Gregorius Modo, kakinya diamputasi karena kecelakaan mobil (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Borong, Vox NTT- Nama Gregorius Modo sudah tak asing bagi para penikmat minuman tradisional sopi/moke di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores, NTT.

Goris demikian ia disapa, merupakan satu dari sekian peracik minuman tradisional di kabupaten yang dimekarkan tahun 2007 silam itu.

Goris tinggal di Kampung Pongkeling, Kelurahan Ronggakoe, Kecamatan Kota Komba.

Di kampung ini, Goris tinggal bersama istri dan ketiga buah hatinya yang kini sedang mengenyam pendidikan.

“Anak saya lima orang yang tinggal dengan kami 3 orang, duanya sudah SMP dan satunya SD, dan dua lainnya sedang kuliah di Malang,” ungkapnya.

Goris memulai karirnya sebagai produsen minuman tradisional sejak tahun 2016 silam. Minuman tradisional yang ia hasilkan dikenal dengan sebutan Sopi atau BM Kobok.

Sebelum jadi peracik, ayah dari lima anak ini bekerja sebagai seorang sopir bus Manggarai Indah, salah satu angkutan umum antarkabupaten di pulau Flores. Ia bekerja sebagai sopir 20 tahun lamanya.

Namun karena kecelakaan pada 28 September 2015 silam, suami dari Ester Nde”e itu, terpaksa harus berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang sopir. Tragisnya, akibat kecelakaan itu, kaki kanannya terpaksa diamputasi.

Bangkit

Insiden yang terjadi 3 tahun lalu itu tak membuat semangatnya surut.

Apalagi desakan kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anak membuat Goris dan sang istri harus berpikir untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Tak butuh waktu lama, dalam tiga bulan pasca persitiwa itu, Goris bangkit dari derita yang ia alami.

“Waktu celaka dulu untung masih bisa kerja kalau tidak kita dapat uang darimana, apalagi anak saya sedang kuliah semester 3 di Malang,” ungkap Ester demikian sang istri disapa.

Ester yang saat itu mendampingi Goris mengisahkan tetang perjuangan sang suami menjadi pengusaha sopi.

Di awal tahun 2016, Goris mulai mengawali karir barunya sebagai peracik minuman tradisional sopi.

Tempat produksi sopi milik Gregorius Modo (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Sebagai pengusaha baru, awalnya mengalami kekurangan modal, namun lambat laun ia bisa mengatasi hal tersebut.

“Modal awal hanya Rp 5.000.000, itupun masih sangat kurang, tapi perlahan bisa diatasi,” ungkapnya saat diwawancarai VoxNtt.com, Sabtu (12/1/2019).

Ketiadaan kaki kanan, bukanlah hambatan tuk melangkah. Baginya, kerja keras dan dukungan dari sang istri, menjadi jurus kunci di balik usaha yang digeluti.

Dipercaya

Perlahan tapi pasti, usaha Goris dan sang istri kian sukses.

Minuman yang ia hasilkan, saat ini disebut-sebut sebagai minuman tradisional terbaik dan terpercaya.

Pendistribusian minuman tradisional miliknya sudah menjangkau hampir di seluruh wilayah di daratan Flores.

“Saya biasa kirim ke Ruteng, Labuan Bajo, Borong dan Ketang, bahkan sekarang sampe ke Maumere dan Larantuka,” tutur Goris.

Kendati demikian, jumlah sopi yang ia hasilkan dalam sehari tergantung pada banyaknya permintaan pelanggan dan para konsumen yang datang membeli.

“Tergantung musim, kalau rame bisa lebih dari 100 botol BM per hari tapi kalau sepi biasanya saya hanya buat 40 botol per hari,” ungkapnya.

Namun, itu tak membuat semangatnya lemah. Goris mengaku, sehari sopi yang ia buat selalu ada pembeli.

“Untuk sehari lakunya 5 sampai 6 botol, dengan harga Rp 60.000 per botol,” tuturnya.

Kendati dipercaya, Goris mengaku tak memiliki resep khusus dari minuman yang ia hasilkan itu.

“Mungkin karena saya fokus dengan buat sopi,” tukasnya.

Punya Izin

Usaha yang digeluti Goris, awalnya tidak memiliki izin.

“Sebenarnya sudah lama, tapi proses surat-suratnya terlalu lama,” pungkasnya.

Alhasil, usahanya pun kini sudah dilegalkan pemerintah sejak bulan Juli 2018 silam.

Goris pun senang dan bersyukur usahanya dipercaya oleh pemerintah dan masyarakat.

Di balik misinya menyekolahkan anak hingga selesai, ia berharap menjadi salah satu produsen sopi yang sukses.

Kabar Wisuda

Tatapan bahagia tampak dari wajah Goris dan Ester saat VoxNtt.com menanyakan sang buah hati yang kuliah.

Mereka sangat bersyukur putri pertamanya akan segera diwisudakan pada Februari mendatang.

“Dulu waktu suami saya celaka anak saya yang kulia di Malang itu masih semester tiga,” imbuh Ester mencoba mengingat masa kelamnya itu.

Kendati demikian, bagi Goris dan Ester perjuangan mereka belum selesai. Mereka menginginkan keempat buah hati yang kini mengeyam pendidikan seperti putri pertamanya.

Bagi para penikmat sopi milik Gregorius Modo dapat menghubungi nomor telepon 082339137000.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba