Antonius didampingi adiknya saat menyambut kunjungan orang muda katolik di kediamannya di Padang, Kisol, Manggarai Timur (Foto: Sandy/VoxNtt.com)

Borong, Vox NTT-Sabtu (27/4/2019) sore. Rumah Antonius Rius (43) kala itu tampak ramai dikunjungi puluhan anak muda katolik gugus Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores NTT.

Ia terlhat duduk sendiri di kamarnya. Ranjangnya hanya beralaskan belahan bambu yang dipupuh. Begitupun dinding rumahnya. Sementara lantai rumah, hanya beralaskan tanah.

Menderita lumpuh selama 20 tahun membuat Antonius terpaksa berjalan dengan bantuan tongkat. Namun, itu dulu. Sekarang, kakinya tidak kuat lagi menahan beban tubuh. Hari-harinya hanya dihabiskan sendiri di dalam kamar.

Ia juga tak kuat mandi sendiri. Adiknya, Hendirikus Sende harus membantu dia untuk membersihkan badan. Sesekali, warga kampung yang mengunjungi rumahnya ikut bantu memandikannya.

Antonius tinggal di kampung Padang, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba. Beban hidup yang ia jalani selama bertahun-tahun membuatnya kurus. Semua kebutuhan hidup menjadi tanggungan sang adik. Dari makan, mandi bahkan buang air. Kaki dan tangannya yang tampak kecil, membuat ia tak mampu berdiri dan berjalan.

“Ketika ayam berkokok 3 kali, saya mulai merasakan sakit di bagian pergelangan kaki itu harus ditekan dan dipijit,” ujarnya.

Sering Jatuh

Sebelum lumpuh, Antonius bekerja sebagai karyawan di Seminari Pius XII Kisol selama lebih dari dua tahun. Namun, sekolah yang telah mencetak ribuan orang hebat itu tak pernah mengunjungi kediamannya.

Entah apa alasannya, namun yang pasti pria berambut putih itu, sempat memberi dirinya untuk membangun Seminari, walau hanya seorang karyawan biasa.

Semasa muda, Antonius sering jatuh saat menunggang kuda. Ia bahkan pernah jatuh dari mobil di Waelengga. Tetapi ia lupa kapan peristiwa kelam itu tejadi.

“Saya lupa itu waktunya tetapi saya sering jatuh,” kenang Antonius.

Setelah agak sembuh, 1 bulan kemudian pada tahun 1998, Antonius dan sang adik Hendrikus pergi menimba air.
Namun, ketika hendak pulang, kaki dan tangannya gemetar.

“Saya sudah tidak kuat lagi, saya sudah tidak mampu, ketika di tengah jalan” ucapnya.

Antonius memaksa untuk terus berjalan, namun beban tubuhnya tak lagi mampu ditopang oleh kakinya yang terus gemetar. Mulai saat itulah, ia lumpuh dan tak bisa berjalan lagi.

Meski demikian, ia tetap berjuang untuk sampai di rumahnya.

Setibanya di rumah, ia menceritakan peristiwa itu kepada orang tua dan keluarganya, namun keluhan itu hanyalah pepesan kosong. Kendala keuangan, jadi hambatan. Antonius pun diam. Ia hanya bisa pasrah.

Lama waktu berselang, tahun 2018 ia diajak keluarganya ke Bajawa untuk dirawat.

“Waktu itu saya tanya mereka Bejawa itu dingin atau panas, kamu jangan bohong saya kalau dingin tidak bisa bergerak,” kisahnya pria kelahiran 1976 itu.

Setelah dibujuk Antonius pun mengikuti ajakan keluarganya.
Namun, setibanya di Bajawa, saat hendak ke kamar mandi ia jatuh lagi.

“Saya bilang kaka, kamu terlalu ka bisa bohong saya, saya sudah bilang saya tidak tahan dingin,” ucapnya.

Meski demikian, keluarganya tak mengizinkan ia untuk pulang. Ia pun dirawat selama 9 bulan lamanya.

Lantas tak kunjung sembuh, Antonius pun ingin pulang ke kampung halaman di Padang. Ia sangat merindukan sang adik, apalagi kedua orangtuanya sudah tiada.

“Adik saya marah saya waktu itu, tapi saya bilang saya lebih baik mati di tanah sendiri dari pada mati di tanah orang,” ucapnya.

“Kamu juga tidak pernah kunjung saya selama di Bejawa, kamu juga tega dengan saya,” katanya kepada sang adik.

Setelah kepulangannya, hingga kini Antonius hanya dirawat oleh adik dan keluarganya.

Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

Semasa sakit, Antonius mengaku sudah beberapa kali mendapatkan bantuan dari gereja paroki Kisol. Namun, ia tak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah desa maupun kabupaten. Padahal, banyak program sosial pemerintah yang sekarang masuk ke kampung-kampung.

Di hadapan ratusan orang muda katolik yang mengunjungi rumahnya sore itu, ia mengucapkan terima kasih karena telah peduli dengan keadaannya.

Sementara sang adik, Hendrikus hanya mampu pasrah dengan kondisi kakaknya itu.

“Saya ini seorang petani. Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan ini,” ucapnya.

Hendrikus berharap agar keluarganya bisa mendapat bantuan dari pemerintah setempat agar meringankan beban hidup mereka.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Irvan K

alterntif text