alterntif text

Sebagai tulang punggung keluarga ia menguras otak dan  tenaga untuk menghadapi sebuah pekerjaan yang dianggap kumuh. Namun, dimatanya merupakan sebuah pekerjaan yang halal

Ende, VoxNtt.com-Dia adalah Hamsah (50), warga Paupanda bawah, Kelurahan Paupanda, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende. Kehidupan sehari-hari hanya mengolah batu kapur sebagai ladang ekonomi keluarganya.

Mengolah batu kapur menjadi kapur merupakan pekerjaan pokok lelaki setengah abad itu. Meskipun penghasilan pas-pasan, tetapi baginya cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Hamsah memiliki seorang istri dan dikarunia lima anak. Sejak tahun 1982, ia sudah bergelut dengan pekerjaan itu untuk membantu membiayai hidup istri dan anak-anaknya.

Cucuran keringat terus mengguyur pada kulit yang semakin keriput itu, membasahi pakaian profesinya. Namun, semangat dan tekadnya terus menggebu-gebu demi nasib anak dan istrinya.

“Hasil semua ini untuk kami sekelurga. Ya, apa boleh buat, pekerjaan seperti ini tetap saya lakukan,”Pungkasnya sambil mengayun-ayun pengayak batu kapur di tangannya.

Pria lima anak ini tetap semangat walaupun pekerjaan itu menguraskan tenaga. Pekerjaan itu merupakan satu-satunya untuk menopang nafas kehidupan keluarganya.

Hamsah juga berprofesi sebagai buruh yang aktif terlibat dengan kerabat buruhnya di Pelabuhan Soekarno-Ende. Sisa waktu mengolah batu kapur, ia pekerja sebagai buruh kapal.

“Kalau kapal barang masuk Pelabuhan, saya tinggalkan ini. Saya bergabung dengan teman-teman buruh untuk cari uang.”ujarnya.

Sementara istrinya, Ibu Rahman (47) bekerja sebagai penenun dan ibu rumah tangga. Hasil yang diperoleh Hamsah, diserahkan ke istrinya untuk menambah pundi-pundi rumah tangga.

Semua urusan dalam keluarga, ia percayakan pada istrinya. Rupanya, Hamsah sudah membagikan tugas-tugas keluarganya.

“Saya rasa nyaman dengan istri saya karena dia yang mengurus di rumah. Biar saya sebagai buruh seperti ini, tapi kami tetap nyaman,”ujarnya dengan penuh semangat.

Hamsah menceriterakan setelah sholat subuh, ia mulai berangkat ke lokasi pengolahan batu kapur yang jarak sekitar seratus meter dari rumahnya. Setiap hari, mulai kerja jam setengah enam pagi dan istirahat sarapan jam delapan.

Ia melanjutkan kerja hingga jam setengah dua belas karena harus siap untuk zuhur. Setelah itu dilanjutkan kerja pada jam empat sore.

Waktu kerja tersebut merupakan jadwal rutinitasnya setiap hari. Ia mengakui bahwa waktu selalu memerintahkan dirinya untuk bekerja.

“Saya kerja selalu tepat waktu. Setiap hari saya kerja dengan waktu begitu dan istri saya sudah mengetahui waktu kerja saya. Dia (istrinya) juga begitu dengan pekerjaannya di rumah.”katanya.

Penghasilan Batu Kapur

Sumber utama ekonomi keluarganya berasal dari penghasilan pengolahan batu kapur. Batu kapur itu dibeli di kampung tetangga sebelah Selatan Pulau Flores yakni di Kampung Rate persis dibawah Gunung Ia.

Batu kapur itu dibeli dengan harga 400 ribu sampai 600 ribu perkumpul. Lalu diolah menjadi kapur atau gamping dan dijual per karung 40 ribu sampai 50 ribu.

Dalam sehari, minimal mendapatkan penghasilan sebesar 200 ribu. Itupun belum ada yang memesan dan jika mendapat rejeki bisa memperoleh jutaan rupiah.

Pria berpendidikan sekolah dasar ini menjelaskan untuk memperoleh hasil demikian, ia harus mengerjakan sekuat tenaga dan bertahan. Mengapa?

Bekerja mengolah batu kapur menjadi kapur atau gamping harus membutuhkan waktu yang cukup sebab dirinya harus mengolah mulai dari pembakaran, pendinginan dan pengayakan. Beberapa tahap proses tersebut harus dikerjakan sendiri.

