Adik Kandung Robertus Boruk, Siska Rafu, menangis histeris sambil memeluk peti Jenazah Robertus Boruk yang meninggal di Malaysia. (Foto: Ronis/Vox NTT).
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Satu lagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTT yang pulang tanpa nyawa. Kali ini, Robertus Moruk (27) asal Desa Takirin, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Robertus merupakan PMI ke-27 yang pulang tanpa nyawa pada tahun 2019.

Jenazahnya tiba di Kargo Bandara El Tari hari ini, Kamis (14/03/2019) pukul 13.30 Wita. Almarhum selama ini bekerja di Malaysia. Ia berangkat tahun 2010 dan bekerja di perusahaan kelapa sawit. Pada tanggal 06 Maret lalu ia dinyatakan meninggal.

Kerabat Almarhum Robertus yang ikut menjemputnya, kepada VoxNtt.com menyampaikan, Robertus meninggal bertepatan dengan hari Raya Rabu Abu.

“Sudah meninggal dari tanggal 06 Maret lalu. Hari ini sampai di Kupang. Kami keluarga dapat informasi dari istrinya. Katanya karena sakit Demam dan Malaria,” jelas.

Kerabat almahrum didampingi jaringan peduli buruh migran NTT. (Foto: Ronis/Vox NTT).

Sementara itu, Siska Rafu, Adik kandung almahrum Robertus selama di Kargo, terlihat sulit menerima kenyataan kakak sulung yang merantau sejak tahun 2010 itu, pulang tak bernyawa.

Saat-saat menantikan kepulangan Jenazah Sang Kakak, Siska hanya merunduk sambil menangis. Ia tak mau berbicara dengan siapa pun. Suara tangisannya mulai pecah, begitu menyaksikan peti Jenazah Sang Kakak keluar dari ruangan Kargo.

alterntif text

Sepupu Almarhum, Melkianus Bau, Robertus merupakan sosok yang selama ini membiayai pendidikan Siska hingga menamatkan diri dari Sekolah Menengah Atas (SMA).

Melkianus menuturkan, pada tahun 2010 lalu, dirinya dan Almahrum Robertus Boruk sama-sama berangkat ke Malaysia menjadi Pekerja Migran, setelah direkrut oleh PT Sarimadu.

“Waktu itu PT Sarimadu yang rekrut. Ada yang ke kampung untuk cari orang, jadi kami juga ikut. Tapi saya, hanya tiga tahun di sana. Abis massa kontrak saya pulang kembali,” jelas Melki.

Jenazah Robertus saat diangkut dari dalam Kargo. (Foto: Ronis/Vox NTT).

Sementara Robertus, demi menafkahi keluarga dan membiayai pendidikan Sang Adik memilih bertahan dan menjadi Pekerja Migran ilegal.

Sembilan tahun di Malaysia, demikian Melkianus, Robertus belum pernah pulang. Ia hanya mengirim sejumlah uang untuk biaya kebutuhan keluarga dan juga biaya sekolah adiknya Siska. Hari ini dia sudah kembali dibalut peti mati.

“Semenjak nikah dengan istrinya bernama Serly tahun lalu. Dia sudah tidak kirim uang lagi dan adiknya hanya tamat SMA tidak lanjut kuliah,” ujar Melki sambil menunjuk Serly yang sementara histeris.

Sekitar Pukul 14.00 Wita, jenazah Robertus kemudian diangkut oleh mobil jenazah milik BP3TKI NTT untuk diantar ke rumah duka di Atambua.

Pantauan VoxNtt.com, selain keluarga Jenazah Robertus juga dijemput sejumlah aktivis Jaringan Peduli Buruh Migran NTT dan pihak BP3TKI yang memfasilitasi kepulangan Jenazah ke kampung halamannya.

Hampir Seluruh Jenazah Pekerja Ilegal

Kepala Seksi (Kasie) Perlindungan dan Pemberdayaan, Badan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia  (BP3TKI), Timoteus Suban yang yang ditemui VoxNtt.com di Kantor BP3TKI beberapa saat setelah kedatangan Jenazah Robertus, membenarkan hal itu.

Menurut Timo, hampir seluruh Pekerja Migran NTT yang bekerja di Malaysia berstatus ilegal.  Dari 27 jenazah, kata dia, hanya satu yang berstatus legal.

“Dari 27 jenazah selama 2019 hanya satu yang legal. Itu dari Kabupaten Sikka. Yang lainnya illegal,” jelasnya.

Lanjut Timoteus, berkaitan dengan perekrut, BP3TKI NTT hanya berhubungan dengan perlindungan PMI yang legal. Sampai pada pelayanan dan fasilitas saat jenazah sampai NTT.

Namun demikian, ia juga mengakui, selama ini BP3TKI juga memfasilitasi semua PMI baik yang legal maupun ilegal sepanjang mendapat informasi tentang kematian para PMI.

Ia menjelaskan, masa kontrak para PMI hanya dua tahun. Saat masa kontrak selesai banyak PMI NTT yang menjadi pekerja ilegal di Negara lain.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Boni J