Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Pertandingan Voli STPM Ende Dianggap Mengganggu Ketenangan Warga
Regional NTT

Pertandingan Voli STPM Ende Dianggap Mengganggu Ketenangan Warga

By Redaksi14 September 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi permainan voli
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT- Pertandingan bola voli antarpelajar yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende, Nusa Tenggara Timur dianggap mengganggu ketenangan masyarakat sekitar.

Ketidaknyamanan warga karena penggunaan pengeras suara secara berlebihan hingga tengah malam. Akibatnya, warga sekitar hingga kompleks Pasar Potulando merasa terganggu.

Mathias, warga Wirajaya kepada Voxntt.com, Jumat malam (14/9/2018), mengaku kesal penggunaan pengeras suara yang sangat tidak wajar. Sehingga warga yang membutuhkan ketenangan terganggu.

“Ia, sangat mengganggu. Karena teriak-teriak setiap malam. Kita yang tinggal di sekitar sini cukup terganggu,”ucap dia bernada kesal.

Kekesalan dia juga berulang ketika bunyi musik yang sangat keras menjelang tengah malam. 

“Musik itu sangat keras. Ia, keras sekali. Kita disini kan ada keluarga yang sedang sakit, ada anak sekolah yang butuh istirahat lalu ada biarawan. Ya, penggunaan suara itu harus terukur lah,”katanya.

Kekesalan lain juga dialami Thesya Wani, warga Jalan Nangka. Menurutnya, perlu adanya kesadaran dari pihak penyelenggara.

“Nah, ini kan pertandingan malam hari. Minimal harus sadar diri dan tidak boleh ribut berlebihan. Kalau pertandingan voli selama satu bulan, kami di sini tidak bisa tidur pak,” kata Thesya.

Ia berharap, penyelenggara dapat memahami kehidupan sosial masyarakat, terutama penggunaan pengeras suara secara berlebihan.

“Apalagi, mereka inikan mahasiswa perguruan tinggi ilmu masyarakat. Mestinya harus tahu dan mengerti,” tutur dia.

Penulis: Ian Bala

Editor: Boni J

Ende STPM Ende Voli
Previous ArticleBacaleg di TTU Dihimbau Tidak Curi Start Kampanye
Next Article Diduga Tabrak Lari, Krinus Tewas di Jalan Trans Mbay-Maumere

Related Posts

Pengda INI dan IPPAT Manggarai Barat Sosialisasikan Hukum Pertanahan di Desa Batu Cermin

9 Juli 2026

Pater Gabriel Meo Rayakan 40 Tahun Imamat, Umat dan Pemerintah Hadiri Misa Syukur di Kererobbo

9 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak Jaksa Agung Ambil Alih Dugaan Korupsi Rp49,8 Miliar di Ende

8 Juli 2026
Terkini

Kebakaran Hanguskan Kantor UPTD BKKBN Boleng, Polisi Selidiki Dugaan Korsleting Listrik

17 Juli 2026

Demokrat Manggarai Timur Tanam 250 Pohon dan Bersihkan Pantai Borong

17 Juli 2026

Eco-enzyme: Solusi Sederhana Mengolah Limbah Dapur Perkotaan

16 Juli 2026

Dua Wisatawan Asal China Tewas Tenggelam saat Snorkeling di Perairan Pulau Kelor

15 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.