Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pilkada»Pengamat: Pemerintahan Agas akan Ditantang Budaya “Kapu Manuk”
Pilkada

Pengamat: Pemerintahan Agas akan Ditantang Budaya “Kapu Manuk”

By Redaksi18 Januari 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Lasarus Jehamat, pengamat sosial politik Undana Kupang
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT- Pengamat sosial politik asal Undana Kupang, Lasarus Jehamat menilai roda pemerintahan Agas Andreas dan Stefanus Jaghur  di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) akan ditantang oleh budaya “kapu manuk”.

Kapu Manuk adalah salah satu budaya Manggarai, yakni menggunakan ayam sebagai simbol adatnya. Dalam konteks kepemimpinan ini, kapu manuk dapat diterjemahkan meminta sesuatu secara adat Manggarai.

Dalam laporan tertulis yang diterima VoxNtt.com, Jumat (18/1/2019), Lasarus mengatakan budaya kapu manuk sebenarnya baik jika ditempatkan pada porsinya.

“Soal besar di Matim itu, pegawai rekrut karena tradisi kapu manuk itu,” ungkapnya.

“Masyarakat membawa ayam ke pejabat berwenang dan karena itu anaknya diterima bekerja di kantornya atau kantor yang lain,” tambah Lasarus.

Dosen sosiologi Undana Kupang itu juga menilai, efek politik balas jasa menjadi tameng dalam perekrutan pegawai di lingkup pemerintahan Matim.

“Nah, masyarakat tidak mungkin datang membawa tuak dan ayam kalau sebelumnya mereka tidak mendukung paket tertentu di sana,” katanya.

Lasarus sendiri tidak mempersoalkan perekrutan THL yang tidak berpendidikan sarjana.

Baca Juga: Pengamat: Perekrutan THL di Matim Menjadi Ruang Balas Jasa

Intinya, kata dia, semua bekerja sesuai fungsinya dan praktik penilaian kerja berbasis meritokrasi.

Kendati demikian, kata Lasarus, penempatan pegawai yang tidak sesuai bidang masih banyak ditemukan.

Walau berimplikasinya pada kinerja yang pegawai jeblok, sambung dia, anehnya fenomena seperti itu tetap dibiarkan dan bahkan dipelihara.

“Prinsip the right man on the right place tidak berlaku di Matim,” tuturnya.

Menyikapi hal itu kata dia, sangat tergantung pada keberanian Ande dalam menata birokrasi di Matim.

“Meski untuk sampai ke sana, hemat saya masih sulit. Sebab, kita hidup dalam budaya politik tradisional,” tukasnya.

 

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Lasarus Jehamat Manggarai Timur
Previous ArticleSatgas Yonif Mekanis 741/GN Gelar Baksos di Malaka
Next Article Pengusutan Proyek Jembatan Waima Sudah Dilimpahkan ke Kejari Lembata

Related Posts

PDI Perjuangan Tak Hanya Salurkan Logistik, Perhatian Kesehatan Korban Bencana Jadi Prioritas

19 Agustus 2026

PDI Perjuangan Manggarai Timur Dirikan 22 Dapur Umum untuk Korban Gempa Flores

18 Agustus 2026

Gempa Retakkan Halaman Kampung Tango Bali, 32 Rumah Warga Hancur

17 Agustus 2026
Terkini

Polda Jawa Tengah Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa di Lengor

24 Agustus 2026

Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan untuk 11.907 Korban Gempa Flores

24 Agustus 2026

Keluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

23 Agustus 2026

PT GAG Nikel Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di Manggarai Barat

23 Agustus 2026

Sepekan Pascagempa, Armada Kemanusiaan BKH-Stevi Harman Tak Henti Mengirim Bantuan Susulan

23 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.