Selain itu juga serbuk atau abu kapur dapat menggangu saluran pernapasan hingga ke paru-paru. Dengan demikian ia harus menerima dengan pekerjaan seperti itu.

Rupanya, Hamsah secara total menanggung beban hidup bersama istri dan anak-anaknya. Dirinya harus rela menguras tenaga untuk memperoleh pendapatan.

“Risikonya cukup besar pekerjaan ini karena menganggu saluran pernapasan. Ya, harus bertahan.”Pungkas Hamsah, sapaan akrabnya.

Kapur yang dihasilkan Hamsah, dipasarkan ke setiap daerah seperti Mbay, Bajawa, Manggarai dan Maumere dengan harga yang sama.

“Ada banyak yang pesan, dari Bajawa, Ruteng dan daerah tetangga Mbay dan Maumere. Kadang mereka kasihan saya, mereka kasih lebih uangnya. Ya, rejeki selalu datang tiba-tiba.”Katanya sambil tersenyum.

Tidak Lupa Ibadah

Hamsah, demikian sapanya selalu mengingatkan keluarga untuk sembahyang. Sembahyang baginya merupakan wujud untuk mensyukuri bahwa Tuhan masih memberi kesempatan untuk hidup.

Baginya, Sembahyang merupakan kegiatan rutinitas setiap saat baik waktu subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya.

“Kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan sebab Ia masih memberikan kita nafas kehidupan. Biar mendapat pahala yang sedikit tapi tetaplah kita bersyukur kepada Tuhan.”Katanya.

Dirinya selalu mengajak anggota keluarga untuk sembahyang untuk mensyukuri apa yang telah diberikan. Meskipun tidak mendapatkan pahala atau rejeki yang lebih, baginya tidak mengahalangi waktu ibadahnya.

“Tuhan itu Maha Besar, dan Ia selalu memberikan kita rejeki pada waktu yang tidak kita ketahui. Kalau kita percaya, pasti semua permohonan kita akan terwujud. Saya selalu bilang ke anak dan istri saya bahwa jangan lupa berdo’a.”Tambah Hamsah.

Hamsah sangat meyakini bahwa berkah yang diperolehnya merupakan pahala dari Tuhan. Kepercayaan itu membuat ia tetap ulet melakukan sebuah pekerjaan seperti mengolah batu kapur dan buruh pelabuhan.

Pria setengah abad ini, rupanya semangat bekerja semakin bertambah. Semakin lama bekerja, tenaga dan semangatnya pun semakin bertambah.

“Dia selalu semangat untuk bekerja. Setiap hari dia datang dengan penuh semangat. Kalau tepat jam dua belas, dia selalu ijin untuk sembahyang.”Kata Fatimah Ndoti, yang mengakui selalu bersama Hamsah.

Setiap hari kerja, Hamsah selalu mengenakan pakayan kotor dan penuh sobek itu. Ia sangat menyayangi pakayan itu.

Baju putih yang dialasi dengan baju kuning lengan panjang didalamnya. Celana kuning dan kain merah putih untuk menutupi kepala dan wajahnya merupakan pakayan andalan yang biasa dikenakan setiap saat bekerja.

”Ini pakayan kerja saya dan saya tidak pernah ganti. Ya, ini mungkin pakayan rejeki.”ujar Hamsah seraya tersenyum.

Bagi Hamsah yang sebagai tulang punggung keluarga, untuk memperoleh penghasilan harus bekerja dan tidak lupa berdo’a. Ia selalu mengatakan bahwa semua pekerjaan tentu mendapatkan hasil asalkan memiliki niat untuk bekerja dan niat berdo’a.

Baginya, seberat apapun pekerjaan yang diembani seperti pengolahan batu kapur, dirinya siap menerima. Dirinya lebih merasa beban terhadap keluarga dibandingkan dengan beban pekerjaannya.

Sebagai orang pertama dalam keluarga, Hamsah adalah sosok pencari nafkah yang handal. Ia selalu berusaha untuk memperoleh pendapatan ekonomi. Hingga saat ini ia masih sangat kuat dan pekerjaan pokok yang sering dilakukan setiap hari untuk menghidupkan keluarganya adalah pengolahan batu kapur.**(Ian/VoN)

Foto Feature: Hamsah (50), Warga Paupanda Bawah, Kelurahan Paupanda, Kecamatan Ende Selatan sedang mengayak batu kapur untuk kebutuhan kelurganya.Pekerjaan ini merupakan pekerjaan pokok selain sebagai buruh kapal di Pelabuhan Soekarno Ende (Foto :Ian)