah laku pariwisata yang baik serta memiliki skill.

“Misalnya orang yang bajak sawah dan lain-lain. Entah ada wisatawan atau tidak mereka tetap melakukan itu. Kebiasaan sehari-hari harus di-connect kan dengan pariwisata. Yang benar-benar ada itu adalah di Wae Rebo dan Todo. Pariwisata sudah menetes jauh ke bawah,” jelasnya.

Penulis: Igen Padur
Editor: Ardy Abba

Ino Sutam Inosensius Sutam Keuskupan Ruteng Manggarai
Previous ArticleJulie Laiskodat Ajak Masyarakat Makan Ikan untuk Tingkatkan Imunitas Tubuh
Next Article Tower BTS di Desa Tinabani Mulai Dikerjakan

Related Posts

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.