Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Waspada! Kasus DBD di Ende Meningkat
KESEHATAN

Waspada! Kasus DBD di Ende Meningkat

By Redaksi1 Februari 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Bupati Ende Marselinus Y.W. Petu sedang melakukan fogging di Kelurahan Potulando, Jumat siang (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Pemerintah Kabupaten Ende telah merilis kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awal tahun 2019.

Tercatat, sudah 65 warga Ende yang menderita penyakit DBD selama bulan Januari 2019.

Angka ini meningkat dari kasus DBD sepanjang tahun 2018. Data yang diperoleh Voxntt.com, kasus DBD tahun 2018 sebanyak 55 kasus.

Atas peningkatan kasus itu, Pemerintah telah menetapkan status waspada kasus DBD di Kabupaten Ende.

Bupati Ende, Marselinus Y.W. Petu mengatakan, pemerintah sedang mengantisipasi agar tidak terjadinya peningkatan kasus DBD di Ende tahun 2019 menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Antisipasi itu dilakukan dengan membagikan abate kepada masyarakat, serta pengasapan atau fogging untuk membasmi nyamuk demam berdarah.

“Hal yang paling penting adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan. Pemerintah mendorong dengan obat-obatan dalam bentuk abate dan fogging,” kata Bupati Marsel usai fogging di Kelurahan Potulando, Kecamatan Ende Selatan, Jumat (01/02/2019) pagi.

Ia menjelaskan, untuk memberantas DBD di Ende, pemerintah melakukan gerakan 3 M yakni menguras, mengubur dan menutup. Gerakan ini sebagai bagian dari tindakan promotif dan kuratif.

Marsel menerangkan, tindakan promotif sedang dilakukan dengan memberi abate dan fogging serta gerakan menguras, mengubur dan menutupi genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk DBD.

“Kalau tindakan kuratif sudah dilakukan dengan pengobatan-pengobatan di rumah sakit dan puskesmas secara optimal karena DBD tidak saja terjadi di Ende tapi seluruh Indonesia,” ungkap Bupati Marsel.

Dari 65 kasus selama bulan Januari 2019, kata Bupati, satu orang warga asal dari Nuabosi, Kecamatan Ende, meninggal dunia karena menderita DBD.

Sehingga ia berharap agar masyakarat menjaga kebersihan baik di rumah maupun di lingkungan.

 

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

DBD DBD Ende DBD Mabar DBD Matim DBD TTS
Previous ArticleIni Kronologis Penangkapan LR oleh Satresnarkoba Polres Mabar
Next Article Bupati Don Temui Komunitas Lape

Related Posts

Keluarga Selviana Tijung Adukan Kematian Ibu Hamil ke DPRD Manggarai Timur

6 September 2026

Kasus Kematian Bumil Korban Gempa di Matim, Aktivis Desak Copot Dirut RSUD Borong

4 September 2026

RSUD Borong Klaim Ibu Hamil Minta Maaf ke Nakes, Suami: Itu Omong Kosong

3 September 2026
Terkini

KPAI Soroti Dugaan Kekerasan Seksual terhadap 13 Anak SD di Sumba Barat

14 September 2026

Ketika Manusia Menghapus Wajah Sesamanya

13 September 2026

Pasien ODGJ Dipasung Selama Dua Tahun di Welak Akhirnya Dibebaskan

12 September 2026

Herman Musakabe Desak Kapolri Ungkap Tuntas Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

12 September 2026

Ketika Doa Menjadi Kekuatan bagi Penyintas Gempa

12 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.