Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat memberikan arahan pada Rapat Kerja Kepala Bappeda/Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda)/BP4D se-Provinsi NTT di Hotel Neo Aston, Rabu 6 Maret 2019 (Foto: Aven R)

Kupang, Vox NTT- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) memiliki peran vital untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan daerah.

Karena itu, kata Viktor, harus mampu melihat potensi dan memetakan persoalan yang ada di daerah.

“Perencana itu mesti orang pintar. Juga punya confidence. Miliki rasa percaya diri yang tinggi. Melihat masa depan yang luar biasa, punya visi besar,” kata Viktor dalam arahannya pada Rapat Kerja Kepala Bappeda/Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda)/BP4D se-Provinsi NTT di Hotel Neo Aston, Rabu (6/7/2019).

Menurut dia,  Bappeda harus menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar mungkin.  Ia harus mampu melihat peluang-peluang potensi daerah dan memetakan masalah serta, melihat kecenderungan perkembangan pasar dunia.

“Begitu kita membuat perencanaan,  kita harus langsung memetakan potensi daerah kita apa saja, masalah-masalah yang dihadapi dan jalan keluarnya bagaimana. Kalau ini berjalan dengan baik, Kepala Bappeda dapat memberi masukan atau bahkan teguran kalau Gubernur atau Bupatinya berjalan di luar perencanaan,” ungkapnya.

Viktor melanjutkan, perencanaan harus dilakukan secara holistik. Para investor tertarik untuk menanamkan modalnya, jika perencanaan terarah ke masa depan.

“Ketika kita berbicara tentang Pariwisata sebagai prime mover  ekonomi NTT,  kita tidak sedang mengabaikan pertanian, peternakan, perikanan dan bidang lainnya. Bidang-bidang ini justru penting sebagai rantai pasok utama pariwisata. Rantai pasok ini mesti berasal dari potensi daerah kita yang sangat kaya ini. Bappeda juga dapat mendesain bagaimana menciptakan lingkungan yang bersih,  tertib dan kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Semua ini jadi tugas perencana untuk mendesainnya,” ujar Gubernur Viktor.

Ia pun menantang para Kepala Bapeda se-NTT untuk merancang kegiatan festival budaya setiap tahunnya. Karena, kata dia, kegiatan seperti itu punya dampak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat. Event Organizernya (EO) tidak boleh dari luar, tapi dari masyarakat sendiri.

“Saya mengharapkan rapat ini dapat mendorong kegiatan seperti itu. Dalam festival seperti tersebut semua peserta wajib pakai sarung tenun NTT. Anak-anak sekolah, mahasiswa, wartawan dan semua yang hadir wajib pakai tenunan daerah. Kalau festivalnya di Manggarai wajib pakai tenun Manggarai, di Bajawa sarung tenun Bajawa. Begitupun di Sumba, TTS, Atambua dan daerah lainnya. Kopi yang disuguhkan dalam acara juga harus kopi asal NTT. Bisa dibayangkan, pertumbuhan dan pendapatan masyarakat dari kegiatam seperti itu. Pasti sangat luar biasa,” imbuhnya

Dalam kesempatan tersebut, ia juga meminta konfirmasi kepada para Kepala Bappeda Kabupaten/Kota yang hadir terkait PAD daerahnya.

“Banyak dari kita yang belum berani menetapkan target PAD yang tinggi karena belum mengetahui dan menggali secara maksimal potensi daerahnya,” pungkas Viktor

Mendukung Ide Konstruktif Gubernur

Kepala Bappeda Kabupaten Manggarai, Adrianus Adil  Empang mengatakan, pada prinsipnya setuju dengan arahan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat itu.

“Pada prinsipnya,  kita setuju dengan arahan dari Bapak Gubernur. Kita di Manggarai siap untuk mengembangkan potensi kopi yang sudah memiliki sertifikat. Kalau daerah lain selenggarakan festival dan butuh kopi Manggarai, kami siap memasoknya,” kata Adi Empang,

Senada dengan Adi,  Sekretaris Bappeda Nagekeo Hildergadis M. Kasi menjelaskan, salah satu potensi yang sedang dikembangkan oleh Kabupaten Nagekeo adalah garam.

“Yang baru dikelola oleh investor yaitu PT Cheetam Garam Indonesia seluas 36  hektar dari 56 hektar. Mereka memang minta perluasan lahan, tapi masih perlu pembicaraan lanjut lintas sektoral. Sementara itu sekitar lebih dari 20-an ribu hektar dikelola oleh kelompok masyarakat yang dinamakan kelompok pugar, jadi usaha garam rakyat. Kami mengusulkan untuk pemdampingan dan pemberdayan kelompok ini bisa diintervensi juga oleh Provinsi dan Pusat,” harap Hildegardis.

Sementara itu, Plt.  Kepala Bappelitbangda NTT, Lecky Frederich Koli mengungkapkan, Raker bertujuan untuk sinkronisasi dan harmonisasi program kegiatan Provinsi dan Kabupaten/Kota Se-NTT.

“Target kita untuk tahun 2020 adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 persen, pertumbuhan inflasi 3 sampai dengan 3,6 persen, indeks gini 0,34, Indeks Pembangunan Manusia 63,35, Angka Kemiskinan turun menjadi 16 persen, usia harapan hidup rata-rata 66,9 tahun dan peringkat Laporan Penyelenggaran Pemerintahan Daerah secara Nasional berada pada urutan 18,” Kata Lecky.

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba