Pohon Mbe'te yang tumbuh di tanah milik Yohanes Ndale (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Borong, Vox NTT- Di kampung Muting, Desa Bamo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores NTT, ada sebuah pohon yang unik.

Keunikan pohon itu, yakni sebagai tempat bersarangnya lebah madu.

Hampir setiap tahun nyaris tak pernah berhenti dihinggapi lebah.

Masyarakat menyebut nama pohon itu Kaju (pohon) Mbe’te. Tak tahu pasti nama Indonesianya. Akan tetapi, cirinya kalau dipelihara pohon itu besar, tinggi, berdaun lebar, berbunga dan berbuah.

Yohanes Ndale (39), tuan tanah tempat pohon Mbe’te tumbuh (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Tak tahu pasti usia pohon itu. Namun, menurut Yohanes Ndale (39), selaku tuan tanah, pohon itu sudah tumbuh dan bahkan disarangi lebah sejak ia masih anak-anak.

“Itu sejak saya kecil, bahkan ayah saya juga tidak tahu sejak kapan pohon itu tumbuh,” ungkapnya saat ditemui VoxNtt.com, Selasa (15/1/2019).

Ritual

Kata Hanes demikian ia di sapa, ketika pohon itu akan berbuah, lebah selalu berdatangan.

Saat itulah dirinya memberitahukan kepada tuan pohon itu (yang diyakini sebagai penghuni) dengan sebutir telur ayam.

Sesajian itu diyakini sebagai bentuk pemberitahuan sekaligus memberi makan kepada penjaga Kaju Mbe’te itu.

“Itu sudah sering saya lakukan, untuk memberi makan tuan dari pohon itu,” ungkapnya.

Sebagian sarang lebah yang berhasil dipotret di pohon Mbe’te (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Menurut Hanes, hampir setiap tahun 50 hingga 70 sarang lebah ada di pohon itu.

Panen

Kendati demikian, Hanes dan keluarga tidak pernah mengambil madu dari lebah yang hinggap di Kaju Mbe’te.

Besar, tinggi, licin menjadi phobia baginya dan keluarga bahkan masyarakat Kampung Muting.

Namun, sejak tahun 1990-an madu yang ada di
Kaju Mbe’te, sudah mulai dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Itu mereka yang dari Lamba Leda yang naik pohon ini, kalau kami tidak berani,” tuturnya.

Setiap kali panen, banyak dan tidaknya madu yang dihasilkan tergantung rezeki.

“Kalau tidak rezeki 5 sampai 6 botol, tetapi kalau rezeki biasanya bisa lebih dari 100 botol,” tukas pria kelahiran April 1979 itu.

Madu yang diperoleh pun hasilnya dibagi beberapa bagian.

Satu jeriken madu yang diambil dari pohon Mbe’te (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Biasanya kata Hanes, dibagi tiga yakni untuk tuan kayu satu bagian, dan dua bagian lainnya untuk mereka yang panjat.

Madu yang diperoleh Hanes pun, dijual dengan harga Rp 75.000 per botol.

“Kadang laku, kadang tidak tergantung orang butuh,” imbuhnya.

 

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba