:Para penari Likurai saat tampil di Istana Negara dalam Perayaan HUT RI ke-74 (Foto: Ist)

Atambua, Vox NTT-Tarian likurai asal kabupaten Belu terus diperkenalkan ke kancah lokal, nasional maupun internasional.

Tarian tradisional asal kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste ini terbukti memukau perhatian publik.

Dahulu, tarian ini dipentaskan untuk menjemput para pejuang atau pahlawan yang pulang dari medan perang.

Biasanya para penari terdiri dari pria dan wanita. Pria menggunakan pedang dan penari wanita dengan menggunakan gendang sebagai atribut menarinya.

Selain menggunakan pakaian adat Belu, salah satu kekhasan likurai terletak pada alat musik gendang yang dimainkan. Gendang ini berdiameter sekitar 10 cm dengan panjang sekitar 30 cm.

Ukurannya memang kecil dan tidak memiliki bunyi yang begitu besar. Namun apabila masing-masing penari memukulnya secara bersamaan dalam irama tertentu, bunyi genderang tarian likurai menggema serta menggetarkan emosi penonton.

Dari irama pukulan dan gerakan penarinya, tarian ini syarat dengan makna kegembiaraan.

Belakangan, tarian tradisional ini digunakan sebagai upacara untuk menyambut tamu sebagai wujud penghormatan dan ungkapan kegembiraan.

Saat ini tarian likurai jarang diminati. Remaja masa kini  cenderung menganggap tarian ini sebagai sesuatu yang klasik atau out of date.

Sadar akan fakta ini Pemerintah Kabupaten Belu meramu sebuah event tahunan yang dinamai Festival Fulan Fehan. Dalam Festival ini, ribuan remaja diajak untuk ikut tampil dalam tarian likurai kolosal di atas puncak bukit Fulan Fehan.

Berkat kegigihan pemerintah dan dukungan dari semua stakeholder, tahun 2018 sekelompok penari dari kabupaten Belu diundang untuk tampil dalam acara pembukaan Asian Games di Jakarta.

Tidak hanya itu, kabupaten yang saat ini dinakodahi Bupati Wilybrodus Lay ini terus memberikan perhatian terhadap tarian Likurai.

Keseriusan perhatian pemerintah pada tarian likurai dapat kembali terbukti pada peringatan HUT RI yang ke-74 tingkat kabupaten  Belu yang diselenggarakan di Atambua, Sabtu (17/08/2019) lalu.

Sebanyak 600 penari likurai yang berasal dari perwakilan pelajar dan mahasiswa terbaik se-Kabupaten Belu diberi kesempatan untuk tampil dalam acara hiburan usai Pengibaran Bendera Merah Putih di lapangan umum Atambua.

Para penari Likurasi ketika tampil di Atambua dengan formasi lima lingkaran (Foto:Ist)

Para penari menari dalam formasi lima lingkaran yang melambangkan Pancasila dan formasi angka 74 sebagai lambang tahun kemerdekaan RI yang ke-74.

Penampilan ratusan penari ini sontak menarik perhatian masyarakat umum yang berbondong-bondong memadati pinggir lapangan.

Keistimewaan tarian likuran dalam perayaan HUT RI ke-74 tidak hanya menggema di kabupaten Belu. Pada hari yang sama, 150 penari likurai mendapat kesempatan untuk mementaskan tarian itu di Instana Negara, Jakarta.

Setelah berlatih hampir enam bulan, 150 penari yang didampingi koreografis dari ISI Solo ini berhasil menghipnotis para tamu undangan yang hadir di istana negara.

Terhadap dua peristiwa akbar ini, Bupati Wily Lay mengaku bangga dan memberikan apresiasi.

Wily berharap, masyarakat terus mendukung pemerintah daerah untuk mempromosikan budaya lokal Belu agar semakin dikenal luas baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Kami minta masyarakat Belu tetap melestarikan tarian dan berbagai kesenian tradisional serta semua budaya Belu agar dunia luar semakin mengenal dan mencintai budaya Belu,” ujar Bupati Wily saat memberikan sambutan pada upacara bendera dalam rangka peringatan HUT RI ke-74 di Atambua, Sabtu (17/08/2019).

Penulis:Marcel Manek

Editor: Irvan K

alterntif text