Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Unik, ASN Pemprov NTT di Ende Memakai Sarung Tenun Saat Jam Kerja
Seni dan Budaya

Unik, ASN Pemprov NTT di Ende Memakai Sarung Tenun Saat Jam Kerja

By Redaksi22 Mei 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala UPT Friets D.B. Mone sedang berpose bersama salah seroang pegawai di ruang kantornya dengan mengenakan sarung tenun ikat NTT (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Kantor UPT Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi NTT wilayah Kabupaten Ende tampak berbeda pada Selasa (21/5/2019) pagi. 

Perbedaan itu dilihat penampilan sejumlah pegawai ASN yang bertugas di kantor itu. Mereka tampak ceriah dan bergaya memakai sarung tenun khas NTT.

Sedianya, para pegawai bekerja seperti biasa. Rupanya mereka tak berkeberatan dan tidak merasa terganggu atas pekerjaan mereka dengan busana yang dikenakan.

Penenun Ndona-Ende sedang melaksanakan giat tenun (Foto: DAAI TV)

Pemandangan ini justru berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Para pegawai kerap memakai pakaian dinas, sebagaimana sudah diatur.

“Sudah berjalan kurang lebih dua bulan. Kalau kita pakai (sarung) ini, ya diatur senyaman mungkin untuk tidak mengganggu aktivitas,” tutur Kepala UPT, Friets D.B. Mone kepada VoxNtt.com.

Sarung motif NTT, menurut Friets memang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan itu terdapat pada motif-motif yang sudah ditata pada kain.

Maria Imelda sedang berpose di halaman rumah adat Ndona belum lama ini (Foto: DAAI TV)

Ia menyatakan, mayoritas motif-motif yang terdapat pada sarung tenun mencerminkan kehidupan leluhur pada dulu kala. Sehingga, para generasi NTT saat ini patut memberi apresiasi sebab sejarah leluhur dapat dipelajari melalui motif ini.

“Kita sedang melestarikan warisan leluhur. Kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi,” tutur Friets tersenyum.

Kala itu, Friets memang memakai sarung tenun Sabu saat bertugas di kantor. Ia mengaku bahagia dengan mengenakan busana daerahnya.

Friets menuturkan, surat edaran gubernur Victor B. Laiskodat yang mewajibkan ASN lingkup Pemrov NTT memakai sarung pada jam kerja, mendorongnya untuk mempromosikan warisan leluhur itu.

Menurutnya, gagasan itu penting agar masyakarat NTT menyadari betapa penting sarung tenun menjadi simbol jati diri orang NTT.

“Ini sebenarnya sedang menunjukan identitas kita orang NTT. Dan kita mestinya bangga karena warisan ini masih tertanam pada diri kita masing-masing,” katanya.

Dikutip dari berbagai sumber, gubernur Viktor telah mengeluarkan surat edaran pada Maret 2019.

Surat dengan nomor BO. 065 mengisi tentang penggunaan pakaian sarung tenun ikat motif daerah NTT bagi pegawai ASN pada lingkup Pemrov NTT. Sarung tenun akan dikenakan dua kali dalam sepekan yakni hari Selasa dan Jumat.

Adapun tujuan yang tertera dalam surat edaran tersebut diantaranya untuk melestarikan nilai-nilai budaya. Selain itu, untuk mendukung pariwisata serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui industri masyarakat.

Penenun asal Ndona sedang membuat motif (Foto: DAAI TV)

Gagasan Gubernur NTT mendapatkan apresiasi dari sejumlah penenun di Ende. Salah satunya ialah Maria Imelda, Ketua Kelompok Tenun Kale Tau Mbale, Desa Radaara, Kecamatan Ndona.

Imelda mengapresiasi gagasan ini karena membantu para penenun untuk lebih giat.

Sarung tenun ikat Ende siap digunakan (Foto: DAAI TV)

“Saya salut, dukungan yang memberi suport dan semangat untuk para pengrajin tenun ikat. Supaya tetap dan terus mempertahankan serta lebih kreatif lagi,” katanya terpisah.

Ia pun mengusulkan jika tenun ikat NTT lebih dikenal kalangan maka pemerintah mesti membuat event tenun ikat NTT. Event ini penting, jika dilakukan pada setiap kabupaten atau kota.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

https://www.youtube.com/watch?v=m07YkjJFceU

Ende
Previous Article12 Puskesmas di TTS Belum Terakreditasi, 6 Belum Punya dokter
Next Article Harga Bawang di Pasar Danga Sudah Turun

Related Posts

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026

Festival FEAST di Labuan Bajo Tampilkan Olahan Songkol dan Tapa Kolo

5 Mei 2026

STIPAR Ende Bekali Calon Wisudawan lewat Seminar Akademik

13 Februari 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.